Tuesday, January 21, 2020

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...


Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa lain. Jika kau fikir itu untuk kebaikanku, kau salah. Nyatanya itu semakin membuat aku menyesal telah berani menciptakan suatu hal yang baru, yang tidak seharusnya ada. Aku sudah dapat hidup dengan baik. Kau tak perlu khawatir. Hatiku sudah ku tata dengan rapih seperti sedia kala. Tak ada lagi rasa. Tak ada lagi air mata. Apalagi melodi yang menghanyutkan. Waktuku untuk mencintaimu telah usai. Kenangan denganmu sudah ku simpan ditempat yang tak bisa dijangkau orang lain. Ku pastikan jika suatu saat nanti aku mengingatmu, aku takkan menangisi apa yang memang seharusnya terjadi. Tapi maaf, jika ingatan tentangmu belum sepenuhnya dapat ku hilangkan. Ku rasa itu wajar. Aku hanya manusia biasa yang punya segudang ingatan di otakku. Jadi setelah ku katakan ini, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?
Permintaanku sederhana. Bersikaplah sewajarnya seperti dahulu kala. Kau tak perlu menciptakan jarak hingga membuat semua menjadi semakin asing. Layaknya dua insan yang tidak pernah bertemu di dunia fana ini. Tanpa semua itu, bukankah jarak diantara kita sudah tercipta? Jika jarak sengaja kau ciptakan untuk sosok yang kini tengah menggantikan ku, bicaralah. Jika memang keinginanmu adalah aku menghilang darimu,  baiklah akan ku penuhi permintaanmu. Karena aku tau, pada akhirnya aku akan kembali kecewa, mengingat kau bukan seseorang yang dengan sengaja memutuskan tali silaturahmi. Namun fakta berkata lain, kau tak punya pilihan lain. Bukankah yang bisa ku lakukan saat ini adalah menghargai keputusanmu? Kau tak perlu risau. Aku takkan marah. Karena bagiku, bahagiamu adalah bahagiaku. Terdengar klasik memang tapi itulah adanya. Jangan khawatir, meski begitu aku akan tetap mendoakan yang terbaik untukmu. Terimakasih telah hadir dan mewarnai hidupku. Membuatku tersenyum dan menangis diwaktu yang sama. Menjadikanku sosok yang kuat seperti saat ini. Memori ingatan tentangmu akan ku simpan dengan baik, sebagai kenangan terindah dalam hidupku.



-NR-

Sunday, November 24, 2019

Suratku Masih Untukmu (14)


