Saturday, September 24, 2016

Antara aku, dia dan masa kecilku..

Dulu aku berpikir bahwa aku hanya akan mendapatkan kasih sayang hanya dari kedua orang tuaku dan keluargaku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham mengenai teman, sahabat bahkan pacar. Bagaimana rasanya jatuh cinta, dijatuhkan oleh teman, bahkan disakiti atau di khianati dengan orang yang aku sayangi. Dari semua kejadian hidup yang aku alami aku temukan satu yang tak bisa aku temukan pada diri orang lain, pada teman mungkin pada kekasih. Dia bernama sahabat.
Awalnya aku merasa dia hanyalah teman kecilku. Teman yang aku kenal sejak aku duduk dibangku taman kanak-kanak. Teman sekaligus tetanggaku. Teman bermain baik di sekolah maupun di rumah. Ya.. awalnya aku hanya merasa dia hanya sebagai teman kecilku.
Namun seiring berjalannya waktu. Banyak kejadian yang aku dan dia lalui. Kini aku mulai menyadari bahwa dia yang disebut dengan sahabat, bukan lagi teman masa kecil.
Ini berawal dari perkenalanku empat belas tahun yang lalu dengannya di bangku taman kanak-kanak. Entah bagaimana kami bisa berkenalan, aku lupa. Yang aku ingat hanya namanya, Nadya Septiani dan dia adalah tetanggaku. Aku bukan penduduk asli disalah satu perumahan yang ada di kota Cirebon. Aku pendatang. Awalnya aku tak mengetahui bahwa rumah kami berdekatan. Baru pertama kali bertemu pun di taman kanak-kanak.
Banyak yang aku lalui bersamanya. Kami sering bermain bersama. Apapun yang bisa kami mainkan, kami mainkan. Saat kecil kami tidak takut dengan apapun. Mungkin bisa dibilang kami ini adalah perempuan tomboy.
Kami sering mencari ikan di solokan. Bermain pasir, bermain bola, bermain karet, bermain bentengan. Bahkan menanjak pohonpun kami pernah. Dan saat ini aku bersyukur masa kecilku sangat bahagia. Meskipun aku selalu mendengarkan penolakan dari kedua orang tuaku, tapi sekarang aku menyadari bahwa larangan-larangan itu adalah bukti kasih sayang mereka padaku. Jika dilihat dan dibandingkan dengan anak kecil jaman sekarang tentu jelas berbeda. Bukan karena jaman yang sudah mulai canggih, tapi juga karena kejahatan semakin merajalela sehingga mengharuskan anak-anak kecil perlu diawasi secara ekstra.
Mandi atau tidur bersama pun kami pernah. Tidak dirumahku dan tidak pula dirumahnya. Namun kami lebih sering tidur siang bersama. Itu semua bisa terjadi karena peraturan kedua orang tuaku. Saat kecil aku tidak boleh sedikitpun melewatkan tidur siangku. Batas main siangku adalah saat adzan dzuhur. Saat adzan dzuhur aku diharuskan untuk kembali ke rumah untuk makan siang, dan tidur siang. Aku diperbolehkan main kembali setelah adzan ashar. Tentunya dengan mandi terlebih dahulu. Itu pun aku hanya mendapat waktu bermain hingga pukul lima. Lebih tepatnya sebelum maghrib aku harus sudah berada dirumahku kembali. Jika aku terlalu asyik bermain hingga lupa waktu untuk pulang, mamah atau papahku sering menjemputku untuk pulang. Bahkan tak jarang pula aku tidak diperbolehkan main ketika hari sekolah. Dan itu sangat bertentangan dengan keinginanku. Maklum saja namanya juga anak kecil inginnya selalu bermain, bermain dan bermain. Peraturan kedua orang tuaku sangat sulit untuk aku langgar. Jika aku tak menurutinya aku akan mendapatkan amarah dari mereka, terutama mamahku. Mungkin bahkan aku akan mendapatkan sanksi, yaitu tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Dan ini semua berbeda dengan kedua orang tua nadya.
