Dulu aku berpikir bahwa aku
hanya akan mendapatkan kasih sayang hanya dari kedua orang tuaku dan
keluargaku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham mengenai teman,
sahabat bahkan pacar. Bagaimana rasanya jatuh cinta, dijatuhkan oleh teman,
bahkan disakiti atau di khianati dengan orang yang aku sayangi. Dari semua
kejadian hidup yang aku alami aku temukan satu yang tak bisa aku temukan pada
diri orang lain, pada teman mungkin pada kekasih. Dia bernama sahabat.
Awalnya aku merasa dia
hanyalah teman kecilku. Teman yang aku kenal sejak aku duduk dibangku taman
kanak-kanak. Teman sekaligus tetanggaku. Teman bermain baik di sekolah maupun
di rumah. Ya.. awalnya aku hanya merasa dia hanya sebagai teman kecilku.
Namun seiring berjalannya
waktu. Banyak kejadian yang aku dan dia lalui. Kini aku mulai menyadari bahwa
dia yang disebut dengan sahabat, bukan lagi teman masa kecil.
Ini berawal dari
perkenalanku empat belas tahun yang lalu dengannya di bangku taman kanak-kanak.
Entah bagaimana kami bisa berkenalan, aku lupa. Yang aku ingat hanya namanya,
Nadya Septiani dan dia adalah tetanggaku. Aku bukan penduduk asli disalah satu
perumahan yang ada di kota Cirebon. Aku pendatang. Awalnya aku tak mengetahui
bahwa rumah kami berdekatan. Baru pertama kali bertemu pun di taman
kanak-kanak.
Banyak yang aku lalui
bersamanya. Kami sering bermain bersama. Apapun yang bisa kami mainkan, kami
mainkan. Saat kecil kami tidak takut dengan apapun. Mungkin bisa dibilang kami
ini adalah perempuan tomboy.
Kami sering mencari ikan di
solokan. Bermain pasir, bermain bola, bermain karet, bermain bentengan. Bahkan
menanjak pohonpun kami pernah. Dan saat ini aku bersyukur masa kecilku sangat
bahagia. Meskipun aku selalu mendengarkan penolakan dari kedua orang tuaku,
tapi sekarang aku menyadari bahwa larangan-larangan itu adalah bukti kasih sayang
mereka padaku. Jika dilihat dan dibandingkan dengan anak kecil jaman sekarang
tentu jelas berbeda. Bukan karena jaman yang sudah mulai canggih, tapi juga
karena kejahatan semakin merajalela sehingga mengharuskan anak-anak kecil perlu
diawasi secara ekstra.
Mandi atau tidur bersama pun
kami pernah. Tidak dirumahku dan tidak pula dirumahnya. Namun kami lebih sering
tidur siang bersama. Itu semua bisa terjadi karena peraturan kedua orang tuaku.
Saat kecil aku tidak boleh sedikitpun melewatkan tidur siangku. Batas main
siangku adalah saat adzan dzuhur. Saat adzan dzuhur aku diharuskan untuk
kembali ke rumah untuk makan siang, dan tidur siang. Aku diperbolehkan main
kembali setelah adzan ashar. Tentunya dengan mandi terlebih dahulu. Itu pun aku
hanya mendapat waktu bermain hingga pukul lima. Lebih tepatnya sebelum maghrib
aku harus sudah berada dirumahku kembali. Jika aku terlalu asyik bermain hingga
lupa waktu untuk pulang, mamah atau papahku sering menjemputku untuk pulang.
Bahkan tak jarang pula aku tidak diperbolehkan main ketika hari sekolah. Dan
itu sangat bertentangan dengan keinginanku. Maklum saja namanya juga anak kecil
inginnya selalu bermain, bermain dan bermain. Peraturan kedua orang tuaku
sangat sulit untuk aku langgar. Jika aku tak menurutinya aku akan mendapatkan
amarah dari mereka, terutama mamahku. Mungkin bahkan aku akan mendapatkan
sanksi, yaitu tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Dan ini semua
berbeda dengan kedua orang tua nadya.
