Assalamu’alaikum hey tuan manis,
apa kabar? Sudah sangat lama aku tidak mengirim surat untukmu. Maaf karena
kesibukan kuliahku membuat aku tak sempat untuk berbagi ceritaku melalui surat
ini. Mungkin kau tak akan mau mendengar alasannya, aku hanya ingin bercerita
saja tanpa bermaksud untuk menjelaskan sebuah alasan padamu.
Hey tuan manis, sudah dua tahun
lebih kita tidak berjumpa, untuk bertukar kabar pun sudah tidak pernah kita
lakukan lagi. Aku tidak menuntut, aku hanya menyayangkan mengapa hubungan baik
yang sudah kita bangun harus berakhir menjadi orang asing seperti ini. Tapi
setiap hari, dan dari tahun ke tahun doaku tetap sama, semoga dimana pun kamu
berada dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dilindungi oleh Tuhan. Bagiku
doa adalah langkah yang tepat ketika kita sedang merindukan seseorang.
Ada banyak cerita yang ingin aku
tulis disini, tapi tidak akan mungkin aku ceritakan saat ini juga. Aku tak
ingin kau bosan membacanya, sehingga membuat matamu sakit. Aku akan menceritakan
bagian terpenting dalam hidupku yang membuat aku banyak belajar dari hal
tersebut. Aku masih sama, masih berharap kau akan membaca surat ini diam-diam.
Dan berdoa semoga kau selama ini menantikan kabar dan surat dariku. Lagi lagi
aku terlalu percaya diri bukan? Aku harap kau dapat memakluminya.
Mungkin kau selama ini bertanya
apakah aku sudah berhasil melupakan dirimu atau tidak. Jawabannya adalah tidak.
Hingga aku menutup matapun aku tidak akan pernah berhasil untuk melupakan
dirimu. Hanya saja aku sudah berhasil mengikhlaskan apa yang sudah terjadi
antara kau dan aku. Membiarkan aku berdamai dengan diriku sendiri. Memaafkan
aku dan menerima segala ketetapan yang sudah Tuhan kasih. Aku sudah melepaskan
perasaan ini untuk terbang bebas diangkasa, dengan harapan jika dia kembali dia
akan membawa rasa yang baru. Rasa yang mampu menggantikan rasaku padamu, rasa
yang membuatku kembali nyaman dengan lawan jenisku. Kau tau? Aku berkali-kali
mencoba bertanya pada seseorang yang ahli bagaimana caranya agar aku bisa
melupakanmu. Dan jawaban merekapun sama. Aku tidak akan pernah bisa
melupakanmu, sebab kau sudah pernah hadir dalam hidupku mengukir cerita yang
tidak akan bisa aku dapatkan dari orang lain. Mereka memberiku saran agar aku
bisa lebih untuk mengikhlaskan segala jalan hidup yang sudah Tuhan beri padaku,
dan bisa memaafkan diriku sendiri. Awalnya sulit untukku. Aku selalu coba
mengalihkan pikiranku yang berawal dari ‘andai saja aku tidak mengakhiri
hubungan kita’ menjadi ‘cepat atau lambat jika memang kita tidak berjodoh kita
akan segera dipisahkan’, tetapi hal tersebut tidak mudah untuk aku lakukan.
Berkali-kali aku tanamkan pikiran itu hingga akhirnya aku berhasil menerapkan
pikiran itu kedalam kehidupanku ‘kelak jika memang kita berjodoh mau sejauh apapun
jarak memisahkan jika Tuhan sudah berkehendak kita akan bertemu kembali’. Tidak
mudah juga bagiku untuk bisa berdamai dengan diriku sendiri, memaafkan apa yang
sudah pernah terjadi yang tidak lain semua karena kesalahanku. Mungkin benar
kata orang, yang menjadi penyebab masalah adalah dirimu sendiri. Jika dari dulu
aku sudah bisa memaafkan diriku dan berdamai dengan diri ini mungkin aku tidak
akan bertahan dengan cinta sepihak ini untuk waktu enam tahun. Jangan tanya
kapan aku sudah berhasil mengikhlaskanmu, karena aku sendiripun tak tahu
jawabannya. Semua terjadi seiring berjalannya waktu.
Selama empat tahun aku merantau
untuk melanjutkan pendidikanku, aku sama sekali tidak berhasil membuka hati
untuk orang lain. Bukan karena aku ingin mendapatkan yang seperti dirimu,
tetapi karena aku yang belum siap untuk terluka kembali. Mungkin aku sudah
bercerita di surat sebelumnya bagaimana akhirnya aku dapat jatuh cinta kembali
hingga akhirnya aku kembali terluka. Luka akan masa itu yang membuat aku
semakin sulit untuk jatuh cinta dan membuka hati untuk orang lain. Aku pernah
menjalin hubungan dengan teman sekolah menengah atasku. Saat duduk dibangku
kelas sebelas, dia pernah mengutarakan perasaannya padaku, tetapi karena
beberapa alasan kita tidak dapat menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.
