Monday, September 5, 2016

Hal yang Tak Terduga (3)

Tak sedikit yang bilang aku ini wanita yang dingin, cuek dan tak sedikit juga yang bilang aku wanita jutek. Super duper jutek. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku menjauh karena tak sanggup menghadapi sifatku yang jutek yang sulit untuk aku hilangkan. Jika ditanya apakah aku sedih, tentunya tidak. Karena aku bersyukur aku telah ditunjukan oleh-Nya bagaimana sifat laki-laki yang tengah dekati aku. Jika diawal saja dia sudah menyerah bagaimana kedepannya? Sungguh aku beruntung tlah di selamatkan darinya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya aku melakukan hal itu. Masalaluku tak baik. Aku cukup tersakiti dengan kehilangan dia. Aku cukup kecewa dengan sikapnya, hingga aku lupa caranya untuk bahagia dan membuka hati untuk orang lain. Aku terlalu takut untuk jatuh hati kembali. Aku belum siap untuk terluka dan dikecewakan kembali. Dan aku akui memang aku pecundang. Tapi aku tak peduli dengan penilaian buruk orang lain padaku, karena mereka tak tau apa yang sedang aku rasakan.
Intinya adalah trauma di masalaluku belum kunjung sembuh. Dan itulah alasan mengapa aku selalu bersikap dingin kepada orang yang mencoba untuk mendekatiku. Banyak yang bertanya apa alasan aku bersikap sedemikian rupa, dan aku tak pernah bisa untuk menjawabnya. Karena aku tak ingin menjelaskan hal yang tak bisa mereka mengerti. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk aku menjelaskannya. Karena selalu ada yang memprotesku dan memintaku untuk mengubah sikapku ini.
Tapi itu tak berlaku dengannya. Sejak perkenalan kami pada 10 Maret 2016 lalu, dan kedekatan kami yang terus berjalan. Semua itu membuatku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan kembali sejak enam tahun silam. Semua terjadi begitu cepat. Perkenalan. Kedekatan. Bahkan perasaan ini. Aku tak mengerti kapan perasaan ini tumbuh. Aku tak paham mengapa perasaan ini bisa tumbuh begitu cepat. Belum ada setahun aku mengenalnya, bahkan setengah tahun pun belum ada. Tapi entah mengapa ini semua bisa terjadi.
Awalnya aku merasa tak apa jika dia pergi. Awalnya aku biasa saja ketika dia pergi. Dan awalnya aku menganggap perasaan ini hanya sesaat. Ya AWALNYA. Tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Aku merasa kehilangan atas kepergian dia. Aku selalu ingin dekat dengannya. Menghubunginnya setiap waktu. Dan bertemu dengannya setiap hari. Tapi aku sadar hal itu tak mungkin bisa aku lakukan. Aku tak mungkin meminta orang untuk jangan pergi. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tak ingin di cap sebagai wanita bodoh lagi. Aku capek.
Banyak cara yang udah aku lakukan agar aku bisa mengikhlaskan dia, menerima sikap dia yang selalu melakukan sesuatu sesuka hati dia. Tapi aku ga bisa. Semakin aku mencoba untuk menghilangkan perasaan ini. Semakin dalam aku memikirkannya. Aku sudah coba mengalihkan pikiranku agar aku tak bisa mengingatnya lagi. Tapi aku ga bisa. Setiap malam, setiap aku ingin memejamkan mataku aku selalu teringat padanya. Teringat setiap pertemuan kita, dan cerita yang telah kita buat. Meski hanya tiga bulan, tapi semua itu tak mudah untuk aku lupakan.
Hanya dia yang berhasil membuatku merasakan jatuh hati kembali. Hanya dia yang mampu membuatku bahagia dalam sekejap dan menghempaskanku begitu saja hingga membuat luka yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka karena masaluku.
Rasanya aku tak ingin mengenalnya lagi. Aku tak ingin berkomunikasi dengannya. Aku ingin dia pergi jauh dari kehidupanku. Tapi aku tak bisa. Aku sempat berada diujung amarahku hingga aku memblokir semua kontak personnya dari telepon genggamku. Tapi akhirnya aku yang menyesal. Aku urungkan niatku dengan melakukan unblock dari telepon genggamku.
Aku juga pernah tak membalas chatnya. Aku abaikan. Bukan karena aku dendam padanya karena dia sering mengabaikan chat dariku, tapi karena aku ingin perlahan menjauh darinya dan mencoba melupakan apa yang tengah dia lakukan padaku. Sekali lagi usahaku SIA-SIA. Saat dia tak menghubungiku lagi aku berjanji untuk tidak menghubunginya pula dan membalas chat darinya saat dia memulai percakapan terlebih dulu. Semua itu hanya sebatas niatan yang omong kosong. Ya aku akui itu hanya sekedar omong kosong belaka. Nyatanya aku tak bisa melakukan semua niatanku. Mungkin belum bisa. Tapi sampai kapan aku bertingkah seperti anak muda yang selalu labil? Untuk masalah hati, aku akui memang aku selalu plin-plan, aku sulit untuk konsisten. Berbeda dengan kesaharianku yang tak sedikit orang bilang aku ini tegas, bahkan galak.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku ingin sekali kembali ke waktu dimana banyak yang bilang dia tak pantas untukku. Karena aku menyesal aku lebih mengikuti kata hatiku yang selalu yakin bahwa dia telah berubah dibanding mendengarkan kata mereka yang jauh lebih lama mengenal dia dari pada aku.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku tak ingin memberikan hatiku padanya. Aku tak ingin bersikap baik dan welcome padanya. Andai bisa diulang. Sungguh aku akan bahagia. Aku tidak akan merasakan sakit dan kecewa untuk kedua kalinya.
Dan andai dia tahu....


-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...