Hai selamat malam tuan. Bagaimana kabarmu saat ini?
Mungkin aku tidak tau dan tidak akan pernah tau lagi akan keadaanmu. Namun aku
selalu berdoa pada Tuhan semoga kau selalu diberi kesehatan dan selalu berada
dalam lindungan-Nya.
Benar atau tidaknya kamu sudah memiliki kekasih, aku
sudah tidak mau tau lagi. Dan aku tidak ingin peduli lagi. Bagiku semuanya
tidak penting. Sebab semuanya tidak akan berpengaruh pada kehidupanku. Terlepas
dari itu, jika benar nyatanya, aku berdoa agar kau dengannya selalu diberi
kebahagiaan, dan kalian mampu menghadapi seberat apapun rintangan yang akan
datang menerpa hubungan kalian hingga akhirnya kau dengannya dapat dipersatukan
dalam ikatan suci pernikahan. Aku bukan munafik. Tapi ini adalah doa yang
benar-benar tulus dari hati.
Saat ini aku sadar. Aku hanyalah orang baru yang
tiba-tiba masuk kedalam kehidupanmu karena kau undang. Aku sadar aku tak pernah
penting bagimu. Dan aku sadar aku tak berarti apa-apa dibandingkan dengan dia,
seseorang yang sudah mengenalmu lebih lama dariku.
Maaf, kepergianku bukanlah hal yang aku lakukan dengan
sengaja. Namun keadaan yang memaksaku untuk perlahan menjauh dan pergi
meninggalkanmu. Saat ini, menjauh darimu adalah pilihan terbaik untukku.
Pilihan yang aku ambil karena aku tak ingin terluka kembali. Kau boleh
menilaiku seperti anak kecil yang marah karena permintaannya tak kau turuti.
Kau boleh menilai tentang diriku apa saja sesuka yang kau mau. Tapi satu hal
yang perlu kau tau, bukan tanpa alasan aku menjauh darimu.
Kau tau? Aku hanya membutuhkan waktu sekejap untuk
menyayangimu. Tapi aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melupakanmu.
Itulah mengapa aku ingin pergi meninggalkanmu.
Jika aku boleh jujur, aku tak ingin menjauh darimu. Aku
ingin selalu ada disampingmu. Aku ingin selalu bersamamu. Namun aku tak ingin
tetap berada didekatmu karena itu akan membuat perasaanku padamu semakin dalam,
yang nantinya akan membuatku semakin sulit untuk keluar dari bayang-bayangmu.
Aku tak ingin terpuruk kembali dalam waktu yang lama. Aku tak ingin terlambat
kembali untuk menyadarinya. Sudah cukup pengalaman bodohku dimasalalu saja,
jangan sampai untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang serupa. Sudah cukup.
Aku sudah lelah dengan semua ini.
Maaf aku memilih pergi tanpa pamit terlebih dahulu padamu.
Maaf jika memang sikapku ini kekanak-kanakan. Aku hanya ingin bahagia. Kembali
merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan orang yang aku cintai. Aku harap kau dapat memahaminya.
Ketahuilah, bagiku pun ini semua tak mudah. Aku harus
kembali terbiasa hidup tanpa orang yang selalu menemani hari-hariku. Terlebih
aku harus bangkit kembali setelah aku baru merasakan udara bebas. Kau mungkin
tak akan pernah tau apa yang aku rasakan. Bagaimana traumaku. Dan bagaimana
caranya hingga aku bisa seperti sekarang. Kau memahimanya saja sudah lebih dari
cukup bagiku.
Berbahagialah....
Aku pamit. Terimakasih atas tujuh bulannya. Meski hanya
sekejap namun kehadiranmu sudah mampu memberikan perubahan dalam hidupku. Aku
pun banyak belajar darimu. Dan terimakasih atas kekecewaan yang telah kau beri.
Darimulah aku belajar untuk tidak mudah percaya pada seseorang yang baru
kukenal.
Semoga kau bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dari
umurmu. Dan semoga kau lebih dapat bersikap sebagaimana mestinya, Jangan sibuk
menebar pesona, karena itu hanya akan membuat dosamu semakin banyak. Kau tau?
Satu tetes airmata yang keluar untukmu adalah satu percikan api neraka untukmu.
Aku akan selalu merindukanmu.
-NR-
No comments:
Post a Comment