dua tahun sudah aku menanti harapan yang tak pasti. berharap masa lalu ku dengan tuan berkulit hitam manis itu bisa diperbaiki dan terjalin kembali seperti dulu. namun sekarang aku sadar, menanti dua tahun itu sudah cukup untuk ku mendapat jawaban atas semua teka-teki yang masih sering aku pertanyakan. dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk ku bisa mencari jawaban atas semua pertanyaanku, pertanyaan apakah dia akan kembali untuk ku dan kita masih bisa hidup bersama untuk kesekian kalinya atau bahkan kitta memang tak ditakdirkan untuk bersama kembali? dan alhasil jawaban atas penantian panjang ku adalah aku dan dia si tuan berkulit hitam manis itu tak bisa lagi bersatu menjalin satu kisah dan melewati semuanya dengan bersama.
kenyataan yang sangat pahit untuk ku. untuk seseorang yang sudah menanti dan berharap semua itu bisa kembali seperti sedia kala namun nyatanya itu semua hanya sebuah angan yang tidak bisa untuk diwujudkan. tapi aku coba untuk bisa menerima kenyataan itu. karena aku yakin ini yang terbaik yang Allah kasih untuk ku. mungkin dengan cara menanti ini aku mulai sadar bahwa cinta itu tidak perlu dinanti ataupun ditunggu karena jika memang jodoh maka Allah akan mempertemukan dan menyatukan kembali kita dengan dia, tentunya melalui cara yang Allah ridhoi.
sebenarnya aku cukup senang dan mulai lega. karena walaupun hubunganku dengannya sebagai sepasang kekasih sudah berakhir namun tidak membuat jarak dan hubungan silaturahmi kami menjadi buruk. ya seperti yang aku kisahkan sebelumnya. aku dengan tuan manis ini kini menjadi sahabat yang baik. meski status kami berbeda dan kedekatan kami tak lagi sedekat seperti saat status kami menjadi sepasang kekasih namun kami masih bisa menjadi sahabat baik yang bisa saling bertukar pikiran.
awalnya aku berfikir, mungkin dengan cara aku dengan dia bersahabat karib bisa membuat rasa takut ku akan kehilangan dia menghilang. aku dulu sempat mempunyai rasa takut, takut kehilangan dia. aku takut dia menjelma menjadi sosok asing yang tak ku kenal. aku takut aku kehilangan perhatian dia. aku takut aku kehilangan kepedulian dia. aku takut aku tidak dijaga lagi oleh dia. aku takut kehilangan orang yang selalu membela ku mati-matian. aku takut kehilangan senyum manis dia yang mampu membuatku merasa senang dan nyaman. aku takut kehilangan sosok kaka,sahabat sekaligus pacar seperti dia. aku takut dia tak bisa meluangkan waktunya lagi untuk ku. aku takut akan semua itu. dan dulu aku sempat berfikir bagaimana jadinya aku kalo semua itu sampai terjadi didalam kehidupanku.
tapi ternyata semua pemikiranku akan hal itu salah. bersahabat dengan dia malah membuat aku semakin ketergantungan sama dia. dan malah membuatku semakin sulit untuk melupakan dia. melupakan semua kenangan kita berdua.
dan sekarang aku memutuskan untuk perlahan menjauh dari hidupnya. karena menurutku itu yang terbaik untuk aku dengan dia. karena aku tidak mau lagi bergantung sama dia. aku juga tidak mau lagi dijadikan kambing hitam yang dimanfaatkan oleh kekasih barunya untuk mengadu domba ku dengan dia. yang aku dengar sekarang dia sudah mempunyai kekasih baru. dan itu entah mengapa tidak membuatku cemburu tapi malah membuatku kecewa dan sakit hati. bukan kecewa dan sakit hati karena aku cemburu tapi karena dia lagi lagi tidak bisa konsisten dengan omongannya sendiri. atau bisa dibilang dia menjilat ludahnya sendiri. aku sempat ingat perkataan dia dulu, dia tidak ingin lagi menjalin hubungan pacaran dengan siapapun karena dia takut akan adzab Allah. dan dia juga sekarang ingin melakukan hubungan yang serius. bahkan omongannya dia waktu itu sempat membuat aku dan sahabatku percaya dengan semua kata-katanya. tapi kenyataannya.... lagi-lagi dia tidak bisa konsisten dengan ucapannya sendiri.
ini untuk ketiga kalinya aku melihat dia seperti itu. dan entah aku ini bodoh atau tidak aku baru menyadarinya setelah perbuatan diaa untuk yang ketiga kalinya. mungkin aku memang bodoh untuk kedua kalinya aku diperlakukan seperti itu aku masih percaya saja dengan dia. aku malah menyadarinya setelaah dia melakukan ini kembali untuk yang ketiga kalinya.
