Saturday, September 24, 2016

Antara aku, dia dan masa kecilku..

Dulu aku berpikir bahwa aku hanya akan mendapatkan kasih sayang hanya dari kedua orang tuaku dan keluargaku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham mengenai teman, sahabat bahkan pacar. Bagaimana rasanya jatuh cinta, dijatuhkan oleh teman, bahkan disakiti atau di khianati dengan orang yang aku sayangi. Dari semua kejadian hidup yang aku alami aku temukan satu yang tak bisa aku temukan pada diri orang lain, pada teman mungkin pada kekasih. Dia bernama sahabat.
Awalnya aku merasa dia hanyalah teman kecilku. Teman yang aku kenal sejak aku duduk dibangku taman kanak-kanak. Teman sekaligus tetanggaku. Teman bermain baik di sekolah maupun di rumah. Ya.. awalnya aku hanya merasa dia hanya sebagai teman kecilku.
Namun seiring berjalannya waktu. Banyak kejadian yang aku dan dia lalui. Kini aku mulai menyadari bahwa dia yang disebut dengan sahabat, bukan lagi teman masa kecil.
Ini berawal dari perkenalanku empat belas tahun yang lalu dengannya di bangku taman kanak-kanak. Entah bagaimana kami bisa berkenalan, aku lupa. Yang aku ingat hanya namanya, Nadya Septiani dan dia adalah tetanggaku. Aku bukan penduduk asli disalah satu perumahan yang ada di kota Cirebon. Aku pendatang. Awalnya aku tak mengetahui bahwa rumah kami berdekatan. Baru pertama kali bertemu pun di taman kanak-kanak.
Banyak yang aku lalui bersamanya. Kami sering bermain bersama. Apapun yang bisa kami mainkan, kami mainkan. Saat kecil kami tidak takut dengan apapun. Mungkin bisa dibilang kami ini adalah perempuan tomboy.
Kami sering mencari ikan di solokan. Bermain pasir, bermain bola, bermain karet, bermain bentengan. Bahkan menanjak pohonpun kami pernah. Dan saat ini aku bersyukur masa kecilku sangat bahagia. Meskipun aku selalu mendengarkan penolakan dari kedua orang tuaku, tapi sekarang aku menyadari bahwa larangan-larangan itu adalah bukti kasih sayang mereka padaku. Jika dilihat dan dibandingkan dengan anak kecil jaman sekarang tentu jelas berbeda. Bukan karena jaman yang sudah mulai canggih, tapi juga karena kejahatan semakin merajalela sehingga mengharuskan anak-anak kecil perlu diawasi secara ekstra.
Mandi atau tidur bersama pun kami pernah. Tidak dirumahku dan tidak pula dirumahnya. Namun kami lebih sering tidur siang bersama. Itu semua bisa terjadi karena peraturan kedua orang tuaku. Saat kecil aku tidak boleh sedikitpun melewatkan tidur siangku. Batas main siangku adalah saat adzan dzuhur. Saat adzan dzuhur aku diharuskan untuk kembali ke rumah untuk makan siang, dan tidur siang. Aku diperbolehkan main kembali setelah adzan ashar. Tentunya dengan mandi terlebih dahulu. Itu pun aku hanya mendapat waktu bermain hingga pukul lima. Lebih tepatnya sebelum maghrib aku harus sudah berada dirumahku kembali. Jika aku terlalu asyik bermain hingga lupa waktu untuk pulang, mamah atau papahku sering menjemputku untuk pulang. Bahkan tak jarang pula aku tidak diperbolehkan main ketika hari sekolah. Dan itu sangat bertentangan dengan keinginanku. Maklum saja namanya juga anak kecil inginnya selalu bermain, bermain dan bermain. Peraturan kedua orang tuaku sangat sulit untuk aku langgar. Jika aku tak menurutinya aku akan mendapatkan amarah dari mereka, terutama mamahku. Mungkin bahkan aku akan mendapatkan sanksi, yaitu tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Dan ini semua berbeda dengan kedua orang tua nadya.
