Aku sering kali merasa bahwa
pintu hati ini sudah tertutup untuk laki-laki manapun, setelah hubunganku
dengan dia berakhir. Aku tak pernah bisa lagi merasakan bagaimana rasanya jatuh
cinta. Berkali-kali aku menjalin hubungan setelah dengan dia. Namun berkali-kali
pula aku gagal. Karena hati ini tak bisa untuk dipaksakan. Dan cara melupakan
bukan menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Hingga akhirnya aku berkenalan
dengan dia. Sosok laki-laki yang tak pernah ku jumpai sebelumnya. Sosok yang
tak pernah ku kenal sebelumnya. Sosok yang lebih dewasa tiga tahun diatasku.
Dan sosok yang membuatku nyaman saat kami sedang berbincang lewat telpon
genggam.
Perkenalan ini berawal saat
dia meminta contact person ku ke teman dekatku. Tepatnya tanggal sepuluh maret
dua ribu enam belas, awal kedekatan kami dimulai. Sejujurnya saat itu aku tak
ada niatan untuk membalas pesan dia. Aku berpikir, dia itu sama saja seperti
laki-laki modus yang sering aku jumpai. Dan rasanya aku malas jika harus
menanggapi pesannya itu. Namun temanku memberi saran padaku tak ada salahnya
jika aku membuka hati untuk yang lain. Dan jangan menganggap semua laki-laki
itu sama. Karena beda kepala, beda sifat. Apa yang dia bilang memang ada
benarnya. Mungkin selama ini pandanganku salah hingga membuatku merasa malas
untuk menjalin hubungan kembali. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang sudah
aku jutekan, atau dengan kata lain sudah aku usir secara halus. Dan karena
wejangan dari temanku, akhirnya aku beranikan diri untuk membuka hati kembali.
Aku akan mencoba memulai dari dia. Panggil saja dia tuan berkumis.
Hampir dua bulan kita dekat.
Dan dalam waktu sesingkat itu, dia sudah berhasil membuatku nyaman bersamanya.
Meski aku merasa ini merupakan hal teraneh yang pernah aku temui. Bagaimana
tidak. Aku dengannya belum pernah berjumpa secara langsung. Saat aku pulang
kemarinpun aku dengannya tak bisa untuk bertemu. Karena dia ada pekerjaan
diluar kota yang tak bisa untuk dia tinggalkan. Kami hanya pernah face time,
itu pun jarang. Karena jaringan ditempat yang sedang aku tinggali tak sebagus
ketika aku berada dirumah. Kami hanya sering chatting. Telponan pun kami
jarang. Hanya sekali dua kali dalam seminggu. Itu pun jika memang dia ingin
menelpon. Banyak hal yang kita bicarakan di telpon. Senda guraupun tak bisa
terlepas dari percakapan kita.
Aku bercerita tentang dia
kepada mamahku. Dan itu pertama kalinya aku bercerita tentang laki-laki kepada
mamah. Karena sebelumnya aku sangat dilarang untuk pacaran oleh kedua orang
tuaku. Selama aku pacaranpun aku tak pernah bercerita kepada orang tuaku. Bisa
dibilang backstreet. Pernah sekali ketika awal aku masuk kuliah, aku bertanya
kepada kedua orang tuaku apakah aku sudah diperbolehkan untuk pacaran. Namun
jawaban mereka tetap sama.
Entah ada angin apa, aku
coba beranikan diri untuk bercerita tentang dia dengan mamah. Sebelumnya aku
takut, aku takut jika mamah nantinya akan marah ketika aku bercerita, namun
nyatanya tidak. Mamah sangat merespon ceritaku. Bahkan bertanya secara detail
tentang dia. Dan sekali lagi aku bilang, ini aneh. Benar-benar aneh.
Aku merasa seperti bukan
diriku yang sebenarnya. Aku merasa ini bukan aku. Karena memang tak biasanya
aku seperti ini. Mudah luluh oleh laki-laki yang belum pernah kutemui.
Jika ditanya bagaimana
orangnya, aku hanya bisa menjawab "dia baik". Meski aku tau baik itu
relatif. Dimataku dia itu seperti sesosok kakak yang bertanggung jawab yang
melindungi adiknya dan tak ingin adiknya mengalami kejadian yang tidak dia
harapkan. Sejauh ini hanya itu penilaian yang bisa aku simpulkan. Aku berusaha
untuk senetral mungkin. Aku tak ingin berharap padanya. Karena aku tak ingin
termakan oleh kata-kata manisnya. Dan aku tak ingin dikecewakan lagi untuk
kesekian kalinya. Bukan, bukannya aku pecundang yang takut untuk kecewa. Bukan itu.
Aku hanya tak ingin membuat luka baru. Karena apa? Karena luka lamaku baru saja
sembuh. Dan untuk memulihkannya aku butuh waktu yang cukup lama.
Aku mengetahui bagaimana
pedihnya ketika kita berharap selain kepada sang pemilik hati. Dan aku tak
ingin mengulanginya kembali. Aku lebih baik berusaha keras untuk tidak
menanamkan harapan dalam hatiku. Karena semua ini masih semu.
Aku hanya ingin mengikuti
kemana arah angin bergerak. Menjalani apa yang ada didepan mata tanpa berharap
lebih. Berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik. Karena
tujuanku sekarang bukan mencari yang terbaik, namun menjadi yang terbaik.
Karena aku percaya janji Allah itu nyata. Yang baik akan bersama dengan yang
baik. Begitu juga sebaliknya. Yang buruk akan dengan yang buruk pula.
Bagaimana endingnya nanti
hanya Allah yang Maha Mengetahui. Rencananya, rencanaku tak ada yang sebaik
rencana Allah. Dan aku percaya apa yang Allah beri untukku itu merupakan yang
terbaik untukku. Kini biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku hanya bisa
berdoa semoga aku diberikan yang terbaik oleh-Nya.