Namun aku dan nadya tak kehabisan cara untuk bisa tetap bermain. Aku sering mengajak nadya main kerumahku untuk makan siang dan untuk tidur siang bersamaku. Itu semua aku lakukan agar sore harinya aku diperbolehkan main dengan kedua orang tuaku. Tapi saat itu kami sedikit nakal. Bukannya tidur kami malah bercerita. Dan jika kedua orang tuaku memeriksa, kami berpura-pura untuk tidur. Tak jarang pula kami benar-benar tertidur. Saat adzan ashar kami terbangun. Dan itu merupakan hal yang paling kami nantikan. Kami selalu bahagia ketika kami mendengar adzan ashar, karena itu artinya kami dapat kembali bermain. Kami juga sering mandi bersama. Mungkin lebih tepatnya bermain air bersama.
Saat bulan suci Ramadhan pun kami sering melakukan kebohongan. Salah satunya adalah dengan berpura-pura berpuasa. Kedua orang tuaku sangat ketat dalam mengajarkanku agama. Mereka mengajarkan puasa sejak kecil. Aku memang diperbolehkan hanya puasa hingga adzan dzuhur, namun itu tak berlangsung lama. Selebihnya aku harus belajar puasa hingga adzan maghrib.
Kamipun sering berlibur bersama. Jika papahku libur dan itu bertepatan dengan weekend, beliau selalu mengajak aku berlibur. Dan aku selalu mengajak nadya, bahkan neneknya pun ikut berlibur bersama keluargaku.
Memiliki baju yang samapun kami pernah. Saat itu mamahku sengaja membelikan baju yang sama untukku dan nadya.
Ketika kami mulai duduk dibangku sekolah dasar, disitulah kami mulai mengenal perasaan kepada lawan jenis. Aku sempat menyukai laki-laki yang berada satu kelas denganku. Dan nadya menyukai laki-laki yang berada dikelasku. Keberuntungan berpihak pada nadya. Dia dengan temanku berhasil menjalin hubungan. Sedangkan aku hanya sebatas berteman. Bukan karena aku menolaknya tetapi karena aku tidak berani untuk mengutarakannya terlebih dulu. Selain itu pun aku tak tau bagaimana perasaannya.
Jika malam minggu kami diperbolehkan untuk main. Aku, nadya, dan kakak ku kami selalu bermain kasti bersama diteras rumahku. Ketika bermain kasti kakakku selalu tidak mau untuk menjadi timku. Dia lebih memilih nadya dibandingkan aku. Bukan dalam hal permainan saja, tetapi dalam hal yang lain pun kakak ku memilih nadya dibanding aku. Entahlah apa yang terlintas dipikirannya sehingga mengabaikan adik kandungnya.
Dan hal yang paling tidak bisa aku lupakan saat duduk dibangku sekolah dasar ini adalah saat aku, nadya dan temanku yang lain menyukai kaka kelas. Bisa dibilang mereka satu group, sama seperti kami. Kami dengannya sempat ingin berkencan saat malam minggu. Tapi karena kami sama-sama dilarang oleh kedua orang tua kami akhirnya kencan itu pun hanya sebatas rencana. Lucu bukan? Jika mengingat hal itu aku tak pernah bisa berhenti untuk tersenyum sendiri.
Satu lagi yang masih aku ingat saat duduk dibangku sekolah dasar, adalah ketika aku dan nadya sama-sama mengikuti kegiatan bela diri karate. Bisa dibilang itu merupakan hal yang paling mengesankan untukku.
Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas kami selalu berada di satu sekolah yang sama. Aku benar-benar merasakan jatuh cinta ketika aku duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dan saat itu pula pertama kalinya aku berani untuk menjalin hubungan. Nadya memang bukan pertama yang aku ceritakan kabar bahagia ini. Tapi dia selalu menjadi orang pertama yang mendengar cerita galauku tentangnya. Ketika aku sedang mengalami masalah dengannya bahkan ketika aku telah mengakhiri hubunganku dengannya nadya lah orang yang pertama kali aku ceritakan.
Aku sempat sedih ketika aku dan dia mulai memasuki bangku sekolah menengah pertama karena itu membuat kami menjadi jauh. Dia mempunyai teman baru, dan akupun sama.  Mungkin aku belum mengerti benar mengapa itu bisa terjadi. Yang aku tau semua itu bisa terjadi karena kita sudah jarang bertemu dan bermain bersama lagi.
Saat itu aku benar-benar takut kehilangannya. Aku takut dia melupakanku. Namun hal itu wajar bukan? Itu pertanda bahwa aku memang menyayanginya sebagai sahabatku.


