Sunday, November 24, 2019

Suratku Masih Untukmu (14)


Assalamu’alaikum hey tuan manis, apa kabar? Sudah sangat lama aku tidak mengirim surat untukmu. Maaf karena kesibukan kuliahku membuat aku tak sempat untuk berbagi ceritaku melalui surat ini. Mungkin kau tak akan mau mendengar alasannya, aku hanya ingin bercerita saja tanpa bermaksud untuk menjelaskan sebuah alasan padamu.
Hey tuan manis, sudah dua tahun lebih kita tidak berjumpa, untuk bertukar kabar pun sudah tidak pernah kita lakukan lagi. Aku tidak menuntut, aku hanya menyayangkan mengapa hubungan baik yang sudah kita bangun harus berakhir menjadi orang asing seperti ini. Tapi setiap hari, dan dari tahun ke tahun doaku tetap sama, semoga dimana pun kamu berada dalam keadaan baik-baik saja dan selalu dilindungi oleh Tuhan. Bagiku doa adalah langkah yang tepat ketika kita sedang merindukan seseorang.
Ada banyak cerita yang ingin aku tulis disini, tapi tidak akan mungkin aku ceritakan saat ini juga. Aku tak ingin kau bosan membacanya, sehingga membuat matamu sakit. Aku akan menceritakan bagian terpenting dalam hidupku yang membuat aku banyak belajar dari hal tersebut. Aku masih sama, masih berharap kau akan membaca surat ini diam-diam. Dan berdoa semoga kau selama ini menantikan kabar dan surat dariku. Lagi lagi aku terlalu percaya diri bukan? Aku harap kau dapat memakluminya.
Mungkin kau selama ini bertanya apakah aku sudah berhasil melupakan dirimu atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Hingga aku menutup matapun aku tidak akan pernah berhasil untuk melupakan dirimu. Hanya saja aku sudah berhasil mengikhlaskan apa yang sudah terjadi antara kau dan aku. Membiarkan aku berdamai dengan diriku sendiri. Memaafkan aku dan menerima segala ketetapan yang sudah Tuhan kasih. Aku sudah melepaskan perasaan ini untuk terbang bebas diangkasa, dengan harapan jika dia kembali dia akan membawa rasa yang baru. Rasa yang mampu menggantikan rasaku padamu, rasa yang membuatku kembali nyaman dengan lawan jenisku. Kau tau? Aku berkali-kali mencoba bertanya pada seseorang yang ahli bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu. Dan jawaban merekapun sama. Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, sebab kau sudah pernah hadir dalam hidupku mengukir cerita yang tidak akan bisa aku dapatkan dari orang lain. Mereka memberiku saran agar aku bisa lebih untuk mengikhlaskan segala jalan hidup yang sudah Tuhan beri padaku, dan bisa memaafkan diriku sendiri. Awalnya sulit untukku. Aku selalu coba mengalihkan pikiranku yang berawal dari ‘andai saja aku tidak mengakhiri hubungan kita’ menjadi ‘cepat atau lambat jika memang kita tidak berjodoh kita akan segera dipisahkan’, tetapi hal tersebut tidak mudah untuk aku lakukan. Berkali-kali aku tanamkan pikiran itu hingga akhirnya aku berhasil menerapkan pikiran itu kedalam kehidupanku ‘kelak jika memang kita berjodoh mau sejauh apapun jarak memisahkan jika Tuhan sudah berkehendak kita akan bertemu kembali’. Tidak mudah juga bagiku untuk bisa berdamai dengan diriku sendiri, memaafkan apa yang sudah pernah terjadi yang tidak lain semua karena kesalahanku. Mungkin benar kata orang, yang menjadi penyebab masalah adalah dirimu sendiri. Jika dari dulu aku sudah bisa memaafkan diriku dan berdamai dengan diri ini mungkin aku tidak akan bertahan dengan cinta sepihak ini untuk waktu enam tahun. Jangan tanya kapan aku sudah berhasil mengikhlaskanmu, karena aku sendiripun tak tahu jawabannya. Semua terjadi seiring berjalannya waktu.
Selama empat tahun aku merantau untuk melanjutkan pendidikanku, aku sama sekali tidak berhasil membuka hati untuk orang lain. Bukan karena aku ingin mendapatkan yang seperti dirimu, tetapi karena aku yang belum siap untuk terluka kembali. Mungkin aku sudah bercerita di surat sebelumnya bagaimana akhirnya aku dapat jatuh cinta kembali hingga akhirnya aku kembali terluka. Luka akan masa itu yang membuat aku semakin sulit untuk jatuh cinta dan membuka hati untuk orang lain. Aku pernah menjalin hubungan dengan teman sekolah menengah atasku. Saat duduk dibangku kelas sebelas, dia pernah mengutarakan perasaannya padaku, tetapi karena beberapa alasan kita tidak dapat menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. Kalau kau bertanya apakah aku menyayanginya? Jelas tidak. Aku hanya menyukainya karena dia laki-laki berbudi pekerti yang baik, dan bertanggung jawab. Tapi satu hal yang tidak pernah aku duga adalah ketika tiba-tiba