Monday, May 2, 2016

Hal yang Tak Terduga (1)

Aku sering kali merasa bahwa pintu hati ini sudah tertutup untuk laki-laki manapun, setelah hubunganku dengan dia berakhir. Aku tak pernah bisa lagi merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Berkali-kali aku menjalin hubungan setelah dengan dia. Namun berkali-kali pula aku gagal. Karena hati ini tak bisa untuk dipaksakan. Dan cara melupakan bukan menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Hingga akhirnya aku berkenalan dengan dia. Sosok laki-laki yang tak pernah ku jumpai sebelumnya. Sosok yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Sosok yang lebih dewasa tiga tahun diatasku. Dan sosok yang membuatku nyaman saat kami sedang berbincang lewat telpon genggam.
Perkenalan ini berawal saat dia meminta contact person ku ke teman dekatku. Tepatnya tanggal sepuluh maret dua ribu enam belas, awal kedekatan kami dimulai. Sejujurnya saat itu aku tak ada niatan untuk membalas pesan dia. Aku berpikir, dia itu sama saja seperti laki-laki modus yang sering aku jumpai. Dan rasanya aku malas jika harus menanggapi pesannya itu. Namun temanku memberi saran padaku tak ada salahnya jika aku membuka hati untuk yang lain. Dan jangan menganggap semua laki-laki itu sama. Karena beda kepala, beda sifat. Apa yang dia bilang memang ada benarnya. Mungkin selama ini pandanganku salah hingga membuatku merasa malas untuk menjalin hubungan kembali. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang sudah aku jutekan, atau dengan kata lain sudah aku usir secara halus. Dan karena wejangan dari temanku, akhirnya aku beranikan diri untuk membuka hati kembali. Aku akan mencoba memulai dari dia. Panggil saja dia tuan berkumis.
Hampir dua bulan kita dekat. Dan dalam waktu sesingkat itu, dia sudah berhasil membuatku nyaman bersamanya. Meski aku merasa ini merupakan hal teraneh yang pernah aku temui. Bagaimana tidak. Aku dengannya belum pernah berjumpa secara langsung. Saat aku pulang kemarinpun aku dengannya tak bisa untuk bertemu. Karena dia ada pekerjaan diluar kota yang tak bisa untuk dia tinggalkan. Kami hanya pernah face time, itu pun jarang. Karena jaringan ditempat yang sedang aku tinggali tak sebagus ketika aku berada dirumah. Kami hanya sering chatting. Telponan pun kami jarang. Hanya sekali dua kali dalam seminggu. Itu pun jika memang dia ingin menelpon. Banyak hal yang kita bicarakan di telpon. Senda guraupun tak bisa terlepas dari percakapan kita.
Aku bercerita tentang dia kepada mamahku. Dan itu pertama kalinya aku bercerita tentang laki-laki kepada mamah. Karena sebelumnya aku sangat dilarang untuk pacaran oleh kedua orang tuaku. Selama aku pacaranpun aku tak pernah bercerita kepada orang tuaku. Bisa dibilang backstreet. Pernah sekali ketika awal aku masuk kuliah, aku bertanya kepada kedua orang tuaku apakah aku sudah diperbolehkan untuk pacaran. Namun jawaban mereka tetap sama.
Entah ada angin apa, aku coba beranikan diri untuk bercerita tentang dia dengan mamah. Sebelumnya aku takut, aku takut jika mamah nantinya akan marah ketika aku bercerita, namun nyatanya tidak. Mamah sangat merespon ceritaku. Bahkan bertanya secara detail tentang dia. Dan sekali lagi aku bilang, ini aneh. Benar-benar aneh.
Aku merasa seperti bukan diriku yang sebenarnya. Aku merasa ini bukan aku. Karena memang tak biasanya aku seperti ini. Mudah luluh oleh laki-laki yang belum pernah kutemui.
Jika ditanya bagaimana orangnya, aku hanya bisa menjawab "dia baik". Meski aku tau baik itu relatif. Dimataku dia itu seperti sesosok kakak yang bertanggung jawab yang melindungi adiknya dan tak ingin adiknya mengalami kejadian yang tidak dia harapkan. Sejauh ini hanya itu penilaian yang bisa aku simpulkan. Aku berusaha untuk senetral mungkin. Aku tak ingin berharap padanya. Karena aku tak ingin termakan oleh kata-kata manisnya. Dan aku tak ingin dikecewakan lagi untuk kesekian kalinya. Bukan, bukannya aku pecundang yang takut untuk kecewa. Bukan itu. Aku hanya tak ingin membuat luka baru. Karena apa? Karena luka lamaku baru saja sembuh. Dan untuk memulihkannya aku butuh waktu yang cukup lama.
Aku mengetahui bagaimana pedihnya ketika kita berharap selain kepada sang pemilik hati. Dan aku tak ingin mengulanginya kembali. Aku lebih baik berusaha keras untuk tidak menanamkan harapan dalam hatiku. Karena semua ini masih semu.
Aku hanya ingin mengikuti kemana arah angin bergerak. Menjalani apa yang ada didepan mata tanpa berharap lebih. Berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik. Karena tujuanku sekarang bukan mencari yang terbaik, namun menjadi yang terbaik. Karena aku percaya janji Allah itu nyata. Yang baik akan bersama dengan yang baik. Begitu juga sebaliknya. Yang buruk akan dengan yang buruk pula.
Bagaimana endingnya nanti hanya Allah yang Maha Mengetahui. Rencananya, rencanaku tak ada yang sebaik rencana Allah. Dan aku percaya apa yang Allah beri untukku itu merupakan yang terbaik untukku. Kini biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku hanya bisa berdoa semoga aku diberikan yang terbaik oleh-Nya.

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...