Saturday, September 17, 2016

Suratku masih untukmu (11)

Assalamu’alaikum hey tuan manis. Bagaimana kabarmu? Harapan dan doaku masih sama untukmu. Semoga kau dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun dan semoga kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Kau tau? Saat kau memulai percakapan terlebih dulu, aku sangat bahagia. Karena itulah yang selama ini aku tunggu. Kau memulai terlebih dahulu. Maaf bukannya aku seperti anak kecil yang tak ingin memulai terlebih dahulu. Namun jika kau ingat, dulu selalu aku yang memulai percakapan terlebih dulu. Selalu aku yang menanyakan keadaanmu. Selalu aku yang memulai untuk berbasa-basi denganmu hanya untuk mengobati rasa rinduku. Kau ingat? Aku berdoa semoga ingatanmu baik. Dan karena itulah aku tak ingin lagi memulainya terlebih dulu.
Kau tau mengapa aku bahagia ketika kau yang memulai terlebih dulu? Itu karena kau sudah mengalahkan egomu. Kau yang sekarang sangat berbeda dengan kau yang dulu. Termasuk membuatmu memulainya terlebih dulu. Aku tau, aku ingat ketika kita masih menjalin asmara selalu kau yang memulai percakapan dan selalu aku yang menunggu kabar darimu. Dan aku ingat benar bagaimana saat kau marah ketika kau terus menerus yang memulainya, ketika kau beranggapan bahwa kau ini tidak penting untukku. Aku sangat ingat. Dan tak mungkin untuk aku ceritakan kembali disini.
Kau tau? Sekarang rasanya sangat sulit sekali untuk membuatmu yang memulai terlebih dulu. Seperti yang aku katakan, kau sangat berbeda dengan yang dulu. Entah apa yang membuatmu seperti ini. Aku tau, setiap orang pasti akan berubah. Begitu juga denganku. Aku tak bisa menyalahkan kau 100%. Tapi aku juga tak bisa menyimpulkan bahwa kau ini benar.
Kau tau hey tuan manis? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukan ketika kau, aku dan mereka bertemu. Ketika kita saling bersenda gurau bersama. Berbagi cerita, bahkan menjaili satu sama lain. Aku rindu tawa itu. Aku rindu cemoohan itu. Aku rindu suasana itu. Aku sangat merindukan itu. Aku ingin semuanya bisa kembali seperti dahulu kala. Saat ego belum menjauhkan kita. Saat semua masalah bisa kita selesaikan dengan segera.
Kau tau? Ketika aku merenung dan mencoba untuk mengingat kebersamaan kita, aku tak sanggup membendung air mataku. Aku tak sanggup hentikan ia agar ia tak keluar dari tempatnya. Semua itu begitu indah untuk aku kenang. Dan begitu menyakitkan ketika melihat realita yang sekarang sedang terjadi. Aku selalu bertanya, apakah kau sama denganku merindukan saat kita berkumpul bersama? Apakah kau merindukan kami? Pertanyaan yang tak bisa aku sampaikan padamu. Pertanyaan yang hanya aku yang tahu.
Aku selalu berdoa agar suatu hari nanti kita dapat berkumpul bersama kembali. Menyelesaikan masalah yang ada. Dan memulainya kembali dengan awal yang lebih baik lagi. Saat ini aku tak bisa berbuat apapun. Karena aku tak ingin memihak kau ataupun mereka. Aku ingin netral. Dan maaf bukannya aku tak mau membantu agar suasana bisa kembali seperti dulu, aku sudah lelah melakukannya. Mungkin kau tak ingat, saat kau tengah bersih tegang dengan dia. Aku selalu mengingatkanmu agar kau tak bersikap seperti itu. Aku selalu membantu agar masalahnya tak berkepanjangan. Kau memang mendengarkanku. Tapi itu tak berlangsung lama. Untuk kedua kalinya kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi dan lagi kau selalu seperti itu. Yang tak berubah darimu adalah kau tak pernah bisa belajar dari kesalahanmu dan selalu mengulanginya kembali. Ya aku tau memang bukan keinginanmu untuk mengulanginya kembali, kau tak perlu ingatkanku mengenai kata-katamu saat itu karena aku ingat. Tapi tak bisa kah kau berpikir sebelum bertindak? Tak bisa kah kau melawan egomu dan merubah pandanganmu yang mungkin menurut kita itu konyol. Aku tak perlu menjelaskannya lebih panjang padamu. Karena aku yakin kau pasti akan mengerti apa yang aku ucapkan.
Hey tuan manis, aku selalu menunggu waktu itu tiba. Aku harap ini tak berlangsung lama. Aku harap ini akan segera berakhir. Dan aku berdoa semoga tak ada lagi masalah dalam hubungan kita. Jika pun ada, aku berdoa semoga kita bisa menyelasaikannya dengan baik dan tidak berkepanjangan seperti ini.
Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang. Aku disini tak akan pernah berhenti mendoakanmu, karena biar bagaimanapun kau merupakan orang terpenting yang ada dalam hidupku.
Wassalam.


-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...