Assalamu’alaikum hey tuan manis, apa kabar? Sudah sangat lama aku tidak mengirim surat untukmu. Maaf karena kesibukan kuliahku membuat aku tak sempat untuk berbagi ceritaku melalui surat ini. Mungkin kau tak akan mau mendengar alasannya, aku hanya ingin bercerita saja tanpa bermaksud untuk menjelaskan sebuah alasan padamu.
Hey tuan manis, sudah dua tahun lebih kita tidak berjumpa, untuk bertukar kabar pun sudah tidak pernah kita lakukan lagi. Aku tidak menuntut, aku hanya menyayangkan mengapa hubungan baik yang sudah kita bangun harus berakhir menjadi orang asing seperti ini. Tapi setiap hari, dan dari tahun ke tahun doaku tetap sama, semoga dimana pun kamu berada dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dilindungi oleh Tuhan. Bagiku doa adalah langkah yang tepat ketika kita sedang merindukan seseorang.
Ada banyak cerita yang ingin aku tulis disini, tapi tidak akan mungkin aku ceritakan saat ini juga. Aku tak ingin kau bosan membacanya, sehingga membuat matamu sakit. Aku akan menceritakan bagian terpenting dalam hidupku yang membuat aku banyak belajar dari hal tersebut. Aku masih sama, masih berharap kau akan membaca surat ini diam-diam. Dan berdoa semoga kau selama ini menantikan kabar dan surat dariku. Lagi lagi aku terlalu percaya diri bukan? Aku harap kau dapat memakluminya.
Mungkin kau selama ini bertanya apakah aku sudah berhasil melupakan dirimu atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Hingga aku menutup matapun aku tidak akan pernah berhasil untuk melupakan dirimu. Hanya saja aku sudah berhasil mengikhlaskan apa yang sudah terjadi antara kau dan aku. Membiarkan aku berdamai dengan diriku sendiri. Memaafkan aku dan menerima segala ketetapan yang sudah Tuhan kasih. Aku sudah melepaskan perasaan ini untuk terbang bebas diangkasa, dengan harapan jika dia kembali dia akan membawa rasa yang baru. Rasa yang mampu menggantikan rasaku padamu, rasa yang membuatku kembali nyaman dengan lawan jenisku. Kau tau? Aku berkali-kali mencoba bertanya pada seseorang yang ahli bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu. Dan jawaban merekapun sama. Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, sebab kau sudah pernah hadir dalam hidupku mengukir cerita yang tidak akan bisa aku dapatkan dari orang lain. Mereka memberiku saran agar aku bisa lebih untuk mengikhlaskan segala jalan hidup yang sudah Tuhan beri padaku, dan bisa memaafkan diriku sendiri. Awalnya sulit untukku. Aku selalu coba mengalihkan pikiranku yang berawal dari ‘andai saja aku tidak mengakhiri hubungan kita’ menjadi ‘cepat atau lambat jika memang kita tidak berjodoh kita akan segera dipisahkan’, tetapi hal tersebut tidak mudah untuk aku lakukan. Berkali-kali aku tanamkan pikiran itu hingga akhirnya aku berhasil menerapkan pikiran itu kedalam kehidupanku ‘kelak jika memang kita berjodoh mau sejauh apapun jarak memisahkan jika Tuhan sudah berkehendak kita akan bertemu kembali’. Tidak mudah juga bagiku untuk bisa berdamai dengan diriku sendiri, memaafkan apa yang sudah pernah terjadi yang tidak lain semua karena kesalahanku. Mungkin benar kata orang, yang menjadi penyebab masalah adalah dirimu sendiri. Jika dari dulu aku sudah bisa memaafkan diriku dan berdamai dengan diri ini mungkin aku tidak akan bertahan dengan cinta sepihak ini untuk waktu enam tahun. Jangan tanya kapan aku sudah berhasil mengikhlaskanmu, karena aku sendiripun tak tahu jawabannya. Semua terjadi seiring berjalannya waktu.
Selama empat tahun aku merantau untuk melanjutkan pendidikanku, aku sama sekali tidak berhasil membuka hati untuk orang lain. Bukan karena aku ingin mendapatkan yang seperti dirimu, tetapi karena aku yang belum siap untuk terluka kembali. Mungkin aku sudah bercerita di surat sebelumnya bagaimana akhirnya aku dapat jatuh cinta kembali hingga akhirnya aku kembali terluka. Luka akan masa itu yang membuat aku semakin sulit untuk jatuh cinta dan membuka hati untuk orang lain. Aku pernah menjalin hubungan dengan teman sekolah menengah atasku. Saat duduk dibangku kelas sebelas, dia pernah mengutarakan perasaannya padaku, tetapi karena beberapa alasan kita tidak dapat menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Kalau kau bertanya apakah aku menyayanginya? Jelas tidak. Aku hanya menyukainya karena dia laki-laki berbudi pekerti yang baik, dan bertanggung jawab. Tapi satu hal yang tidak pernah aku duga adalah ketika tiba-tiba