Assalamu’alaikum
hey tuan manis,
Apa
kabarmu?Aku masih berharap kau disana baik-baik saja dan selalu berada dalam
lindungan-Nya. Jika kau penasaran dengan kabarku, aku disini baik-baik saja.
Seperti yang selalu aku bilang padamu, aku akan baik-baik saja. Insya Allah.
Mungkin
sudah cukup lama aku tak menulis surat untukmu. Seperti kataku disurat terakhir
yang aku kirim untukmu, mulai saat ini aku tak akan sering lagi menulis surat
untukmu.
Hey
tuan manis,
Maaf.
Karena aku sudah tak pernah mengabarimu lagi. Maaf. Karena aku sudah tak pernah
membalas komentarmu di sosial mediaku.
Dan maaf, karena aku perlahan menjauh darimu.
Aku
tak perlu mengutarakan kembali alasan mengapa aku melakukan itu. Sudah cukup
bagiku alasan yang aku keluarkan untukmu. Sekali lagi aku berharap semoga kau
mengerti.
Hey
tuan manis,
Tak
terasa ini tahun ketiga, kita tak merayakan hari kelahiran kita secara bersama.
Cukup lama bukan? Ya tentu. Namun meski begitu, aku masih ingat benar kapan
terakhir kita merayakan hari kelahiran kita secara bersama. Dan aku masih
ingat, kapan terakhir pula kita saling memberikan hadiah saat kita ulang tahun. Dan
itu tepat tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 2013.
Hadiah
yang terakhir aku beri kepadamu, mungkin bisa dibilang itu merupakan hadiah
yang special untukmu. Yang aku buat dengan usaha ku sendiri. Meski tak
mempunyai harga, namun itu mempunyai banyak cerita. Karena buku itu merupakan
saksi bisu perjalanan cerita kita. Aku kumpulkan semua cerita tentang kita yang telah aku buat. Lalu aku
gabungkan menjadi satu dalam bentuk buku. Dan sungguh sebenarnya tak terlintas
dalam pikiranku untuk membuatkan buku untukmu. Ide itu tiba-tiba terlintas
begitu saja dalam pikiranku. Dengan diberi saran oleh sahabat-sahabatku
mengenai niatanku untuk membuatkanmu sebuah buku, maka segera aku lancarkan
niatanku itu. Awalnya aku ragu, karena aku takut kau tak suka dengan buku yang
aku buat. Karena disitu terdapat banyak cerita kau dan aku yang tak perlu untuk
kita ingat kembali. Selain itu, aku juga ragu karena semua cerita yang ada
dibuku itu merupakan cerita nyata tentang kegalauanku. Namun akhirnya, aku
mantapkan niatanku itu untuk tetap terus dilanjutkan.
Dan
Alhamdulillah, saat aku membuatkan buku untukmu aku tak mengalami kesulitan
untuk membuatnya. Karena banyak pihak yang membantuku. Aku bersyukur karena
buku tersebut sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Tepat dihari jadi kamu, aku ditemani kedua temanku
mendatangi rumahmu. Memberikan kejutan kecil untukmu. Yang aku harap, kau tak
akan menyangkanya. Namun ternyata aku salah, kamu sudah begitu pintar untuk
bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun tak masalah bagiku. Karena masih bisa
memberikan kejutan dihari jadimu saja, sudah lebih dari cukup untukku merasa
bahagia.
Berbincang
cukup lama, hingga moment dimana aku harus memberi hadiah itu pun tiba. Dalam
hati aku masih merasakan ragu, “apa memang harus aku kasih buku ini untuknya?”.
Sebelum berangkat kerumahmu, sebenarnya aku ingin mengurungkan niatku itu.
Namun kedua temanku memaksaku untuk tidak mengurungkan niatku, dengan alasan
aku sudah capek membuatnya dan sekarang tinggal aku berikan kepada orangnya
saja masa ingin aku urungkan. Dan akhirnya, dengan bismillah aku tetap ingin
memberikanmu ini.
Aku
masih ingat bagaimana ekspresimu saat itu. Dan sampai detik ini pun, aku masih
mengingat semuanya dengan baik. Dan sekarang, aku berharap semoga buku itu
masih kau simpan dengan baik. Namun jika tidak, aku tak berhak untuk marah
karena semua itu hak kamu ingin menyimpannya atau tidak.