-Bersambung-

-NR-

Friday, September 23, 2016

Suratku masih untukmu (13)

Assalamu'alaikum hey tuan manis.
Sedang apa disana? Masih bekerja? Aku harap kau selalu berada dalam lindungan-Nya. Ku dengar disana sedang marak pembegalan? Benar? Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu sering pulang malam. Aku sungguh khawatir jika setiap hari kau selalu pulang larut malam. Selain itu tak baik untuk kesehatanmu. Dan satu lagi, jangan terlalu sering bergadang. Kau bisa saja melarangku dan selalu marah jika insom ku kambuh, tapi kau sendiri bagaimana? Kau dan aku sama-sama insom bukan? Aku memang tidak bisa menang untuk mengalahkanmu jika sedang berdebat, tapi untuk yang satu ini kau pasti hanya akan terdiam.
Hey tuan manis,
Aku selalu lama dalam mengambil keputusan. Aku tak ingin terburu-buru karena banyak yang harus aku pertimbangkan. Meski memang terkadang aku suka mengambil keputusan berdasarkan asumsi dan emosiku yang sesaat. Tapi setelah itu aku menyadari, menyesali dan mencoba untuk memperbaikinya. Sama halnya ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita begitu saja hanya karena emosiku yang sesaat dan pikiranku yang sedang kacau. Ah tidak tidak. Aku disini tidak ingin flashback ke masa lalu.
Mengenai tuan berkumis. Aku sudah memutuskan untuk melupakan dan perlahan menjauh darinya. Aku tak ingin terus menerus seperti ini. Aku lelah. Pikiranku sungguh tak tenang. Selalu terbayang-bayang olehnya. Selalu memikirkan dan menduga-duga sesuatu yang belum tentu terjadi dan sulit untuk aku cari tahu kebenarannya. Hatikupun sama. Ia tak tenang. Ia selalu menjerit, bahkan menangis. Jangankan saat aku tengah sendiri, saat aku berada ditengah keramaian dia tak kuasa untuk menahan agar tidak rapuh. Mata ini pun sama. Ia seperti meminta padaku untuk menghentikan semua ini. Ia seperti tidak ingin aku menghabiskan air mataku begitu saja dengan percuma. Aku lelah. Sungguh lelah. Dan saat ini aku berada pada titik puncakku.
Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku sudah memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, membalas pesannya, bahkan menerima telpon darinya. Sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, dan kau lakukan terhadapku. Kita sama-sama berpikiran bagaimana caranya agar bisa hidup terbiasa tanpa aku dan tanpa kau bukan? Itu yang sekarang menjadi dasar pemikiranku. Aku ingin kembali hidup seperti biasa, seperti saat aku belum mengenalnya. Saat dia belum masuk kedalam kehidupanku dan menganggu ku. Aku ingin terbiasa tanpanya. Karena aku tak ingin hatiku dibuat sakit semakin dalam.
Mungkin ini hanya sesaat atau mungkin akan selamanya. Entahlah aku masih belum bisa memastikan. Untuk melakukannya saja aku masih takut jika usaha ini akan gagal kembali. Tapi aku yakin jika memang niatku dan usahaku keras pasti akan berhasil. Karena kerja keras tidak akan pernah mengkhianati kita.
Aku tidak salah bukan mengambil keputusan itu? Apa aku salah? Jelaskan padaku jika memang keputusan yang aku ambil itu salah. Bukannya aku ingin memutuskan tali silaturahmi dengannya, tapi aku pikir ini memang keputusan terbaik untukku saat ini. Dan jika memang keputusanku ini salah, bisakah kau bantu aku untuk menemukan keputusan yang tepat?
Mungkin hanya itu yang ingin aku tulis dalam surat ini. Aku masih terus berharap kau akan membalas suratku.
Jaga dirimu baik-baik. Aku merindukanmu.