dia mengutarakan perasaannya kembali saat aku sudah duduk dibangku kuliah semester empat. Jangan tanya bagaimana perasaanku, karena aku benar-benar terkejut. Aku sama sekali tidak menduga jika dia masih menyimpan perasaannya untukku. Disatu sisi aku bahagia karena masih ada orang yang tulus menyayangiku dari kejauhan, dan menungguku untuk waktu yang cukup lama itu. Namun disatu sisi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku bimbang, karena jujur dari awal dia mengutarakan perasaannya padaku aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Hingga akhirnya aku berpikir mungkin dia yang dikirim Tuhan untuk menggantikan posisimu dihati dan kehidupanku, dan aku pun bersedia untuk menjadi kekasihnya. Namun hubungan kami hanya berjalan satu bulan saja. Alasannya cukup aku dan dia yang tahu. Aku tidak marah apalagi menyesal telah menerimanya. Karena aku dapat mengambil hikmahnya dari semua ini. Kembali Tuhan mengingatkanku untuk beristirahat dari cinta yang salah.
Setelah dengannya hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku dengan aktivitas perkuliahan ku dengan segudang tugas yang mengisi hari-hariku. Jangan tanya mengapa aku tidak mengikuti organisasi di kampus, karena kau sudah tau jawabannya. Jika kau penasaran apakah setelah itu aku pernah menjalin cinta kembali, jawabannya adalah tidak. Memang ada beberapa orang yang mencoba mendekatiku, namun aku mengusirnya dengan sikap dingin dan kejutekanku. Ada beberapa dari mereka yang lebih memilih untuk langsung pergi, namun ada juga beberapa dari mereka yang memilih untuk bertahan dan akhirnya memilih untuk pergi karena caraku yang menolak pernyataan dari mereka. Aku tidak berniat untuk berbuat jahat pada mereka, hanya saja aku ingin menjaga hatiku dari cinta yang salah, dari laki-laki hidung belang yang hanya gemar memainkan perasaan wanita. Terlebih aku memiliki trauma untuk membuka hati kembali akibat kejadian dimasa laluku. Mungkin bagimu aku jahat, dan aku tidak berharap kau akan memahami perasaanku. Karena bagaimana perasaanku, dan bagaimana traumaku biar aku dan Tuhan saja yang tahu.
Kau tau? Salah satu dari mereka ada yang benar-benar berjuang untuk memenangkan hatiku. Hampir satu tahun dia mencoba meruntuhkan dinding yang sudah ku bangun dan berusaha untuk bisa mendapatkan hatiku. Berkali-kali aku menolaknya, bahkan mengusirnya untuk pergi mencari yang lain. Namun berkali-kali juga dia menegaskan bahwa dia menyukaiku dengan sifatku yang tegas, berprinsip, tidak mudah untuk tergoda dengan laki-laki lain, dan segala keunikan ku yang sering membuat orang kesal ini. Aku kagum dengan dia, tetapi hati ini tetap pada pendiriannya, belum ingin untuk diganggu oleh siapapun. Aku pernah bercerita padanya tentang traumaku, karena dia selalu bertanya apa yang membuat aku bisa sampai seteguh ini. Hingga akhirnya aku mulai sedikit percaya jika dia adalah pria yang baik. Alasanku untuk memulai mempercayainya adalah karena dia juga mempunyai trauma dimasa lalunya. Hal tersebutlah yang membuat pandanganku terhadap dia berubah. Aku percaya jika orang yang mempunyai masalalu yang menyakitkan dia tidak akan pernah berani untuk menyakiti orang lain. Namun ternyata seiring berjalannya waktu aku temukan dia sudah memiliki kekasih. Aku sedikit kecewa, karena lagi-lagi kepercayaanku disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun aku baik-baik saja. Kekecewaanku ini tidak berarti apa-apa dibandingkan rasa kecewaku dahulu. Aku bersyukur karena kejadian ini. Kembali, aku banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari semua ini. Pelajaran hidup yang sangat berharga.
Hey tuan manis, aku terlalu banyak bercerita bukan? Maafkan diri ini yang tidak bisa berhenti untuk bercerita padamu tentang bagaimana kehidupanku saat ini. Maaf karena aku masih menulis surat untukmu, karena melalui surat ini aku masih merasa kau masih menjadi bagian dalam kehidupanku. Aku hanya ingin menulis surat untukmu, kau ingin membacanya atau tidak itu adalah hakmu. Aku tidak akan memaksanya. Tapi tolong jangan memaksa aku untuk berhenti menulis surat untukmu, karena hanya ini yang dapat aku lakukan untuk mengobati rasa rinduku padamu.
Sudah ya? Ku rasa hari ini sudah cukup sampai disini. Aku akan melanjutkan kisahku setelah tanpamu di hari berikutnya. Jaga kesehatanmu, dan jaga dirimu baik-baik.
Aku pamit ya tuan manis, tapi pasti aku akan kembali.
Wassalam.



