Friday, September 23, 2016

Suratku masih untukmu (12)

Assalamu’alaikum hey tuan manis..
Aku ingin sedikit bercerita padamu. Ini tentang perasaanku. Ini tentang dia. Orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Dan yang telah berhasil pula menjatuhkan aku begitu saja setelah membuatku terbang tinggi menari dengan harapan. 
Seperti yang sudah ku ceritakan pada surat sebelumnya. Banyak yang memberitahuku bahkan mengingatkanku untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata manisnya. Hampir dari mereka memberikan penilaian buruk tentangnya. Dan kau tau aku sempat mempercayainya.
Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Sekarang aku berada di fase ketika kau meninggalkanku saat itu. Aku down. Semangat dan nyawaku seakan-akan menghilang begitu saja. Aku seperti ditusuk beribu kali dengan pedang yang berbeda. Semua ini sama seperti waktu kau meninggalkanku dan aku harus berjuang untuk bisa mengikhlaskanmu. Dan untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang sama.
Aku merasa aku seperti wanita yang lemah. Yang tak bisa berbuat apapun ketika orang yang aku sayangi menyakitiku begitu saja. Ketika orang yang aku sayangi bersikap tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Ketika aku harus menerima semua perlakuannya dengan air mata yang tak bisa aku bendung. Aku merasa seperti wanita bodoh yang selalu bisa memaafkan dengan mudah dan menerima kembali ketika dia kembali menyakitimu. Aku merasa aku seperti wanita yang malang yang selalu berada pada kesalahan yang sama. Lantas aku harus apa ketika hatiku tak ingin pergi? Ketika hatiku memilih untuk bertahan untuk disakiti? Aku harus apa hey tuan manis? Apa semua ini karena aku mempunyai hati yang tulus? Apa aku tidak boleh untuk menyayangi seseorang dengan tulus?
Jujur, aku bimbang saat ini. Aku kehilangan sesuatu yang ada didalam diriku. Entah apa itu aku pun tak bisa menjelaskannya. Yang jelas saat ini aku seperti tersesat tak tahu kemana harus melangkah. Kuliahku, tugasku, pikiranku, semuanya sangat kacau. Aku tidak fokus melakukan sesuatu. Pikiranku selalu saja tertuju pada dia. Dia yang belum tentu memikirkanku. Bodoh? Ya aku tau aku ini bodoh. Seperti yang aku katakan sebelumnya. 
Aku sudah berusaha mengalihkan pikiranku. Aku sudah berusaha untuk tetap tersenyum bahkan mencoba menghibur orang lain. Tapi aku sendiri tak bisa menerapkannya disaat aku tengah sendiri. Bahkan senyuman dan tawa yang aku keluarkan, semua itu palsu. Karena aku tidak benar-benar merasa bahagia. Aku pun jarang berkomunikasi dengannya. Aku bahkan sering mengabaikannya. Aku melakukan itu karena aku ingin perlahan-lahan menjauh darinya, dan melupakannya. Aku pun sudah berusaha untuk menyibukkan diri tapi semua itu tidak berpengaruh apa-apa. Aku masih tetap saja memikirkannya. Bayangannya, selalu menghantuiku. Dan saat ini dia mulai menghubungiku kembali. Mengangguku dengan mulai menelponku kembali. Rasanya aku ingin tidak mengangkatnya. AKu ingin mengabaikannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Oh tidak bukan tidak bisa hanya saja belum bisa. Semua yang berhubungan dengannya masih aku ingat hingga detik ini. Aku tau mungkin memang belum waktunya saja aku bisa melupakannya.
Hey tuan manis, doakan aku agar aku tidak bersikap seperti ini lagi. Agar aku bisa menjadi wanita yang benar-benar kuat dan tangguh bukan hanya didepan orang saja tapi bisa untuk menguatkanku sendiri.
Mungkin hanya itu yang ingin aku ceritakan padamu. Maaf jika cerita ini membuatmu kesal. Aku hanya bimbang karena aku tak tau lagi harus bercerita pada siapa.
Aku harap kau dalam keadaan baik-baik saja. Semoga engkau selalu diberi kebahagiaan. 
Salam rindu dari seseorang yang pernah engkau perjuangkan.
Wassalam.

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...