Monday, August 31, 2015

Ini Tak Adil Tuhan!

Ini aneh rasanya. Aku tak mengerti dengan apa yang sekarang aku rasakan. Semua sungguh membingungkan. Dulu aku berharap agar aku bisa jauh darinya. Pergi meninggalkannya dan berhijrah ke tempat yang lebih baik. Dulu aku berharap untuk tidak memikirkannya kembali. Membuang semua pikiran tentangnya yang ada di otak ini. Dulu aku berharap, aku ingin menjauh darinya dan tidak merindukannya. Namun sekarang… Saat aku sudah bisa untuk meninggalkannya dan berhijrah ketempat yang jauh darinya. Pikiran ini masih tertuju padanya. Bahkan diri ini, masih sangat merindukannya.
Aku tau ini yang aku mau dulu. Meninggalkan kota lama dan pergi berhijrah ke kota baru. Meninggalkan dia dan tidak mengabarinya. Namun entah mengapa,aku malah tersiksa dengan keadaan ini. Aku tau mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa melakukan semua itu. Berhenti untuk tidak MERINDUKANNYA dan berhenti untuk tidak MEMIKIRKANNYA. Meski aku kadang bertanya pada diriku sendiri. Sampai kapan aku harus seperti? Berada dalam baying-bayang semu. Seolah aku berharap ada cahaya terang yang akan masuk dan memberikan perubahan didalam hidupku. Sampai kapan aku harus merindukan seseorang yang sudah seharusnya dari dulu aku lupakan. Apa kurang cukup tiga tahun sudah aku hidup sendiri dan berusaha untuk melupakannya. Apa kurang cukup tiga tahun sudah aku berusaha untuk melupakan perasaan ini. Apa kurang cukup waktu tiga tahun aku perlahan menghapus memori ingatan tentang kenanganku bersamanya. Aku tau memang kenangan ada bukan untuk dilupakan. Namun setidaknya, kenangan itu tidak menghantui dan mengganggu kehidupanku.
Tuhan… Mengapa harus seperti ini? Jika dekat dengannya aku tersiksa. Mengapa saat jauh dengannya aku lebih tersiksa? Mengapa semuanya begitu sama? Mengapa semuanya tak ada yang berbeda? Yang aku ingin, ada perbedaan diantara kedua itu. Yang aku ingin, saat aku jauh dengannya sekarang aku bisa sedikit mengurangi perasaanku dan tidak merindukannya. Tapi mengapa seperti ini jadinya?
Dia yang memulai. Aku yang mengakhiri. Namun mengapa dia yang begitu mudahnya meninggalkan semua ini dan melupakannya? Mengapa hanya aku yang selalu tersiksa dengan keadaan ini. Mengapa semua ini tak adil Tuhan mengapa?
Aku benci saat aku harus mengakui aku masih menyayanginya. Tapi aku juga benci saat aku harus mengelak bahwa aku masih menyayanginya. Aku benci Tuhan! Aku benci!
Aku hanya ingin bahagia. Tertawa dengan lepas bersama temanku seperti sebelum aku mengenalnya. Aku ingin merasakan jatuh cinta kembali tanpa harus ada kebohongan dan pelarian agar aku dapat melupakannya. Aku ingin itu Tuhan! Aku ingin itu!


Wednesday, August 5, 2015

ya kini aku tau...