-NR-


Thursday, September 27, 2018

Untukmu, tangan tak bertuan...


Banyak yang ingin ku katakan padamu
Tentang pertemuan kita,
Tentang aku yang melihatmu untuk pertama kali,
Tentang aku yang diam-diam memperhatikanmu,
Tentang aku yang mulai mengenal dirimu
Dan tentang perasaanku yang tak bisa aku tebak

Hai tangan tak bertuan...
Melihatmu untuk pertama kalinya,
Kau seperti memiliki magnet tersendiri yang membuatku ingin terus melihatmu
Yang terus membuatku diam-diam selalu memperhatikanmu
Kau mungkin tak tau, bagaimana senangnya hatiku ketika dapat menatapmu lebih lama
Ketika berada didekatmu,
Dan ketika berbincang denganmu
Semua itu membuatku senang
Entahlah, bisa ku sebut apa perasaan ini

Hai tangan tak bertuan,
Kau tau betapa mudahnya kau goyahkan hati ini?
Ketika mereka mencoba mencairkan kerasnya hati ini, namun kau...
Kau begitu dengan mudah dapat meruntuhkannya
Hal yang membuatku bertanya-tanya hingga detik ini
Kau siapa? Kau datang darimana?

Ya,
Terhitung dari hari itu, aku mulai jatuh hati padamu
Pada sosok yang baru kenal, dan tak tau bagaimana pribadinya
Kau tau?
Ingin rasanya aku marah
Marah pada diriku sendiri
Mengapa dengan mudahnya aku jatuh hati padamu
Pada sosok asing yang aku sendiri tak tau bagaimana kehidupannya

Hai tangan tak bertuan...
Berkali-kali aku mencoba mengelak akan perasaan ini
Namun, saat itu juga aku gagal
Aku ingin menghentikannya, ingin sekali
Kau tau kenapa?
Karena aku takut kecewa
Aku takut terluka dengan perasaanku sendiri
Luka lamaku belum sembuh
Dan aku tak ingin ada luka baru

 Hai tangan tak bertuan...
Siapa yang tau pada siapa kita akan menjatuhkan hati
Aku tau, ini bukan salahku
Ini bukan karena aku yang tak bisa menjaga hati
Bukan karenamu pula aku jatuh hati padamu
Semua sudah diatur  oleh Tuhan bukan?
Pertemuan kita,
Perasaanku,
Bahkan perpisahan kita

Untukmu tangan tak bertuan...
Terimakasih telah hadir dalam hidupku, meski hanya sekejap
Terimakasih telah membuatku mengenal cinta kembali, meski tak terbalas
Terimakasih telah mempercayaiku mendengar keluh kesahmu, meski menyakitkan
Terimakasih untuk setiap obrolan yang selalu membuat aku tertawa kecil,
Terimakasih telah membuatku tersenyum ketika membaca isi pesan darimu,
Terimakasih telah membuatku kesal akan semua ejekkanmu
Dan terimakasih untuk semuanya

Hai tangan tak bertuan...
Tiga puluh hari yang berkesan
Tiga puluh hari yang tak bisa aku lupakan
Karena mu,
Hatiku kini tak lagi mati rasa
Meski pada akhirnya aku harus kembali belajar mengikhlaskan
Hal yang paling ku benci didunia ini,
Namun beginilah takdir membawaku
Sakit? Tentu
Di awal memang terasa berat dan tentunya tak mudah untuk aku lakukan
Namun ku yakin ini pasti akan berakhir
Siklus kehidupan akan selalu seperti ini bukan?
Kita akan terus dikecewakan oleh harapan yang kita buat sendiri
Hati ini akan selalu dipatahkan oleh orang yang salah
Sampai saatnya nanti kita akan bertemu dengan orang yang tepat
Tentunya di waktu yang tepat