Namun aku dan nadya tak
kehabisan cara untuk bisa tetap bermain. Aku sering mengajak nadya main
kerumahku untuk makan siang dan untuk tidur siang bersamaku. Itu semua aku
lakukan agar sore harinya aku diperbolehkan main dengan kedua orang tuaku. Tapi
saat itu kami sedikit nakal. Bukannya tidur kami malah bercerita. Dan jika
kedua orang tuaku memeriksa, kami berpura-pura untuk tidur. Tak jarang pula
kami benar-benar tertidur. Saat adzan ashar kami terbangun. Dan itu merupakan
hal yang paling kami nantikan. Kami selalu bahagia ketika kami mendengar adzan
ashar, karena itu artinya kami dapat kembali bermain. Kami juga sering mandi
bersama. Mungkin lebih tepatnya bermain air bersama.
Saat bulan suci Ramadhan pun
kami sering melakukan kebohongan. Salah satunya adalah dengan berpura-pura
berpuasa. Kedua orang tuaku sangat ketat dalam mengajarkanku agama. Mereka
mengajarkan puasa sejak kecil. Aku memang diperbolehkan hanya puasa hingga
adzan dzuhur, namun itu tak berlangsung lama. Selebihnya aku harus belajar
puasa hingga adzan maghrib.
Kamipun sering berlibur
bersama. Jika papahku libur dan itu bertepatan dengan weekend, beliau selalu
mengajak aku berlibur. Dan aku selalu mengajak nadya, bahkan neneknya pun ikut
berlibur bersama keluargaku.
Memiliki baju yang samapun
kami pernah. Saat itu mamahku sengaja membelikan baju yang sama untukku dan
nadya.
Ketika kami mulai duduk
dibangku sekolah dasar, disitulah kami mulai mengenal perasaan kepada lawan
jenis. Aku sempat menyukai laki-laki yang berada satu kelas denganku. Dan nadya
menyukai laki-laki yang berada dikelasku. Keberuntungan berpihak pada nadya.
Dia dengan temanku berhasil menjalin hubungan. Sedangkan aku hanya sebatas
berteman. Bukan karena aku menolaknya tetapi karena aku tidak berani untuk
mengutarakannya terlebih dulu. Selain itu pun aku tak tau bagaimana perasaannya.
Jika malam minggu kami
diperbolehkan untuk main. Aku, nadya, dan kakak ku kami selalu bermain kasti
bersama diteras rumahku. Ketika bermain kasti kakakku selalu tidak mau untuk
menjadi timku. Dia lebih memilih nadya dibandingkan aku. Bukan dalam hal
permainan saja, tetapi dalam hal yang lain pun kakak ku memilih nadya dibanding
aku. Entahlah apa yang terlintas dipikirannya sehingga mengabaikan adik
kandungnya.
Dan hal yang paling tidak
bisa aku lupakan saat duduk dibangku sekolah dasar ini adalah saat aku, nadya
dan temanku yang lain menyukai kaka kelas. Bisa dibilang mereka satu group,
sama seperti kami. Kami dengannya sempat ingin berkencan saat malam minggu.
Tapi karena kami sama-sama dilarang oleh kedua orang tua kami akhirnya kencan
itu pun hanya sebatas rencana. Lucu bukan? Jika mengingat hal itu aku tak
pernah bisa berhenti untuk tersenyum sendiri.
Satu lagi yang masih aku
ingat saat duduk dibangku sekolah dasar, adalah ketika aku dan nadya sama-sama
mengikuti kegiatan bela diri karate. Bisa dibilang itu merupakan hal yang
paling mengesankan untukku.
Dari taman kanak-kanak
hingga sekolah menengah atas kami selalu berada di satu sekolah yang sama. Aku
benar-benar merasakan jatuh cinta ketika aku duduk dibangku sekolah menengah
pertama. Dan saat itu pula pertama kalinya aku berani untuk menjalin hubungan.
Nadya memang bukan pertama yang aku ceritakan kabar bahagia ini. Tapi dia
selalu menjadi orang pertama yang mendengar cerita galauku tentangnya. Ketika
aku sedang mengalami masalah dengannya bahkan ketika aku telah mengakhiri
hubunganku dengannya nadya lah orang yang pertama kali aku ceritakan.
Aku sempat sedih ketika aku
dan dia mulai memasuki bangku sekolah menengah pertama karena itu membuat kami
menjadi jauh. Dia mempunyai teman baru, dan akupun sama. Mungkin aku belum mengerti benar mengapa itu
bisa terjadi. Yang aku tau semua itu bisa terjadi karena kita sudah jarang
bertemu dan bermain bersama lagi.
Saat itu aku benar-benar
takut kehilangannya. Aku takut dia melupakanku. Namun hal itu wajar bukan? Itu
pertanda bahwa aku memang menyayanginya sebagai sahabatku.
-Bersambung-
-NR-