Assalamu'alaikum hey tuan manis.
Sedang apa disana? Masih bekerja? Aku harap kau selalu
berada dalam lindungan-Nya. Ku dengar disana sedang marak pembegalan? Benar?
Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu sering pulang malam. Aku sungguh khawatir
jika setiap hari kau selalu pulang larut malam. Selain itu tak baik untuk
kesehatanmu. Dan satu lagi, jangan terlalu sering bergadang. Kau bisa saja
melarangku dan selalu marah jika insom ku kambuh, tapi kau sendiri bagaimana?
Kau dan aku sama-sama insom bukan? Aku memang tidak bisa menang untuk mengalahkanmu
jika sedang berdebat, tapi untuk yang satu ini kau pasti hanya akan terdiam.
Hey tuan manis,
Aku selalu lama dalam mengambil keputusan. Aku tak ingin
terburu-buru karena banyak yang harus aku pertimbangkan. Meski memang terkadang
aku suka mengambil keputusan berdasarkan asumsi dan emosiku yang sesaat. Tapi
setelah itu aku menyadari, menyesali dan mencoba untuk memperbaikinya. Sama
halnya ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita begitu saja hanya
karena emosiku yang sesaat dan pikiranku yang sedang kacau. Ah tidak tidak. Aku
disini tidak ingin flashback ke masa lalu.
Mengenai tuan berkumis. Aku sudah memutuskan untuk
melupakan dan perlahan menjauh darinya. Aku tak ingin terus menerus seperti
ini. Aku lelah. Pikiranku sungguh tak tenang. Selalu terbayang-bayang olehnya.
Selalu memikirkan dan menduga-duga sesuatu yang belum tentu terjadi dan sulit
untuk aku cari tahu kebenarannya. Hatikupun sama. Ia tak tenang. Ia selalu
menjerit, bahkan menangis. Jangankan saat aku tengah sendiri, saat aku berada
ditengah keramaian dia tak kuasa untuk menahan agar tidak rapuh. Mata ini pun
sama. Ia seperti meminta padaku untuk menghentikan semua ini. Ia seperti tidak
ingin aku menghabiskan air mataku begitu saja dengan percuma. Aku lelah.
Sungguh lelah. Dan saat ini aku berada pada titik puncakku.
Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku sudah memutuskan untuk
tidak menghubunginya lagi, membalas pesannya, bahkan menerima telpon darinya.
Sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, dan kau lakukan terhadapku. Kita sama-sama
berpikiran bagaimana caranya agar bisa hidup terbiasa tanpa aku dan tanpa kau
bukan? Itu yang sekarang menjadi dasar pemikiranku. Aku ingin kembali hidup
seperti biasa, seperti saat aku belum mengenalnya. Saat dia belum masuk kedalam
kehidupanku dan menganggu ku. Aku ingin terbiasa tanpanya. Karena aku tak ingin
hatiku dibuat sakit semakin dalam.
Mungkin ini hanya sesaat atau mungkin akan selamanya.
Entahlah aku masih belum bisa memastikan. Untuk melakukannya saja aku masih
takut jika usaha ini akan gagal kembali. Tapi aku yakin jika memang niatku dan
usahaku keras pasti akan berhasil. Karena kerja keras tidak akan pernah
mengkhianati kita.
Aku tidak salah bukan mengambil keputusan itu? Apa aku
salah? Jelaskan padaku jika memang keputusan yang aku ambil itu salah. Bukannya
aku ingin memutuskan tali silaturahmi dengannya, tapi aku pikir ini memang
keputusan terbaik untukku saat ini. Dan jika memang keputusanku ini salah,
bisakah kau bantu aku untuk menemukan keputusan yang tepat?
Mungkin hanya itu yang ingin aku tulis dalam surat ini.
Aku masih terus berharap kau akan membalas suratku.
Jaga dirimu baik-baik. Aku merindukanmu.
Wasssalam.
-NR-
No comments:
Post a Comment