Friday, September 23, 2016

Suratku masih untukmu (13)

Assalamu'alaikum hey tuan manis.
Sedang apa disana? Masih bekerja? Aku harap kau selalu berada dalam lindungan-Nya. Ku dengar disana sedang marak pembegalan? Benar? Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu sering pulang malam. Aku sungguh khawatir jika setiap hari kau selalu pulang larut malam. Selain itu tak baik untuk kesehatanmu. Dan satu lagi, jangan terlalu sering bergadang. Kau bisa saja melarangku dan selalu marah jika insom ku kambuh, tapi kau sendiri bagaimana? Kau dan aku sama-sama insom bukan? Aku memang tidak bisa menang untuk mengalahkanmu jika sedang berdebat, tapi untuk yang satu ini kau pasti hanya akan terdiam.
Hey tuan manis,
Aku selalu lama dalam mengambil keputusan. Aku tak ingin terburu-buru karena banyak yang harus aku pertimbangkan. Meski memang terkadang aku suka mengambil keputusan berdasarkan asumsi dan emosiku yang sesaat. Tapi setelah itu aku menyadari, menyesali dan mencoba untuk memperbaikinya. Sama halnya ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita begitu saja hanya karena emosiku yang sesaat dan pikiranku yang sedang kacau. Ah tidak tidak. Aku disini tidak ingin flashback ke masa lalu.
Mengenai tuan berkumis. Aku sudah memutuskan untuk melupakan dan perlahan menjauh darinya. Aku tak ingin terus menerus seperti ini. Aku lelah. Pikiranku sungguh tak tenang. Selalu terbayang-bayang olehnya. Selalu memikirkan dan menduga-duga sesuatu yang belum tentu terjadi dan sulit untuk aku cari tahu kebenarannya. Hatikupun sama. Ia tak tenang. Ia selalu menjerit, bahkan menangis. Jangankan saat aku tengah sendiri, saat aku berada ditengah keramaian dia tak kuasa untuk menahan agar tidak rapuh. Mata ini pun sama. Ia seperti meminta padaku untuk menghentikan semua ini. Ia seperti tidak ingin aku menghabiskan air mataku begitu saja dengan percuma. Aku lelah. Sungguh lelah. Dan saat ini aku berada pada titik puncakku.
Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku sudah memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, membalas pesannya, bahkan menerima telpon darinya. Sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, dan kau lakukan terhadapku. Kita sama-sama berpikiran bagaimana caranya agar bisa hidup terbiasa tanpa aku dan tanpa kau bukan? Itu yang sekarang menjadi dasar pemikiranku. Aku ingin kembali hidup seperti biasa, seperti saat aku belum mengenalnya. Saat dia belum masuk kedalam kehidupanku dan menganggu ku. Aku ingin terbiasa tanpanya. Karena aku tak ingin hatiku dibuat sakit semakin dalam.
Mungkin ini hanya sesaat atau mungkin akan selamanya. Entahlah aku masih belum bisa memastikan. Untuk melakukannya saja aku masih takut jika usaha ini akan gagal kembali. Tapi aku yakin jika memang niatku dan usahaku keras pasti akan berhasil. Karena kerja keras tidak akan pernah mengkhianati kita.
Aku tidak salah bukan mengambil keputusan itu? Apa aku salah? Jelaskan padaku jika memang keputusan yang aku ambil itu salah. Bukannya aku ingin memutuskan tali silaturahmi dengannya, tapi aku pikir ini memang keputusan terbaik untukku saat ini. Dan jika memang keputusanku ini salah, bisakah kau bantu aku untuk menemukan keputusan yang tepat?
Mungkin hanya itu yang ingin aku tulis dalam surat ini. Aku masih terus berharap kau akan membalas suratku.
Jaga dirimu baik-baik. Aku merindukanmu.

Wasssalam.

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...