Saturday, April 16, 2016

Suratku masih untukmu (7)

Assalamu'alaikum hei tuan manis,
Aku harap kau baik-baik saja, dan aku selalu berdoa semoga segala urusanmu lancar dan dipermudah. Maaf mungkin aku tak ingin lagi mencari tau kabar darimu, atau ingin mencari tau tentangmu. Aku sudah lelah. Aku bosan dengan semua ini. Jadi aku harap semoga kau mengerti keadaannya.
Hei tuan manis,
Kau tau kemarin air mata ini mengalir dengan derasnya. Dan kau tau apa penyebabnya? Kau. Ya kaulah penyebabnya. Mungkin saat kau membaca surat ini kau bertanya-tanya apa salahmu dan mengapa aku berlebihan. Iya? Sudah ku tebak.
Hei tuan manis,
Kau selalu tak menyadari apa kesalahanmu. Entah kau ini manusia yg kurang peka atau memang tak pernah peka. Aku sendiri masih belum dapat memahami sifatmu yg satu ini.
Hei tuan manis,
Aku berpikir salah apa aku ini hingga kau bersikap seperti itu. Kau selalu menganggapku tak pernah penting dimatamu, dan kau selalu mengabaikan ku. Bukan sekali dua kali tapi sering. Ya sering. Dan kau sadar itu? Oh tentunya tidak. Ya aku bisa paham. Aku dapat memahami semuanya. Aku cukup sabar. Mungkin orang lain sudah muak dengan kesabaranku. Mereka muak melihatku selalu sabar menghadapimu. Tapi aku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat mereka bertanya, "apa yg membuatmu bersabar seperti ini padahal kau sendiri tau kau selalu diabaikan dan tak pernah terlihat dimatanya?". Aku hanya bisa tersenyum dan berkata, "karena aku masih dapat bersabar". Saat mereka bertanya, "apa kau tak lelah?". Aku hanya bisa menjawab, "jika aku sudah lelah aku akan berhenti dengan sendirinya". Dan saat mereka bertanya, "kenapa kamu tidak bangkit saja?". Aku hanya bisa menjawab, "sudah berkali-kali aku coba bangkit namun upaya ku selalu saja gagal, akhirnya hati ini kembali lagi. Dan sekarang aku tau, aku yakin Tuhan pasti mempunyai rencana yg indah untukku". Dan saat mereka mengatakan aku bodoh, aku hanya bisa tersenyum dan berkata, "kebodohanku akan menjadikan aku kuat". Yaa, aku yakin, jika memang sekarang ini aku bodoh karena terus bertahan denganmu, dengan orang yg tak pernah menganggapku ada, namun aku percaya suatu saat nanti aku akan menjadi seseorang yg kuat. Karena dengan aku bertahan dengamu meski disia-siakan, aku akan mendapat pengalaman yg bisa aku jadikan pembelajaran. Tuhan tak pernah tidur. Dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Dan aku percaya, Tuhan tak mungkin membiarkanku seperti ini tanpa ada tujuan.
Hei tuan manis,
Kau tau kenapa aku menangis kemarin? Aku marah, aku marah padamu. Karena kau sangat membedakan aku dengan dia, dengan mereka. Aku hanya ingin berteman denganmu di sosial media. Tak ada maksud dan tujuan tertentu. Namun kau, kau bersikap dingin, seakan menolakku dengan mentah. Kau membiarkan mereka berteman denganmu di sosial media sedang aku tidak. Mungkin kau sekarang sedang berpikir, aku terlalu childish hanya karena masalah itu saja aku menangis. Kau salah tuan manis. Kau salah! Kejadian itu adalah puncaknya. Puncak dari kekesalanku padamu. Puncak dari rasa sabarku selama ini. Entah, entah kenapa aku sulit membendungnya kala itu. Mungkin karena batas kesabaranku sudah mencapai puncaknya kali ini. Dan aku sampai sekarang pun tak habis pikir, aku bisa semarah itu denganmu. Bukan hal biasa. Aku tak pernah bisa marah denganmu. Saat kau mengecewakanku beribu kali, aku diam. Aku tak marah. Begitu jg saat kau mengecewakan sahabatku, aku diam. Aku tak marah. Tapi kemarin, itu pertama kalinya aku marah denganmu.
Hei tuan manis,
Sadarkah akan sikapmu yg sering menyakitiku? Tolong hentikan semua itu. Lihat aku! Tengoklah aku! Aku ini manusia yg tampak, bukan jin atau pun malaikat. Aku ini manusia! Aku bisa dilihat! Tapi kenapa, kenapa kau tak pernah mau menyadari itu? Kenapa?! Aku mohon, tolong jelaskan semua ini. Jangan bungkam dan bisu secara terus-menerus. Kau punya mulut bukan? Kau tak gagu bukan? Tapi kenapa membuatmu bicara dan menjelaskan semuanya terasa sulit. Seperti membangun istana pasir diatas air. Aku hanya ingin kau bicara dan jelaskan semuanya padaku. Aku hanya ingin itu tuan manis! Baiklah. Terserah kau saja jika kau masih memilih bungkam. Tapi satu yg harus kau ketahui. Tolong jangan salahkan aku jika aku memilih berhenti dan pergi tak ingin mengenalmu lagi. Dan jangan salahkan aku juga, ketika rasa sayang ini berubah menjadi rasa benci. Perlu kau ketahui, hati ini sudah terlalu kecewa.
Hei tuan manis,
Aku pamit. Aku ingin kembali berjuang belajar, agar aku dapat memberikan ilmuku yg bermanfaat untuk calon anak didikku kelak. Aku pamit. Mungkin aku tak akan seperti dahulu lagi, menghubungimu dan menganggu kehidupanmu lagi. Mungkin saat ini aku benar-benar akan hilang dan tenggelam dari kehidupanmu. Jangan kau coba menghubungiku, karena aku tak akan meresponnya.
Hei tuan manis,
Maaf bukannya aku ingin memutus tali silaturahmi, bukannya aku ingin memutus pintu rezeki, namun saat ini aku benar-benar ingin sendiri. Ingin terbang bebas berkelana tanpamu. Tanpa bayang-bayang darimu. Dan yg pasti tanpa rasa sakit yg sering engkau taburkan. Aku pergi. Aku harap aku tak merindukanmu kembali dan mencoba menghubungimu kembali. Jika aku merindukanmu kelak, akan aku salurkan rindu ini melalui doa. Karena doa adalah saluran terampuh dalam menyampaikan pesan kita. Baik-baiklah kau disini. Berubahlah. Karena aku ingin kau menjadi sosok yg lebih baik lagi. Jaga dirimu baik-baik hei tuan manis.


Dari seseorang yg sudah terlalu kecewa padamu.

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...