aku marah, aku kecewa tapi bukan karena dia memiliki kekasih baru kembali tapi karena diaa tak bisa konsisten dengan ucapannya sendiri. aku sadar aku memang tidak berhak untuk marah. karena itu hidup dia, dia berhak ingin melakukan apa saja sekalipun menyakiti banyak orang dengan cara tidak konsisten terhadap ucapannya sendiri. tapi aku juga sebagai manusia biasa aku berhak untuk sakit hati.
dan aku makin tersadar untuk segera bangkit saat kaka ku berkata "yang namanya orang kalo sudah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya pasti akan ada kesalahan ketiga keempat dan seterusnya,kecuali jika pada saat kesalahan pertama dia langsung menyadarinya dan tidak mengulanginya kembali baru dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama." aku berpikir sejenak, mencermati setiap kata yang kaka ku keluarkan. dan itu semakin membuatku semangat untuk bisa bangkit dari bayang-bayang dia.
sehari, dua hari, tiga hari, satu minggu, dua minggu, bahkan sebulan aku sudah berhasil untuk tidak menganggu kehidupan dia lagi. aku sudah bisa untuk tidak terbiasa menghubungi dia untuk sekedar ingin tahu seperti apa keadaannya dan untuk melepas rasa rindu ku kepada dia. aku sekarang sudah berhasil menetralisir perasaanku. menghilangkan perasaan ini secara perlahan. dan sekarang aku mulai terbiasa tanpa dia. tanpa sosok dia, tanpa perhatian dia dan tanpa bayang-bayang dia.
mungkin aku seperti ini karena rasa sakit hati dan kecewa ku melebihi rasa sayangku padanya. terlebih saat ini untuk yang ketiga kalinya dia membawakan masalah kedalam hidupku melewati kekasih barunya. aku dijadikan kambing hitam untuk yang ketiga kalinya oleh kekasihnya. entah apa tujuannya yang sampai sekarangpun aku masih tak mengerti. selama ini aku tak pernah mengusik dia lagi, bahkan untuk sekedar bermain dengan kekasihnya aku sudah tak pernah lagi, untuk mengetahui hubungan mereka berdua pun aku tidak pernah mau tau. karena aku sekarang sudah mulai TERBIASA hidup TANPA dia. dan dari awal hubunganku dengan dia berakhir, aku sudah merelakan dan mengikhlaskan dia. karena yang terpenting dihidupku adalah kebahagiaan orang yang aku cintai. jadi merusak kebahagiaan dia dengan kekasih barunya tak ada gunanya untuk ku. dan sama sekali tidak terlintas dipikiranku untuk melakukan hal terjahat sekaligus terkonyol untuk ku.
jujur aku memang sakit hati karena untuk yang ketiga kalinya aku diperlakukan seperti ini. karena ini semua akan membuat pandangan dia terhadapku semakin memburuk. sebenarnya aku tak masalah akan hal itu, karena bagiku penilaian orang tidak berpengaruh besar dikehidupanku. tapi ya namanya juga wanita, terkadang perasaannya suka risi jika ada hal yang menganggu kenyamanan hidupnya.
aku sangat ingin sekali merubah pandangan dia terhadapku. namun rasanya percuma saja. karena dia si tuan manis itu tak pernah mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. dia selalu hanya mendengarkan penjelasan dari kekasihnya. dan dari dulu sampai sekarangpun selalu seperti itu. dan aku hanya bisa terima tanpa bisa mengelak dan memprotes semua ini. karena memang itu hak dia untuk mau atau tidak mendengarkan penjelasanku, sekaligus untuk mendengarkan hanya dari satu pihak saja.
semua itu buatku tak menjadi masalah besar dalam hidupku. karena memang aku tidak salah jadi aku tak perlu khawatir akan hal yang tak sepatutnya aku takuti. aku masih punya Allah yang selalu tau akan kebenaran dan aku masih punya sahabat-sahabatku yang tak pernah berhenti mendukung ku serta membuatku tegar menghadapi berbagai masalah.
"dan untuk tuan manis yang dulu pernah mengisi hatiku. untuk kamu masa laluku. terimakasih untuk segalanya. untuk cinta yang pernah kamu kasih ke aku. untuk perhatian kamu dan kepeduliaan kamu yang dulu pernah kamu curahkan kepadaku. untuk semua luka yang sampai detik ini masih kamu kasih ke aku. untuk penilaian buruk kamu ke aku. sekarang aku sudah bahagia lepas dari bayang-bayang kamu. aku sudah tenang dan nyaman sudah mulai terbiasa tanpamu. dan aku mohon jangan datang lagi kedalam kehidupanku. dan jangan pernah membawa luka lagi masuk ke hidupku. jika kamu datang hanya membawa luka tanpa pelipurnya lebih baik kamu pergi jauh untuk selamanya dan jangan pernah datang lagi apalagi merusak kehidupan baruku saat ini. sekali lagi terimakasih banyak. tanpa kamu aku tidak akan bisa menjadi wanita tegar seperti ini."
-NR-