Kalau kau bertanya apakah aku menyayanginya? Jelas tidak. Aku hanya menyukainya
karena dia laki-laki berbudi pekerti yang baik, dan bertanggung jawab. Tapi
satu hal yang tidak pernah aku duga adalah ketika tiba-tiba dia mengutarakan
perasaannya kembali saat aku sudah duduk dibangku kuliah semester empat. Jangan
tanya bagaimana perasaanku, karena aku benar-benar terkejut. Aku sama sekali
tidak menduga jika dia masih menyimpan perasaannya untukku. Disatu sisi aku
bahagia karena masih ada orang yang tulus menyayangiku dari kejauhan, dan
menungguku untuk waktu yang cukup lama itu. Namun disatu sisi aku tidak tau apa
yang harus aku lakukan saat itu. Aku bimbang, karena jujur dari awal dia
mengutarakan perasaannya padaku aku tidak memiliki perasaan yang sama
dengannya. Hingga akhirnya aku berpikir mungkin dia yang dikirim Tuhan untuk
menggantikan posisimu dihati dan kehidupanku, dan aku pun bersedia untuk
menjadi kekasihnya. Namun hubungan kami hanya berjalan satu bulan saja. Alasannya
cukup aku dan dia yang tahu. Aku tidak marah apalagi menyesal telah
menerimanya. Karena aku dapat mengambil hikmahnya dari semua ini. Kembali Tuhan
mengingatkanku untuk beristirahat dari cinta yang salah.
Setelah dengannya hari-hariku
berjalan seperti biasa. Aku dengan aktivitas perkuliahan ku dengan segudang
tugas yang mengisi hari-hariku. Jangan tanya mengapa aku tidak mengikuti
organisasi di kampus, karena kau sudah tau jawabannya. Jika kau penasaran
apakah setelah itu aku pernah menjalin cinta kembali, jawabannya adalah tidak.
Memang ada beberapa orang yang mencoba mendekatiku, namun aku mengusirnya
dengan sikap dingin dan kejutekanku. Ada beberapa dari mereka yang lebih
memilih untuk langsung pergi, namun ada juga beberapa dari mereka yang memilih
untuk bertahan dan akhirnya memilih untuk pergi karena caraku yang menolak
pernyataan dari mereka. Aku tidak berniat untuk berbuat jahat pada mereka,
hanya saja aku ingin menjaga hatiku dari cinta yang salah, dari laki-laki
hidung belang yang hanya gemar memainkan perasaan wanita. Terlebih aku memiliki
trauma untuk membuka hati kembali akibat kejadian dimasa laluku. Mungkin bagimu
aku jahat, dan aku tidak berharap kau akan memahami perasaanku. Karena
bagaimana perasaanku, dan bagaimana traumaku biar aku dan Tuhan saja yang tahu.
Kau tau? Salah satu dari mereka
ada yang benar-benar berjuang untuk memenangkan hatiku. Hampir satu tahun dia
mencoba meruntuhkan dinding yang sudah ku bangun dan berusaha untuk bisa
mendapatkan hatiku. Berkali-kali aku menolaknya, bahkan mengusirnya untuk pergi
mencari yang lain. Namun berkali-kali juga dia menegaskan bahwa dia menyukaiku
dengan sifatku yang tegas, berprinsip, tidak mudah untuk tergoda dengan
laki-laki lain, dan segala keunikan ku yang sering membuat orang kesal ini. Aku
kagum dengan dia, tetapi hati ini tetap pada pendiriannya, belum ingin untuk
diganggu oleh siapapun. Aku pernah bercerita padanya tentang traumaku, karena
dia selalu bertanya apa yang membuat aku bisa sampai seteguh ini. Hingga
akhirnya aku mulai sedikit percaya jika dia adalah pria yang baik. Alasanku
untuk memulai mempercayainya adalah karena dia juga mempunyai trauma dimasa
lalunya. Hal tersebutlah yang membuat pandanganku terhadap dia berubah. Aku
percaya jika orang yang mempunyai masalalu yang menyakitkan dia tidak akan
pernah berani untuk menyakiti orang lain. Namun ternyata seiring berjalannya
waktu aku temukan dia sudah memiliki kekasih. Aku sedikit kecewa, karena
lagi-lagi kepercayaanku disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
Namun aku baik-baik saja. Kekecewaanku ini tidak berarti apa-apa dibandingkan
rasa kecewaku dahulu. Aku bersyukur karena kejadian ini. Kembali, aku banyak
mengambil pelajaran dan hikmah dari semua ini. Pelajaran hidup yang sangat
berharga.
Hey tuan manis, aku terlalu
banyak bercerita bukan? Maafkan diri ini yang tidak bisa berhenti untuk
bercerita padamu tentang bagaimana kehidupanku saat ini. Maaf karena aku masih
menulis surat untukmu, karena melalui surat ini aku masih merasa kau masih
menjadi bagian dalam kehidupanku. Aku hanya ingin menulis surat untukmu, kau
ingin membacanya atau tidak itu adalah hakmu. Aku tidak akan memaksanya. Tapi
tolong jangan memaksa aku untuk berhenti menulis surat untukmu, karena hanya
ini yang dapat aku lakukan untuk mengobati rasa rinduku padamu.
Sudah ya? Ku rasa hari ini sudah
cukup sampai disini. Aku akan melanjutkan kisahku setelah tanpamu di hari
berikutnya. Jaga kesehatanmu, dan jaga dirimu baik-baik.
Aku pamit ya tuan manis, tapi
pasti aku akan kembali.
Wassalam.
-NR-