Hey
tuan manis,
Terakhir
kali kau memberikan hadiah untukku adalah sebuah bingkai yang berisika
foto-fotoku. Kau bersama dengan temanmu datang kerumahku dan memberikanku
kejutan kecil beserta hadiah. Awalnya aku sempat badmood ketika kamu mengabariku
bahwa kau tak jadi datang, namun ternyata itu hanyalah sebuah trikmu untuk membuatku
kesal dihari jadiku. Aku akui memang kala itu aku belum cukup pandai untuk bisa
menebak situasi dan kondisi hingga kau berhasil mengerjai aku.
Dan
jika kamu tau, hadiah kecil yang kau beri untukku, masih aku pajang rapih
didalam kamarku. Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk menurunkan pajangan
itu dari dinding. Karena aku menghargai apa yang telah kau lakukan untukku.
Ya,
itu tadi cerita kilasku mengenai tiga tahun lalu. Tak terasa bukan? Ya, aku pun
sama sepertimu. Tak menyangka waktu berlalu begitu cepatnya. Namun inilah
kehidupan, harus terus berjalan tak peduli betapa banyaknya kamu kehilangan
sesuatu dalam hidupmu.
Hey
tuan manis,
Ini
pertama kalinya aku tak berada di kota yang sama denganmu saat kau sedang
memperingati hari jadimu. Aku berharap ada atau tidaknya aku, kau masih bisa
merasakan kebahagiaan dihari jadimu. Dan aku tau, kau pasti bisa merasa bahagia
saat ini, karena kau banyak dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Dan
aku beruntung, banyak yang menyayangimu hingga detik ini.
Hey
tuan manis,
Selamat
ulang tahun. Selamat memperingati hari jadimu yang ke-19 tahun. Semoga kau bisa
memanfaatkan umurmu yang semakin tua ini dengan bijak. Semoga kau bisa
bertambah dewasa, berpikir sebelum bertindak dan berbicara. Semoga kau bisa
lebih berguna dan bermanfaat untuk semua orang, agama, nusa dan bangsa. Dan
semoga kau bisa menjadi pribadi yang lebih tegas dan bijak lagi.
Banyak
sebenarnya doa yang ingin aku tulis disini, namun bagiku mendoakanmu dalam
sujudku sudah lebih dari cukup. Yang aku berharap banyak darimu saat umurmu
bertambah ini. Kau tidak lagi membuat orang lain kecewa dengan sikapmu yang tak
bertanggung jawab itu. Cukup aku yang menjadi korban, jangan kau buat yang lain
bernasib sama sepertiku.
Hey
tuan manis,
Sejujurnya
aku ingin mengucapkan langsung padamu.Namun aku tak bisa melakukan itu. Jangan tanya
mengapa. Karena kau pasti sudah mengetahui jawabannya.
Aku
rindu, jika aku boleh jujur. Aku ingin kembali ke masa ketika kamu masih berada
disampingku. Tapi aku tau, itu tak akan mungkin bisa terjadi lagi. Cukup tenang
sekarang aku disini. Bahagia dengan kesendirianku. Dan nyaman dengan keadaanku
saat ini. Mungkin karena aku baru benar-benar merasa bagaimana indahnya
kehidupan dengan terbang bebas berkelana diangkasa. Mungkin juga karena aku
sudah berhasil mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku.
Kau
tak perlu bertanya mengapa aku bisa seperti ini. Kau juga tak perlu bertanya
siapa orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Oh tidak bukan
melupakanmu, lebih tepatnya mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku. Karena
melupakanmu adalah hal termustahil dalam hidupku. Kau adalah salah satu orang
yang berarti dalam hidupku. Berkatmu aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan
berkatmu pula aku banyak belajar mengenai arti kesabaran dan ketulusan. Kau
adalah pengalaman terbaik dalam hidupku.
Terimakasih
untuk semuanya. Sekal lagi selamat ulang tahun hey tuan manis.
Aku
pamit. Jangan menunggu surat dariku, karena aku sendiri masih belum tahu kapan
aku akan menulis lagi.
Jaga
dirimu baik-baik. Semoga kau selalu bahagia.
Salam
rindu dariku, orang yang masih terus berjuang menjadi lebih baik lagi.
Wassalam.
-NR-
No comments:
Post a Comment