Hai tangan tak bertuan...
Aku pamit
Izinkan aku menghilang dari peredaran untuk bisa memulihkan hatiku
Semoga kau dapat menjadi sosok yang lebih tegas
Yang dapat menentukan pilihan untuk hidup sendiri
Jaga dirimu, sebagaimana kau menjaga ibadahmu
Semoga dilain waktu, aku dapat melihatmu kembali
Tentunya dengan hati yang baru


-NR-

Sunday, February 19, 2017

Kalo aku tak rindu aku bohong
Tapi sekali lagi aku bisa apa?
Mengembalikan bulan untukmu saja aku tak bisa..
Apalagi jika harus mengulang kembali waktu
Lantas siapa yg harus dipersalahkan atas semua ini? Aku?
Tuhan?
Dia?
Atau mereka?
Orang baru yg telah membuat kita sulit untuk menggapai satu sama lain
Atau keegoisan kita yg masih tinggi?
Atau gengsi kita yg semakin tak terkendali?
Menunggu apa sebenarnya kita selama ini?
Menunggu semua semakin beda?
Hingga terasa semakin asing
Layaknya insan yg bertegur sapa hanya sekali
Atau menunggu satu per satu hilang
Hingga tak bisa untuk kita lihat lagi
Selain hanya doa yg bisa kita panjatkan
Makhluk seperti apa kita ini?
Mengapa kita tak sadar jika kita sedang dipermainkan oleh jarak?
Aku yakin saat ini ia sedang menertawakan kita
Ya aku yakin...
Karena jarak yg memisahkan kita
Dan dia bahagia jika kita benar-benar terpisah
Hey kawan..
Kapan engkau sadar bahwa disini ada orang yg ingin engkau lihat?
Lirik aku!
Meski hanya sekejap
Tapi setidaknya kau masih menganggapku ada
Sungguh itu jauh lebih baik untukku
Namun jika aku boleh pinta,
Kunjungi aku sebentar saja
Aku takkan meminta waktu banyak darimu
Aku hanya ingin engkau ada disini bersamaku
Duduk mengenang indahnya kebersamaan
Yaa kebersamaan yg pernah kita ciptakan dulu
Kebersamaan yg menuai kebahagiaan
Hingga akhirnya kau sadar,
Betapa bahagianya saat kita bersama
Berbagi kasih dan cerita
Antara aku, kau dan mereka
Sungguh indah bukan kala itu?
Kebahagiaan yg sangat sederhana
Namun sulit untuk terlupakan
Sadarkah kau akan itu?
Maaf bukannya aku ingin kembali ke masalalu
Bukan juga aku dibuat baper oleh masalalu
Aku hanya tengah merindukan masa itu
Apakah salah aku merindukan kebersamaan kita?
Mengharapkan agar semuanya kembali seperti dulu
Ah ayolah kawan, apakah kau tak merindukan kami?
Apakah tak ada sedikit rindu itu untuk kami?
Tenanglah..
Aku tak memintamu untuk kembali
Aku hanya ingin kau dapat mengingat semuanya dengan baik
Hingga akhirnya kau sadar,
Bahwa yg tersulit adalah mempertahankan
Dan yg paling mudah adalah meninggalkan
Sadarlah..
Jangan kau rasa aku tak peduli lagi padamu
Jika kau berpikir seperti itu,
Kau salah besar!
Karena yg sesungguhnya terjadi
Aku sedang gencarnya berdoa agar suatu hari nanti kau tersadar
Bahwa disini ada yg tengah menantimu
Berharap kau tau
Namun sekali lagi aku bisa apa?
Semoga Tuhan senantiasa selalu menjaga kita


-Dari seseorang yg merindukan masalalu-

Monday, October 24, 2016

Sepucuk surat kecil untukmu...