Wasssalam.

-NR-

Suratku masih untukmu (12)

Assalamu’alaikum hey tuan manis..
Aku ingin sedikit bercerita padamu. Ini tentang perasaanku. Ini tentang dia. Orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Dan yang telah berhasil pula menjatuhkan aku begitu saja setelah membuatku terbang tinggi menari dengan harapan. 
Seperti yang sudah ku ceritakan pada surat sebelumnya. Banyak yang memberitahuku bahkan mengingatkanku untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata manisnya. Hampir dari mereka memberikan penilaian buruk tentangnya. Dan kau tau aku sempat mempercayainya.
Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Sekarang aku berada di fase ketika kau meninggalkanku saat itu. Aku down. Semangat dan nyawaku seakan-akan menghilang begitu saja. Aku seperti ditusuk beribu kali dengan pedang yang berbeda. Semua ini sama seperti waktu kau meninggalkanku dan aku harus berjuang untuk bisa mengikhlaskanmu. Dan untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang sama.
Aku merasa aku seperti wanita yang lemah. Yang tak bisa berbuat apapun ketika orang yang aku sayangi menyakitiku begitu saja. Ketika orang yang aku sayangi bersikap tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Ketika aku harus menerima semua perlakuannya dengan air mata yang tak bisa aku bendung. Aku merasa seperti wanita bodoh yang selalu bisa memaafkan dengan mudah dan menerima kembali ketika dia kembali menyakitimu. Aku merasa aku seperti wanita yang malang yang selalu berada pada kesalahan yang sama. Lantas aku harus apa ketika hatiku tak ingin pergi? Ketika hatiku memilih untuk bertahan untuk disakiti? Aku harus apa hey tuan manis? Apa semua ini karena aku mempunyai hati yang tulus? Apa aku tidak boleh untuk menyayangi seseorang dengan tulus?
Jujur, aku bimbang saat ini. Aku kehilangan sesuatu yang ada didalam diriku. Entah apa itu aku pun tak bisa menjelaskannya. Yang jelas saat ini aku seperti tersesat tak tahu kemana harus melangkah. Kuliahku, tugasku, pikiranku, semuanya sangat kacau. Aku tidak fokus melakukan sesuatu. Pikiranku selalu saja tertuju pada dia. Dia yang belum tentu memikirkanku. Bodoh? Ya aku tau aku ini bodoh. Seperti yang aku katakan sebelumnya. 
Aku sudah berusaha mengalihkan pikiranku. Aku sudah berusaha untuk tetap tersenyum bahkan mencoba menghibur orang lain. Tapi aku sendiri tak bisa menerapkannya disaat aku tengah sendiri. Bahkan senyuman dan tawa yang aku keluarkan, semua itu palsu. Karena aku tidak benar-benar merasa bahagia. Aku pun jarang berkomunikasi dengannya. Aku bahkan sering mengabaikannya. Aku melakukan itu karena aku ingin perlahan-lahan menjauh darinya, dan melupakannya. Aku pun sudah berusaha untuk menyibukkan diri tapi semua itu tidak berpengaruh apa-apa. Aku masih tetap saja memikirkannya. Bayangannya, selalu menghantuiku. Dan saat ini dia mulai menghubungiku kembali. Mengangguku dengan mulai menelponku kembali. Rasanya aku ingin tidak mengangkatnya. AKu ingin mengabaikannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Oh tidak bukan tidak bisa hanya saja belum bisa. Semua yang berhubungan dengannya masih aku ingat hingga detik ini. Aku tau mungkin memang belum waktunya saja aku bisa melupakannya.
Hey tuan manis, doakan aku agar aku tidak bersikap seperti ini lagi. Agar aku bisa menjadi wanita yang benar-benar kuat dan tangguh bukan hanya didepan orang saja tapi bisa untuk menguatkanku sendiri.
Mungkin hanya itu yang ingin aku ceritakan padamu. Maaf jika cerita ini membuatmu kesal. Aku hanya bimbang karena aku tak tau lagi harus bercerita pada siapa.
Aku harap kau dalam keadaan baik-baik saja. Semoga engkau selalu diberi kebahagiaan. 
Salam rindu dari seseorang yang pernah engkau perjuangkan.
Wassalam.

