Tak sedikit yang
bilang aku ini wanita yang dingin, cuek dan tak sedikit juga yang bilang aku
wanita jutek. Super duper jutek. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku menjauh
karena tak sanggup menghadapi sifatku yang jutek yang sulit untuk aku
hilangkan. Jika ditanya apakah aku sedih, tentunya tidak. Karena aku bersyukur
aku telah ditunjukan oleh-Nya bagaimana sifat laki-laki yang tengah dekati aku.
Jika diawal saja dia sudah menyerah bagaimana kedepannya? Sungguh aku beruntung
tlah di selamatkan darinya.
Bukan tanpa alasan
sebenarnya aku melakukan hal itu. Masalaluku tak baik. Aku cukup tersakiti
dengan kehilangan dia. Aku cukup kecewa dengan sikapnya, hingga aku lupa
caranya untuk bahagia dan membuka hati untuk orang lain. Aku terlalu takut
untuk jatuh hati kembali. Aku belum siap untuk terluka dan dikecewakan kembali.
Dan aku akui memang aku pecundang. Tapi aku tak peduli dengan penilaian buruk
orang lain padaku, karena mereka tak tau apa yang sedang aku rasakan.
Intinya adalah trauma
di masalaluku belum kunjung sembuh. Dan itulah alasan mengapa aku selalu
bersikap dingin kepada orang yang mencoba untuk mendekatiku. Banyak yang
bertanya apa alasan aku bersikap sedemikian rupa, dan aku tak pernah bisa untuk
menjawabnya. Karena aku tak ingin menjelaskan hal yang tak bisa mereka
mengerti. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk aku menjelaskannya. Karena
selalu ada yang memprotesku dan memintaku untuk mengubah sikapku ini.
Tapi itu tak berlaku
dengannya. Sejak perkenalan kami pada 10 Maret 2016 lalu, dan kedekatan kami
yang terus berjalan. Semua itu membuatku merasakan apa yang belum pernah aku
rasakan kembali sejak enam tahun silam. Semua terjadi begitu cepat. Perkenalan.
Kedekatan. Bahkan perasaan ini. Aku tak mengerti kapan perasaan ini tumbuh. Aku
tak paham mengapa perasaan ini bisa tumbuh begitu cepat. Belum ada setahun aku
mengenalnya, bahkan setengah tahun pun belum ada. Tapi entah mengapa ini semua
bisa terjadi.
Awalnya aku merasa tak
apa jika dia pergi. Awalnya aku biasa saja ketika dia pergi. Dan awalnya aku
menganggap perasaan ini hanya sesaat. Ya AWALNYA. Tapi seiring berjalannya
waktu semua berubah. Aku merasa kehilangan atas kepergian dia. Aku selalu ingin
dekat dengannya. Menghubunginnya setiap waktu. Dan bertemu dengannya setiap
hari. Tapi aku sadar hal itu tak mungkin bisa aku lakukan. Aku tak mungkin
meminta orang untuk jangan pergi. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Aku tak ingin di cap sebagai wanita bodoh lagi. Aku capek.
Banyak cara yang udah
aku lakukan agar aku bisa mengikhlaskan dia, menerima sikap dia yang selalu
melakukan sesuatu sesuka hati dia. Tapi aku ga bisa. Semakin aku mencoba untuk
menghilangkan perasaan ini. Semakin dalam aku memikirkannya. Aku sudah coba
mengalihkan pikiranku agar aku tak bisa mengingatnya lagi. Tapi aku ga bisa.
Setiap malam, setiap aku ingin memejamkan mataku aku selalu teringat padanya.
Teringat setiap pertemuan kita, dan cerita yang telah kita buat. Meski hanya
tiga bulan, tapi semua itu tak mudah untuk aku lupakan.
Hanya dia yang
berhasil membuatku merasakan jatuh hati kembali. Hanya dia yang mampu membuatku
bahagia dalam sekejap dan menghempaskanku begitu saja hingga membuat luka yang
jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka karena masaluku.
Rasanya aku tak ingin
mengenalnya lagi. Aku tak ingin berkomunikasi dengannya. Aku ingin dia pergi
jauh dari kehidupanku. Tapi aku tak bisa. Aku sempat berada diujung amarahku
hingga aku memblokir semua kontak personnya dari telepon genggamku. Tapi
akhirnya aku yang menyesal. Aku urungkan niatku dengan melakukan unblock dari
telepon genggamku.
Aku juga pernah tak
membalas chatnya. Aku abaikan. Bukan karena aku dendam padanya karena dia
sering mengabaikan chat dariku, tapi karena aku ingin perlahan menjauh darinya
dan mencoba melupakan apa yang tengah dia lakukan padaku. Sekali lagi usahaku
SIA-SIA. Saat dia tak menghubungiku lagi aku berjanji untuk tidak
menghubunginya pula dan membalas chat darinya saat dia memulai percakapan
terlebih dulu. Semua itu hanya sebatas niatan yang omong kosong. Ya aku akui
itu hanya sekedar omong kosong belaka. Nyatanya aku tak bisa melakukan semua
niatanku. Mungkin belum bisa. Tapi sampai kapan aku bertingkah seperti anak
muda yang selalu labil? Untuk masalah hati, aku akui memang aku selalu
plin-plan, aku sulit untuk konsisten. Berbeda dengan kesaharianku yang tak
sedikit orang bilang aku ini tegas, bahkan galak.
Andai aku bisa memutar
ulang waktu. Aku ingin sekali kembali ke waktu dimana banyak yang bilang dia
tak pantas untukku. Karena aku menyesal aku lebih mengikuti kata hatiku yang
selalu yakin bahwa dia telah berubah dibanding mendengarkan kata mereka yang
jauh lebih lama mengenal dia dari pada aku.
Andai aku bisa memutar
ulang waktu. Aku tak ingin memberikan hatiku padanya. Aku tak ingin bersikap
baik dan welcome padanya. Andai bisa diulang. Sungguh aku akan bahagia. Aku
tidak akan merasakan sakit dan kecewa untuk kedua kalinya.
Dan andai dia tahu....
-NR-
No comments:
Post a Comment