Monday, October 24, 2016

Sepucuk surat kecil untukmu...

Hai selamat malam tuan. Bagaimana kabarmu saat ini? Mungkin aku tidak tau dan tidak akan pernah tau lagi akan keadaanmu. Namun aku selalu berdoa pada Tuhan semoga kau selalu diberi kesehatan dan selalu berada dalam lindungan-Nya.
Benar atau tidaknya kamu sudah memiliki kekasih, aku sudah tidak mau tau lagi. Dan aku tidak ingin peduli lagi. Bagiku semuanya tidak penting. Sebab semuanya tidak akan berpengaruh pada kehidupanku. Terlepas dari itu, jika benar nyatanya, aku berdoa agar kau dengannya selalu diberi kebahagiaan, dan kalian mampu menghadapi seberat apapun rintangan yang akan datang menerpa hubungan kalian hingga akhirnya kau dengannya dapat dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Aku bukan munafik. Tapi ini adalah doa yang benar-benar tulus dari hati.
Saat ini aku sadar. Aku hanyalah orang baru yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupanmu karena kau undang. Aku sadar aku tak pernah penting bagimu. Dan aku sadar aku tak berarti apa-apa dibandingkan dengan dia, seseorang yang sudah mengenalmu lebih lama dariku.
Maaf, kepergianku bukanlah hal yang aku lakukan dengan sengaja. Namun keadaan yang memaksaku untuk perlahan menjauh dan pergi meninggalkanmu. Saat ini, menjauh darimu adalah pilihan terbaik untukku. Pilihan yang aku ambil karena aku tak ingin terluka kembali. Kau boleh menilaiku seperti anak kecil yang marah karena permintaannya tak kau turuti. Kau boleh menilai tentang diriku apa saja sesuka yang kau mau. Tapi satu hal yang perlu kau tau, bukan tanpa alasan aku menjauh darimu.
Kau tau? Aku hanya membutuhkan waktu sekejap untuk menyayangimu. Tapi aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melupakanmu. Itulah mengapa aku ingin pergi meninggalkanmu.
Jika aku boleh jujur, aku tak ingin menjauh darimu. Aku ingin selalu ada disampingmu. Aku ingin selalu bersamamu. Namun aku tak ingin tetap berada didekatmu karena itu akan membuat perasaanku padamu semakin dalam, yang nantinya akan membuatku semakin sulit untuk keluar dari bayang-bayangmu. Aku tak ingin terpuruk kembali dalam waktu yang lama. Aku tak ingin terlambat kembali untuk menyadarinya. Sudah cukup pengalaman bodohku dimasalalu saja, jangan sampai untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang serupa. Sudah cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini.
Maaf aku memilih pergi tanpa pamit terlebih dahulu padamu. Maaf jika memang sikapku ini kekanak-kanakan. Aku hanya ingin bahagia. Kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan orang yang aku cintai.  Aku harap kau dapat memahaminya.
Ketahuilah, bagiku pun ini semua tak mudah. Aku harus kembali terbiasa hidup tanpa orang yang selalu menemani hari-hariku. Terlebih aku harus bangkit kembali setelah aku baru merasakan udara bebas. Kau mungkin tak akan pernah tau apa yang aku rasakan. Bagaimana traumaku. Dan bagaimana caranya hingga aku bisa seperti sekarang. Kau memahimanya saja sudah lebih dari cukup bagiku.
Berbahagialah....
Aku pamit. Terimakasih atas tujuh bulannya. Meski hanya sekejap namun kehadiranmu sudah mampu memberikan perubahan dalam hidupku. Aku pun banyak belajar darimu. Dan terimakasih atas kekecewaan yang telah kau beri. Darimulah aku belajar untuk tidak mudah percaya pada seseorang yang baru kukenal.
Semoga kau bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dari umurmu. Dan semoga kau lebih dapat bersikap sebagaimana mestinya, Jangan sibuk menebar pesona, karena itu hanya akan membuat dosamu semakin banyak. Kau tau? Satu tetes airmata yang keluar untukmu adalah satu percikan api neraka untukmu.
Aku akan selalu merindukanmu.


-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...