Hai selamat malam tuan. Bagaimana kabarmu saat ini? Mungkin aku tidak tau dan tidak akan pernah tau lagi akan keadaanmu. Namun aku selalu berdoa pada Tuhan semoga kau selalu diberi kesehatan dan selalu berada dalam lindungan-Nya.
Benar atau tidaknya kamu sudah memiliki kekasih, aku sudah tidak mau tau lagi. Dan aku tidak ingin peduli lagi. Bagiku semuanya tidak penting. Sebab semuanya tidak akan berpengaruh pada kehidupanku. Terlepas dari itu, jika benar nyatanya, aku berdoa agar kau dengannya selalu diberi kebahagiaan, dan kalian mampu menghadapi seberat apapun rintangan yang akan datang menerpa hubungan kalian hingga akhirnya kau dengannya dapat dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Aku bukan munafik. Tapi ini adalah doa yang benar-benar tulus dari hati.
Saat ini aku sadar. Aku hanyalah orang baru yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupanmu karena kau undang. Aku sadar aku tak pernah penting bagimu. Dan aku sadar aku tak berarti apa-apa dibandingkan dengan dia, seseorang yang sudah mengenalmu lebih lama dariku.
Maaf, kepergianku bukanlah hal yang aku lakukan dengan sengaja. Namun keadaan yang memaksaku untuk perlahan menjauh dan pergi meninggalkanmu. Saat ini, menjauh darimu adalah pilihan terbaik untukku. Pilihan yang aku ambil karena aku tak ingin terluka kembali. Kau boleh menilaiku seperti anak kecil yang marah karena permintaannya tak kau turuti. Kau boleh menilai tentang diriku apa saja sesuka yang kau mau. Tapi satu hal yang perlu kau tau, bukan tanpa alasan aku menjauh darimu.
Kau tau? Aku hanya membutuhkan waktu sekejap untuk menyayangimu. Tapi aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melupakanmu. Itulah mengapa aku ingin pergi meninggalkanmu.
Jika aku boleh jujur, aku tak ingin menjauh darimu. Aku ingin selalu ada disampingmu. Aku ingin selalu bersamamu. Namun aku tak ingin tetap berada didekatmu karena itu akan membuat perasaanku padamu semakin dalam, yang nantinya akan membuatku semakin sulit untuk keluar dari bayang-bayangmu. Aku tak ingin terpuruk kembali dalam waktu yang lama. Aku tak ingin terlambat kembali untuk menyadarinya. Sudah cukup pengalaman bodohku dimasalalu saja, jangan sampai untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang serupa. Sudah cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini.
Maaf aku memilih pergi tanpa pamit terlebih dahulu padamu. Maaf jika memang sikapku ini kekanak-kanakan. Aku hanya ingin bahagia. Kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan orang yang aku cintai.  Aku harap kau dapat memahaminya.
Ketahuilah, bagiku pun ini semua tak mudah. Aku harus kembali terbiasa hidup tanpa orang yang selalu menemani hari-hariku. Terlebih aku harus bangkit kembali setelah aku baru merasakan udara bebas. Kau mungkin tak akan pernah tau apa yang aku rasakan. Bagaimana traumaku. Dan bagaimana caranya hingga aku bisa seperti sekarang. Kau memahimanya saja sudah lebih dari cukup bagiku.
Berbahagialah....
Aku pamit. Terimakasih atas tujuh bulannya. Meski hanya sekejap namun kehadiranmu sudah mampu memberikan perubahan dalam hidupku. Aku pun banyak belajar darimu. Dan terimakasih atas kekecewaan yang telah kau beri. Darimulah aku belajar untuk tidak mudah percaya pada seseorang yang baru kukenal.
Semoga kau bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dari umurmu. Dan semoga kau lebih dapat bersikap sebagaimana mestinya, Jangan sibuk menebar pesona, karena itu hanya akan membuat dosamu semakin banyak. Kau tau? Satu tetes airmata yang keluar untukmu adalah satu percikan api neraka untukmu.
Aku akan selalu merindukanmu.


-NR-

Tuesday, October 11, 2016

Siapa kau?