-NR-

Saturday, September 17, 2016

Suratku masih untukmu (11)

Assalamu’alaikum hey tuan manis. Bagaimana kabarmu? Harapan dan doaku masih sama untukmu. Semoga kau dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun dan semoga kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Kau tau? Saat kau memulai percakapan terlebih dulu, aku sangat bahagia. Karena itulah yang selama ini aku tunggu. Kau memulai terlebih dahulu. Maaf bukannya aku seperti anak kecil yang tak ingin memulai terlebih dahulu. Namun jika kau ingat, dulu selalu aku yang memulai percakapan terlebih dulu. Selalu aku yang menanyakan keadaanmu. Selalu aku yang memulai untuk berbasa-basi denganmu hanya untuk mengobati rasa rinduku. Kau ingat? Aku berdoa semoga ingatanmu baik. Dan karena itulah aku tak ingin lagi memulainya terlebih dulu.
Kau tau mengapa aku bahagia ketika kau yang memulai terlebih dulu? Itu karena kau sudah mengalahkan egomu. Kau yang sekarang sangat berbeda dengan kau yang dulu. Termasuk membuatmu memulainya terlebih dulu. Aku tau, aku ingat ketika kita masih menjalin asmara selalu kau yang memulai percakapan dan selalu aku yang menunggu kabar darimu. Dan aku ingat benar bagaimana saat kau marah ketika kau terus menerus yang memulainya, ketika kau beranggapan bahwa kau ini tidak penting untukku. Aku sangat ingat. Dan tak mungkin untuk aku ceritakan kembali disini.
Kau tau? Sekarang rasanya sangat sulit sekali untuk membuatmu yang memulai terlebih dulu. Seperti yang aku katakan, kau sangat berbeda dengan yang dulu. Entah apa yang membuatmu seperti ini. Aku tau, setiap orang pasti akan berubah. Begitu juga denganku. Aku tak bisa menyalahkan kau 100%. Tapi aku juga tak bisa menyimpulkan bahwa kau ini benar.
Kau tau hey tuan manis? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukan ketika kau, aku dan mereka bertemu. Ketika kita saling bersenda gurau bersama. Berbagi cerita, bahkan menjaili satu sama lain. Aku rindu tawa itu. Aku rindu cemoohan itu. Aku rindu suasana itu. Aku sangat merindukan itu. Aku ingin semuanya bisa kembali seperti dahulu kala. Saat ego belum menjauhkan kita. Saat semua masalah bisa kita selesaikan dengan segera.
Kau tau? Ketika aku merenung dan mencoba untuk mengingat kebersamaan kita, aku tak sanggup membendung air mataku. Aku tak sanggup hentikan ia agar ia tak keluar dari tempatnya. Semua itu begitu indah untuk aku kenang. Dan begitu menyakitkan ketika melihat realita yang sekarang sedang terjadi. Aku selalu bertanya, apakah kau sama denganku merindukan saat kita berkumpul bersama? Apakah kau merindukan kami? Pertanyaan yang tak bisa aku sampaikan padamu. Pertanyaan yang hanya aku yang tahu.
Aku selalu berdoa agar suatu hari nanti kita dapat berkumpul bersama kembali. Menyelesaikan masalah yang ada. Dan memulainya kembali dengan awal yang lebih baik lagi. Saat ini aku tak bisa berbuat apapun. Karena aku tak ingin memihak kau ataupun mereka. Aku ingin netral. Dan maaf bukannya aku tak mau membantu agar suasana bisa kembali seperti dulu, aku sudah lelah melakukannya. Mungkin kau tak ingat, saat kau tengah bersih tegang dengan dia. Aku selalu mengingatkanmu agar kau tak bersikap seperti itu. Aku selalu membantu agar masalahnya tak berkepanjangan. Kau memang mendengarkanku. Tapi itu tak berlangsung lama. Untuk kedua kalinya kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi dan lagi kau selalu seperti itu. Yang tak berubah darimu adalah kau tak pernah bisa belajar dari kesalahanmu dan selalu mengulanginya kembali. Ya aku tau memang bukan keinginanmu untuk mengulanginya kembali, kau tak perlu ingatkanku mengenai kata-katamu saat itu karena aku ingat. Tapi tak bisa kah kau berpikir sebelum bertindak? Tak bisa kah kau melawan egomu dan merubah pandanganmu yang mungkin menurut kita itu konyol. Aku tak perlu menjelaskannya lebih panjang padamu. Karena aku yakin kau pasti akan mengerti apa yang aku ucapkan.
Hey tuan manis, aku selalu menunggu waktu itu tiba. Aku harap ini tak berlangsung lama. Aku harap ini akan segera berakhir. Dan aku berdoa semoga tak ada lagi masalah dalam hubungan kita. Jika pun ada, aku berdoa semoga kita bisa menyelasaikannya dengan baik dan tidak berkepanjangan seperti ini.
Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang. Aku disini tak akan pernah berhenti mendoakanmu, karena biar bagaimanapun kau merupakan orang terpenting yang ada dalam hidupku.
Wassalam.