Namun aku dan nadya tak kehabisan cara untuk bisa tetap bermain. Aku sering mengajak nadya main kerumahku untuk makan siang dan untuk tidur siang bersamaku. Itu semua aku lakukan agar sore harinya aku diperbolehkan main dengan kedua orang tuaku. Tapi saat itu kami sedikit nakal. Bukannya tidur kami malah bercerita. Dan jika kedua orang tuaku memeriksa, kami berpura-pura untuk tidur. Tak jarang pula kami benar-benar tertidur. Saat adzan ashar kami terbangun. Dan itu merupakan hal yang paling kami nantikan. Kami selalu bahagia ketika kami mendengar adzan ashar, karena itu artinya kami dapat kembali bermain. Kami juga sering mandi bersama. Mungkin lebih tepatnya bermain air bersama.
Saat bulan suci Ramadhan pun kami sering melakukan kebohongan. Salah satunya adalah dengan berpura-pura berpuasa. Kedua orang tuaku sangat ketat dalam mengajarkanku agama. Mereka mengajarkan puasa sejak kecil. Aku memang diperbolehkan hanya puasa hingga adzan dzuhur, namun itu tak berlangsung lama. Selebihnya aku harus belajar puasa hingga adzan maghrib.
Kamipun sering berlibur bersama. Jika papahku libur dan itu bertepatan dengan weekend, beliau selalu mengajak aku berlibur. Dan aku selalu mengajak nadya, bahkan neneknya pun ikut berlibur bersama keluargaku.
Memiliki baju yang samapun kami pernah. Saat itu mamahku sengaja membelikan baju yang sama untukku dan nadya.
Ketika kami mulai duduk dibangku sekolah dasar, disitulah kami mulai mengenal perasaan kepada lawan jenis. Aku sempat menyukai laki-laki yang berada satu kelas denganku. Dan nadya menyukai laki-laki yang berada dikelasku. Keberuntungan berpihak pada nadya. Dia dengan temanku berhasil menjalin hubungan. Sedangkan aku hanya sebatas berteman. Bukan karena aku menolaknya tetapi karena aku tidak berani untuk mengutarakannya terlebih dulu. Selain itu pun aku tak tau bagaimana perasaannya.
Jika malam minggu kami diperbolehkan untuk main. Aku, nadya, dan kakak ku kami selalu bermain kasti bersama diteras rumahku. Ketika bermain kasti kakakku selalu tidak mau untuk menjadi timku. Dia lebih memilih nadya dibandingkan aku. Bukan dalam hal permainan saja, tetapi dalam hal yang lain pun kakak ku memilih nadya dibanding aku. Entahlah apa yang terlintas dipikirannya sehingga mengabaikan adik kandungnya.
Dan hal yang paling tidak bisa aku lupakan saat duduk dibangku sekolah dasar ini adalah saat aku, nadya dan temanku yang lain menyukai kaka kelas. Bisa dibilang mereka satu group, sama seperti kami. Kami dengannya sempat ingin berkencan saat malam minggu. Tapi karena kami sama-sama dilarang oleh kedua orang tua kami akhirnya kencan itu pun hanya sebatas rencana. Lucu bukan? Jika mengingat hal itu aku tak pernah bisa berhenti untuk tersenyum sendiri.
Satu lagi yang masih aku ingat saat duduk dibangku sekolah dasar, adalah ketika aku dan nadya sama-sama mengikuti kegiatan bela diri karate. Bisa dibilang itu merupakan hal yang paling mengesankan untukku.
Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas kami selalu berada di satu sekolah yang sama. Aku benar-benar merasakan jatuh cinta ketika aku duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dan saat itu pula pertama kalinya aku berani untuk menjalin hubungan. Nadya memang bukan pertama yang aku ceritakan kabar bahagia ini. Tapi dia selalu menjadi orang pertama yang mendengar cerita galauku tentangnya. Ketika aku sedang mengalami masalah dengannya bahkan ketika aku telah mengakhiri hubunganku dengannya nadya lah orang yang pertama kali aku ceritakan.
Aku sempat sedih ketika aku dan dia mulai memasuki bangku sekolah menengah pertama karena itu membuat kami menjadi jauh. Dia mempunyai teman baru, dan akupun sama.  Mungkin aku belum mengerti benar mengapa itu bisa terjadi. Yang aku tau semua itu bisa terjadi karena kita sudah jarang bertemu dan bermain bersama lagi.
Saat itu aku benar-benar takut kehilangannya. Aku takut dia melupakanku. Namun hal itu wajar bukan? Itu pertanda bahwa aku memang menyayanginya sebagai sahabatku.


-Bersambung-

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...