Mencintaimu adalah sebuah anugerah
Meski pada akhirnya aku yang terluka dengan harapan yang sudah aku bangun
Mungkin salahku terlalu menggantungkan harapanku padamu
Hingga aku lupa ada Tuhan yang maha membolak balikan hati seseorang
Namun siapa kau sebenarnya?
Kehadiranmu merubah segalanya
Semua yang sudah ku pertahankan goyah begitu saja
Kau mampu membuatku membuka hatiku kembali dalam sekejap
Pertemuan yang singkat itu,
Mampu membuatku jatuh hati pada pandangan pertama
Awan hitam yang selalu menemaniku,
Mampu kau gantikan dengan pelangi nan indah
Tawa lepas yang pernah hilang dariku
Mampu kau hadirkan kembali
Aku bahagia sejak kau masuk dalam hidupku
Karenamu aku dapat tertawa lepas
Merasa seperti orang yang paling beruntung karena mempunyaimu
Namun karenamu juga aku dapat mengenal luka kembali
Luka yang kau bawa setelah kebahagiaan yang kau berikan
Siapa kau sebenarnya?
Mengapa kau hadir untuk membawa kebahagiaan sekaligus luka yang baru untukku?
Tak bisa kah kau mengerti bahwa aku baru sembuh dari luka lamaku
Tak bisa kah kau mengerti bahwa aku baru dapat merasakan cinta kembali setelah mengenalmu
Salahku memang, begitu mudah percaya denganmu yang baru ku kenal
Namun aku yakin didunia ini tak ada yang kebetulan
Semua sudah diatur, termasuk pertemuan kita
Pertemuan singkat yang berujung dengan luka
Terimakasih..
Hanya itu yang ingin aku ucapkan saat ini.


-NR-

Ku titipkanmu lewat sebait doa...

Aku menyayangimu
Biarlah perasaan ini menjadi urusanku
Bagaimana perasaanmu, biarlah itu menjadi urusanmu
Aku tak ingin tau karena aku tak membutuhkan itu
Biarlah cinta dalam diam ini hanya aku dan Tuhan yang tau
Aku lebih baik menyalurkan rasaku lewat sebait doa
Karena doa adalah hal yang paling mujarab ketika seseorang lebih memilih diam dalam cintanya
Begitupun ketika aku tengah merindukanmu
Aku selalu menyalurkannya lewat seuntaian doa
Meski aku tau, hal yang paling mujarab ketika rindu tengah melanda adalah sebuah pertemuan
Kepada sang pemilik hati aku serahkan semua perasaan ini pada-Nya
Jika memang cinta dalam diam adalah hal terbaik untuk menjagaku
Maka biarkanlah cinta ini tetap dalam tempatnya
Jangan biarkan aku menggantungkan harapanku padanya
Kepada seseorang yang belum tentu menjadi jodohku
Meski sejujurnya aku menyimpan sedikit harapanku padanya
Namun aku sadar berharap padanya hanya akan membuatku kecewa
Karena tempat menggantungkan harapan yang paling indah adalah pada-Mu
Kepada sang pemilik hati yang maha membolak-balikan hati manusia
Karena Engkau tak akan mengecewakan umat-Mu
Ku titipkanmu lewat sebait doa..
Agar kau selalu berada dalam lindungan-Nya
Agar segala urusanmu dipermudah oleh-Nya
Agar kau selalu diberi kesehatan oleh-Nya
Hingga akhirnya kau dapat dipertemukan dengan jodohmu
Seseorang yang akan mencintaimu melebihi rasaku padamu
Agar kau dapat segera bersanding dengannya
Seseorang yang telah Tuhan tetapkan untuk menjadi teman hidupmu
Menjalin bahtra rumah tangga menuju surga-Nya
Aku tak akan mungkin bisa untuk menjagamu
Karena itu bukan tugasku
Tugasku saat ini hanyalah mendoakanmu dari kejauhan
Karena itu caraku mencintaimu dalam diamku
Bagaimana nantinya perasaanku padamu, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan
Aku percaya Dia akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya
Ku titipkanmu lewat sebait doa adalah cara sederhanaku untuk bahagia


-NR-

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...