-NR-

Monday, September 5, 2016

Aku hanya ingin bahagia..

Aku hanya ingin bahagia
Dapat mencintai dan dicintai
Bukan merasakan cinta sepihak
Bukankah cinta itu fitrah?
Bukankah cinta itu anugerah?
Lantas mengapa selalu saja menyakitkan
Ketika aku mencintai seseorang
Adakah yg salah ketika aku mencintai seseorang?
Caraku?
Atau sikapku?
Tidak.
Aku selalu bersikap wajar ketika aku mencintai seseorang
Aku selalu menyebutnya dalam sujudku
Membawanya dalam doa-doaku
Aku tak pernah membanggakannya
Aku tak pernah memamerkannya
Terlebih memujanya
Aku hanya mencintai dengan sewajarnya
Bukankah itu yg dianjurkan?
Mencintai dan membenci dengan sewajarnya
Namun mengapa selalu saja menyakitkan ketika aku mencintai seseorang

Aku hanya ingin bahagia
Jika cintaku tak pernah berpihak
Dan mencintai selalu saja menyakitkan
Maka ajarkan aku untuk belajar mencintainya
Mencintai seseorang yg juga mencintaiku
Jika itu lebih baik
Mohon bantu aku agar aku bisa melakukannya
Karena sungguh itu tak mudah
Berkali-kali aku mencobanya
Dan disaat itu juga aku menemukan kegagalan
Oh tidak..
Jangan biarkan aku menyerah
Aku mohon

Ajarkan aku bahagia,
Karena aku terlalu bodoh dalam urusan mencintai
Aku terlalu setia
Hingga aku tak sadar aku tengah tersakiti
Namun adakah yg salah dengan kesetiaanku?
Bukannya kita memang harus menjadi orang yg setia?
Lantas mengapa balasannya sangat menyakiti hatiku?
Aku yg terlalu bodoh dengan perasaan ini atau dia yg terlalu pintar memainkan perasaanku?
Beri tahu aku dimana letak kesalahanku!
Aku sungguh lelah menjadi wanita bodoh
Rela bertahan untuk yg tidak pasti
Menghabiskan waktu dengan orang yg salah
Aku lelah menjadi wanita bodoh
Mau-maunya saja mengikuti permainan konyolnya
Dan aku lelah menjadi wanita bodoh
Yg selalu membaca buku yg sama
Berulang kali tak ada jenuhnya
Mengulang kesalahan yg sama
Kesalahan yg menyakitkan
Yg membawa diri ini menuju jurang kesedihan

Ajarkan aku bahagia
Karena aku lupa caranya tersenyum
Aku selalu larut dalam kekecewaanku
Aku selalu ada dalam kesedihanku
Hingga aku lupa, aku juga berhak bahagia

Ajarkan aku bahagia
Agar aku dapat melupakan yg membuat hati ini sakit
Agar aku dapat keluar dari jurang kesedihanku
Karena sesungguhnya aku sangat lelah dengan semua ini
Aku mohon, beri aku kebahagiaan
Sekejap pun tak apa, aku bersyukur
Karena yang terpenting aku pernah merasakannya
Walau hanya sekejap

-NR-

Ajarkan aku untuk ikhlas..