dulu hati ini selalu gundah,
resah memikirkan apa yg tak seharusnya aku pikirkan.
galau merana,mungkin itu kata yg cocok untuk menggambarkan suasana hatiku saat itu.
bahasa kini yg sering dipakai oleh remaja.
masa yg selalu membuatku tak ingin melakukan hal apapun.
semenjak aku kehilangannya...
ya semenjak saat itu aku merasa jika hariku sudah gelap.
tak ada matahari yg menyinari disaat pagi.
dan tak ada bintang yg menerangi dikala malam.
semangat jiwa yg menggebu untuk beraktifitas.
telah hilang entah kemana.
yg aku tau hanya satu,aku kehilangannya.
waktu yg terus berlalu perlahan mengajarkan aku.
aku harus ikhlas. karena yg datang pasti akan pergi.
aku harus kuat.
saat kepergian menghampiriku.
aku harus melupakan. karena memang itu yg terbaik.
dan aku harus melangkah.
karena hidup akan terus berjalan, ada atau tanpa dia.
waktu juga yg mengajarkan aku.
mengajarkan aku arti dr ketulusan.
saat hati ini tak berharap terbalaskan.
mengajarkan dr arti kesabaran.
saat rasa rindu ini hanya bisa aku pendam.
ya, semua karena waktu.
waktu yg telah membuatku menyayanginya,
yg mampu membuatku menghilangkan rasa ini,
yg mampu membuatku tak memikirkannya lagi,
dan yg mampu membuatku menyayanginya kembali.
bukan hanya sekali saja waktu membuatku mengulangi semuanya.
mengulang untuk menghilangkan,tak memikirkannya bahkan menyayanginya kembali.
entah sudah berapa kali aku berada di fase ini.
yg aku tau kini aku kembali menyayanginya.
cinta yg entah memang masih tertinggal untuknya.
atau cinta ini memang datang kembali.
aku pernah berbicara namun pd akhirnya aku hanya dapat menelan kekecewaan.
aku tak tau sudah berapa kali aku kecewa,
mungkin sudah terlalu banyak menumpuk dihati hingga aku tak mampu menghitungnya.
tak dihargai atau memang dihargai aku tak bisa merasakaanya.
karena mata hatiku sudah ditutupi dengan rasa kecewa.
kini aku merasakannya kembali.
rasa yg hadir untuk dia.
namun aku tak ingin bicara.
mengingat pengalaman yg menyakitkan, aku memilih diam.
aku sering bertanya, sampai kapan aku harus menghilangkan lalu mengingatnya kembali?
sampai kapan cinta ini datang dan pergi sesuka hati?
dan sampai kapan aku harus berhenti bertanya dengan semua pertanyaan yg mengganggu pikiranku?
aku bersandar dalam sujudku.
mengadu pada sang pemilik hati ini.
bertanya apa yg sebenarnya terjadi. mengapa hati ini tak menentu, kadang hilang kadang hadir.
dan kini aku tau jawabnya... jawaban sederhana yg membuatku cukup akurat.
"hanya sang pemilik hati yg sesungguhnyalah yg maha pintar memutar balikan hati manusia"
sederhana bukan? yaa ini sangat sederhana dari apa yg aku pikirkan.
kini aku tau.
Dia lah yg selama ini membuat rasaku datang dan pergi.
bak angin yg selalu bisa datang dan pergi
tak pernah kita tau kapan kedatanganya dan kapan kepergiannya.
Dia lah yg selalu memutar balikan hatiku.
Dia pemilik hatiku sungguh hebat. meski memang aku tak pernah tau apa tujuannya.
ada hikmah apa dibalik semua ini.
namun aku percaya
Dia selalu memberikan yg terbaik untukku.
yg aku butuhkan, bukan aku inginkan.
dan aku percaya kepada pemilik hatiku.
jodoh tidak akan kemana.
dan tulang rusukku tidak akan salah tempat.
kini aku tau apa yg harus aku lakukan.
saat mulut ini berbicara dan membuat hati ini sakit.
aku tak ingin mengulanginya kembali.
sekarang aku memilih dalam diamku.
biarkan semua indah pada waktunya,
seperti yg sudah pemilik hatiku janjikan.
dan biarkan diamku ini menyakiti hatiku,
karena ini jauh lebih baik ketimbang aku berbicara.
jika memang rasa yg aku sembunyikan ini berbuah manis
seperti kisah cinta sayyidina ali dan fatimah ra, aku bersyukur berarti dia adalah jodohku.
namun jika tidak, aku pun bersyukur...
karena Dia telah membuatku sadar bahwa ia bukan yg terbaik untukku. "ya kini aku tau...."

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...