dia mengutarakan perasaannya kembali saat aku sudah duduk dibangku kuliah semester empat. Jangan tanya bagaimana perasaanku, karena aku benar-benar terkejut. Aku sama sekali tidak menduga jika dia masih menyimpan perasaannya untukku. Disatu sisi aku bahagia karena masih ada orang yang tulus menyayangiku dari kejauhan, dan menungguku untuk waktu yang cukup lama itu. Namun disatu sisi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku bimbang, karena jujur dari awal dia mengutarakan perasaannya padaku aku tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Hingga akhirnya aku berpikir mungkin dia yang dikirim Tuhan untuk menggantikan posisimu dihati dan kehidupanku, dan aku pun bersedia untuk menjadi kekasihnya. Namun hubungan kami hanya berjalan satu bulan saja. Alasannya cukup aku dan dia yang tahu. Aku tidak marah apalagi menyesal telah menerimanya. Karena aku dapat mengambil hikmahnya dari semua ini. Kembali Tuhan mengingatkanku untuk beristirahat dari cinta yang salah.
Setelah dengannya hari-hariku berjalan seperti biasa. Aku dengan aktivitas perkuliahan ku dengan segudang tugas yang mengisi hari-hariku. Jangan tanya mengapa aku tidak mengikuti organisasi di kampus, karena kau sudah tau jawabannya. Jika kau penasaran apakah setelah itu aku pernah menjalin cinta kembali, jawabannya adalah tidak. Memang ada beberapa orang yang mencoba mendekatiku, namun aku mengusirnya dengan sikap dingin dan kejutekanku. Ada beberapa dari mereka yang lebih memilih untuk langsung pergi, namun ada juga beberapa dari mereka yang memilih untuk bertahan dan akhirnya memilih untuk pergi karena caraku yang menolak pernyataan dari mereka. Aku tidak berniat untuk berbuat jahat pada mereka, hanya saja aku ingin menjaga hatiku dari cinta yang salah, dari laki-laki hidung belang yang hanya gemar memainkan perasaan wanita. Terlebih aku memiliki trauma untuk membuka hati kembali akibat kejadian dimasa laluku. Mungkin bagimu aku jahat, dan aku tidak berharap kau akan memahami perasaanku. Karena bagaimana perasaanku, dan bagaimana traumaku biar aku dan Tuhan saja yang tahu.
Kau tau? Salah satu dari mereka ada yang benar-benar berjuang untuk memenangkan hatiku. Hampir satu tahun dia mencoba meruntuhkan dinding yang sudah ku bangun dan berusaha untuk bisa mendapatkan hatiku. Berkali-kali aku menolaknya, bahkan mengusirnya untuk pergi mencari yang lain. Namun berkali-kali juga dia menegaskan bahwa dia menyukaiku dengan sifatku yang tegas, berprinsip, tidak mudah untuk tergoda dengan laki-laki lain, dan segala keunikan ku yang sering membuat orang kesal ini. Aku kagum dengan dia, tetapi hati ini tetap pada pendiriannya, belum ingin untuk diganggu oleh siapapun. Aku pernah bercerita padanya tentang traumaku, karena dia selalu bertanya apa yang membuat aku bisa sampai seteguh ini. Hingga akhirnya aku mulai sedikit percaya jika dia adalah pria yang baik. Alasanku untuk memulai mempercayainya adalah karena dia juga mempunyai trauma dimasa lalunya. Hal tersebutlah yang membuat pandanganku terhadap dia berubah. Aku percaya jika orang yang mempunyai masalalu yang menyakitkan dia tidak akan pernah berani untuk menyakiti orang lain. Namun ternyata seiring berjalannya waktu aku temukan dia sudah memiliki kekasih. Aku sedikit kecewa, karena lagi-lagi kepercayaanku disalah gunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Namun aku baik-baik saja. Kekecewaanku ini tidak berarti apa-apa dibandingkan rasa kecewaku dahulu. Aku bersyukur karena kejadian ini. Kembali, aku banyak mengambil pelajaran dan hikmah dari semua ini. Pelajaran hidup yang sangat berharga.
Hey tuan manis, aku terlalu banyak bercerita bukan? Maafkan diri ini yang tidak bisa berhenti untuk bercerita padamu tentang bagaimana kehidupanku saat ini. Maaf karena aku masih menulis surat untukmu, karena melalui surat ini aku masih merasa kau masih menjadi bagian dalam kehidupanku. Aku hanya ingin menulis surat untukmu, kau ingin membacanya atau tidak itu adalah hakmu. Aku tidak akan memaksanya. Tapi tolong jangan memaksa aku untuk berhenti menulis surat untukmu, karena hanya ini yang dapat aku lakukan untuk mengobati rasa rinduku padamu.
Sudah ya? Ku rasa hari ini sudah cukup sampai disini. Aku akan melanjutkan kisahku setelah tanpamu di hari berikutnya. Jaga kesehatanmu, dan jaga dirimu baik-baik.
Aku pamit ya tuan manis, tapi pasti aku akan kembali.
Wassalam.



-NR-


No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...