Ya Allah Ya Rabb..
Ajarkan aku untuk ikhlas
Ketika apa yg aku harapkan tak dapat aku raih
Ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan
Ketika harapan hanya menjadi kenangan

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Agar aku dapat memaknai semua ini dengan berbesar hati
Agar aku ingat, rencanamu lebih indah dr apapun
Agar aku dapat hidup dengan tenang

Kepada Sang Pemilik Hati..
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika cinta itu tidak berpihak padaku
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika cinta itu pergi
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Agar aku dapat melepaskannya pergi
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Agar aku dapat bahagia melihatnya dengan yg lain

Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika tak ada seorangpun yg mengerti perasaan ini
Ketika semua orang memikirkan egonya
Ketika aku harus menyembunyikannya sendiri
Ketika aku dikhianati
Dan ketika tak ada yg bisa aku ajak untuk berbagi

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Ketika aku tak temukan kebahagiaan ditengah keluargaku
Ketika aku tak bisa temukan ketenangan didalam rumahku
Ketika aku harus berlari dari kenyataan yg ada dirumahku

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Agar aku tak merasa iri pada orang lain
Yg kehidupannya jauh lebih baik dariku
Agar aku dapat menerima semua ini dengan lapang
Agar aku tak benci pada-Mu
Agar aku dapat selalu bersyukur terhadap takdir ku
Takdir yg sudah Engkau gariskan padaku
Agar aku dapat selalu bersyukur atas apa yg telah Engkau beri padaku
Cinta sepihak, keluarga yang tak harmonis, teman yg egois, sahabat yang tak mau mengerti
Agar aku dapat melanjutkan hidupku
Ada atau tanpa dukungan siapapun
Agar aku dapat menjalani hidup ini dengan tenang
Dengan langkah yang akan membawaku pada kebahagiaan yg tiada tara

Ajarkan aku untuk ikhlas
Aku mohon..
Karena aku masih tak mudah untuk menerima semua ini
Aku hanya butuh keikhlasan
Agar aku bisa tenang
Aku tak inginkan yg lain dari-Mu
Aku hanya ingin Engkau ajarkan aku untuk ikhlas
Karena hanya dengan ikhlas aku dapat selalu bersyukur pada-Mu
Dan dengan selalu bersyukur aku bisa selalu bahagia


-NR-

Hal yang Tak Terduga (3)

