Ini aneh rasanya. Aku tak mengerti dengan apa yang sekarang
aku rasakan. Semua sungguh membingungkan. Dulu aku berharap agar aku bisa jauh
darinya. Pergi meninggalkannya dan berhijrah ke tempat yang lebih baik. Dulu
aku berharap untuk tidak memikirkannya kembali. Membuang semua pikiran
tentangnya yang ada di otak ini. Dulu aku berharap, aku ingin menjauh darinya
dan tidak merindukannya. Namun sekarang… Saat aku sudah bisa untuk meninggalkannya
dan berhijrah ketempat yang jauh darinya. Pikiran ini masih tertuju padanya.
Bahkan diri ini, masih sangat merindukannya.
Aku tau ini yang aku mau dulu. Meninggalkan kota lama dan
pergi berhijrah ke kota baru. Meninggalkan dia dan tidak mengabarinya. Namun
entah mengapa,aku malah tersiksa dengan keadaan ini. Aku tau mungkin aku butuh
waktu lebih lama lagi untuk bisa melakukan semua itu. Berhenti untuk tidak
MERINDUKANNYA dan berhenti untuk tidak MEMIKIRKANNYA. Meski aku kadang bertanya
pada diriku sendiri. Sampai kapan aku harus seperti? Berada dalam baying-bayang
semu. Seolah aku berharap ada cahaya terang yang akan masuk dan memberikan
perubahan didalam hidupku. Sampai kapan aku harus merindukan seseorang yang
sudah seharusnya dari dulu aku lupakan. Apa kurang cukup tiga tahun sudah aku
hidup sendiri dan berusaha untuk melupakannya. Apa kurang cukup tiga tahun
sudah aku berusaha untuk melupakan perasaan ini. Apa kurang cukup waktu tiga
tahun aku perlahan menghapus memori ingatan tentang kenanganku bersamanya. Aku
tau memang kenangan ada bukan untuk dilupakan. Namun setidaknya, kenangan itu
tidak menghantui dan mengganggu kehidupanku.
Tuhan… Mengapa harus seperti ini? Jika dekat dengannya aku
tersiksa. Mengapa saat jauh dengannya aku lebih tersiksa? Mengapa semuanya
begitu sama? Mengapa semuanya tak ada yang berbeda? Yang aku ingin, ada
perbedaan diantara kedua itu. Yang aku ingin, saat aku jauh dengannya sekarang
aku bisa sedikit mengurangi perasaanku dan tidak merindukannya. Tapi mengapa
seperti ini jadinya?
Dia yang memulai. Aku yang mengakhiri. Namun mengapa dia
yang begitu mudahnya meninggalkan semua ini dan melupakannya? Mengapa hanya aku
yang selalu tersiksa dengan keadaan ini. Mengapa semua ini tak adil Tuhan
mengapa?
Aku benci saat aku harus mengakui aku masih menyayanginya.
Tapi aku juga benci saat aku harus mengelak bahwa aku masih menyayanginya. Aku
benci Tuhan! Aku benci!
Aku hanya ingin bahagia. Tertawa dengan lepas bersama
temanku seperti sebelum aku mengenalnya. Aku ingin merasakan jatuh cinta
kembali tanpa harus ada kebohongan dan pelarian agar aku dapat melupakannya.
Aku ingin itu Tuhan! Aku ingin itu!