Tak sedikit yang bilang aku ini wanita yang dingin, cuek dan tak sedikit juga yang bilang aku wanita jutek. Super duper jutek. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku menjauh karena tak sanggup menghadapi sifatku yang jutek yang sulit untuk aku hilangkan. Jika ditanya apakah aku sedih, tentunya tidak. Karena aku bersyukur aku telah ditunjukan oleh-Nya bagaimana sifat laki-laki yang tengah dekati aku. Jika diawal saja dia sudah menyerah bagaimana kedepannya? Sungguh aku beruntung tlah di selamatkan darinya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya aku melakukan hal itu. Masalaluku tak baik. Aku cukup tersakiti dengan kehilangan dia. Aku cukup kecewa dengan sikapnya, hingga aku lupa caranya untuk bahagia dan membuka hati untuk orang lain. Aku terlalu takut untuk jatuh hati kembali. Aku belum siap untuk terluka dan dikecewakan kembali. Dan aku akui memang aku pecundang. Tapi aku tak peduli dengan penilaian buruk orang lain padaku, karena mereka tak tau apa yang sedang aku rasakan.
Intinya adalah trauma di masalaluku belum kunjung sembuh. Dan itulah alasan mengapa aku selalu bersikap dingin kepada orang yang mencoba untuk mendekatiku. Banyak yang bertanya apa alasan aku bersikap sedemikian rupa, dan aku tak pernah bisa untuk menjawabnya. Karena aku tak ingin menjelaskan hal yang tak bisa mereka mengerti. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk aku menjelaskannya. Karena selalu ada yang memprotesku dan memintaku untuk mengubah sikapku ini.
Tapi itu tak berlaku dengannya. Sejak perkenalan kami pada 10 Maret 2016 lalu, dan kedekatan kami yang terus berjalan. Semua itu membuatku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan kembali sejak enam tahun silam. Semua terjadi begitu cepat. Perkenalan. Kedekatan. Bahkan perasaan ini. Aku tak mengerti kapan perasaan ini tumbuh. Aku tak paham mengapa perasaan ini bisa tumbuh begitu cepat. Belum ada setahun aku mengenalnya, bahkan setengah tahun pun belum ada. Tapi entah mengapa ini semua bisa terjadi.
Awalnya aku merasa tak apa jika dia pergi. Awalnya aku biasa saja ketika dia pergi. Dan awalnya aku menganggap perasaan ini hanya sesaat. Ya AWALNYA. Tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Aku merasa kehilangan atas kepergian dia. Aku selalu ingin dekat dengannya. Menghubunginnya setiap waktu. Dan bertemu dengannya setiap hari. Tapi aku sadar hal itu tak mungkin bisa aku lakukan. Aku tak mungkin meminta orang untuk jangan pergi. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tak ingin di cap sebagai wanita bodoh lagi. Aku capek.
Banyak cara yang udah aku lakukan agar aku bisa mengikhlaskan dia, menerima sikap dia yang selalu melakukan sesuatu sesuka hati dia. Tapi aku ga bisa. Semakin aku mencoba untuk menghilangkan perasaan ini. Semakin dalam aku memikirkannya. Aku sudah coba mengalihkan pikiranku agar aku tak bisa mengingatnya lagi. Tapi aku ga bisa. Setiap malam, setiap aku ingin memejamkan mataku aku selalu teringat padanya. Teringat setiap pertemuan kita, dan cerita yang telah kita buat. Meski hanya tiga bulan, tapi semua itu tak mudah untuk aku lupakan.
Hanya dia yang berhasil membuatku merasakan jatuh hati kembali. Hanya dia yang mampu membuatku bahagia dalam sekejap dan menghempaskanku begitu saja hingga membuat luka yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka karena masaluku.
Rasanya aku tak ingin mengenalnya lagi. Aku tak ingin berkomunikasi dengannya. Aku ingin dia pergi jauh dari kehidupanku. Tapi aku tak bisa. Aku sempat berada diujung amarahku hingga aku memblokir semua kontak personnya dari telepon genggamku. Tapi akhirnya aku yang menyesal. Aku urungkan niatku dengan melakukan unblock dari telepon genggamku.
Aku juga pernah tak membalas chatnya. Aku abaikan. Bukan karena aku dendam padanya karena dia sering mengabaikan chat dariku, tapi karena aku ingin perlahan menjauh darinya dan mencoba melupakan apa yang tengah dia lakukan padaku. Sekali lagi usahaku SIA-SIA. Saat dia tak menghubungiku lagi aku berjanji untuk tidak menghubunginya pula dan membalas chat darinya saat dia memulai percakapan terlebih dulu. Semua itu hanya sebatas niatan yang omong kosong. Ya aku akui itu hanya sekedar omong kosong belaka. Nyatanya aku tak bisa melakukan semua niatanku. Mungkin belum bisa. Tapi sampai kapan aku bertingkah seperti anak muda yang selalu labil? Untuk masalah hati, aku akui memang aku selalu plin-plan, aku sulit untuk konsisten. Berbeda dengan kesaharianku yang tak sedikit orang bilang aku ini tegas, bahkan galak.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku ingin sekali kembali ke waktu dimana banyak yang bilang dia tak pantas untukku. Karena aku menyesal aku lebih mengikuti kata hatiku yang selalu yakin bahwa dia telah berubah dibanding mendengarkan kata mereka yang jauh lebih lama mengenal dia dari pada aku.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku tak ingin memberikan hatiku padanya. Aku tak ingin bersikap baik dan welcome padanya. Andai bisa diulang. Sungguh aku akan bahagia. Aku tidak akan merasakan sakit dan kecewa untuk kedua kalinya.
Dan andai dia tahu....


-NR-

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...