Thursday, April 28, 2016

Suratku masih untukmu (8)

Assalamu’alaikum hey tuan manis,
Apa kabarmu?Aku masih berharap kau disana baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Jika kau penasaran dengan kabarku, aku disini baik-baik saja. Seperti yang selalu aku bilang padamu, aku akan baik-baik saja. Insya Allah.
Mungkin sudah cukup lama aku tak menulis surat untukmu. Seperti kataku disurat terakhir yang aku kirim untukmu, mulai saat ini aku tak akan sering lagi menulis surat untukmu.
Hey tuan manis,
Maaf. Karena aku sudah tak pernah mengabarimu lagi. Maaf. Karena aku sudah tak pernah membalas komentarmu di  sosial mediaku. Dan maaf, karena aku perlahan menjauh darimu.
Aku tak perlu mengutarakan kembali alasan mengapa aku melakukan itu. Sudah cukup bagiku alasan yang aku keluarkan untukmu. Sekali lagi aku berharap semoga kau mengerti.
Hey tuan manis,
Tak terasa ini tahun ketiga, kita tak merayakan hari kelahiran kita secara bersama. Cukup lama bukan? Ya tentu. Namun meski begitu, aku masih ingat benar kapan terakhir kita merayakan hari kelahiran kita secara bersama. Dan aku masih ingat, kapan terakhir pula kita saling memberikan hadiah saat kita ulang tahun. Dan itu tepat tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 2013.
Hadiah yang terakhir aku beri kepadamu, mungkin bisa dibilang itu merupakan hadiah yang special untukmu. Yang aku buat dengan usaha ku sendiri. Meski tak mempunyai harga, namun itu mempunyai banyak cerita. Karena buku itu merupakan saksi bisu perjalanan cerita kita. Aku kumpulkan semua cerita  tentang kita yang telah aku buat. Lalu aku gabungkan menjadi satu dalam bentuk buku. Dan sungguh sebenarnya tak terlintas dalam pikiranku untuk membuatkan buku untukmu. Ide itu tiba-tiba terlintas begitu saja dalam pikiranku. Dengan diberi saran oleh sahabat-sahabatku mengenai niatanku untuk membuatkanmu sebuah buku, maka segera aku lancarkan niatanku itu. Awalnya aku ragu, karena aku takut kau tak suka dengan buku yang aku buat. Karena disitu terdapat banyak cerita kau dan aku yang tak perlu untuk kita ingat kembali. Selain itu, aku juga ragu karena semua cerita yang ada dibuku itu merupakan cerita nyata tentang kegalauanku. Namun akhirnya, aku mantapkan niatanku itu untuk tetap terus dilanjutkan.
Dan Alhamdulillah, saat aku membuatkan buku untukmu aku tak mengalami kesulitan untuk membuatnya. Karena banyak pihak yang membantuku. Aku bersyukur karena buku tersebut sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Tepat  dihari jadi kamu, aku ditemani kedua temanku mendatangi rumahmu. Memberikan kejutan kecil untukmu. Yang aku harap, kau tak akan menyangkanya. Namun ternyata aku salah, kamu sudah begitu pintar untuk bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun tak masalah bagiku. Karena masih bisa memberikan kejutan dihari jadimu saja, sudah lebih dari cukup untukku merasa bahagia.
Berbincang cukup lama, hingga moment dimana aku harus memberi hadiah itu pun tiba. Dalam hati aku masih merasakan ragu, “apa memang harus aku kasih buku ini untuknya?”. Sebelum berangkat kerumahmu, sebenarnya aku ingin mengurungkan niatku itu. Namun kedua temanku memaksaku untuk tidak mengurungkan niatku, dengan alasan aku sudah capek membuatnya dan sekarang tinggal aku berikan kepada orangnya saja masa ingin aku urungkan. Dan akhirnya, dengan bismillah aku tetap ingin memberikanmu ini.
Aku masih ingat bagaimana ekspresimu saat itu. Dan sampai detik ini pun, aku masih mengingat semuanya dengan baik. Dan sekarang, aku berharap semoga buku itu masih kau simpan dengan baik. Namun jika tidak, aku tak berhak untuk marah karena semua itu hak kamu ingin menyimpannya atau tidak.
Hey tuan manis,
Terakhir kali kau memberikan hadiah untukku adalah sebuah bingkai yang berisika foto-fotoku. Kau bersama dengan temanmu datang kerumahku dan memberikanku kejutan kecil beserta hadiah. Awalnya aku sempat badmood ketika kamu mengabariku bahwa kau tak jadi datang, namun ternyata itu hanyalah sebuah trikmu untuk membuatku kesal dihari jadiku. Aku akui memang kala itu aku belum cukup pandai untuk bisa menebak situasi dan kondisi hingga kau berhasil mengerjai aku.
Dan jika kamu tau, hadiah kecil yang kau beri untukku, masih aku pajang rapih didalam kamarku. Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk menurunkan pajangan itu dari dinding. Karena aku menghargai apa yang telah kau lakukan untukku.
Ya, itu tadi cerita kilasku mengenai tiga tahun lalu. Tak terasa bukan? Ya, aku pun sama sepertimu. Tak menyangka waktu berlalu begitu cepatnya. Namun inilah kehidupan, harus terus berjalan tak peduli betapa banyaknya kamu kehilangan sesuatu dalam hidupmu.
Hey tuan manis,
Ini pertama kalinya aku tak berada di kota yang sama denganmu saat kau sedang memperingati hari jadimu. Aku berharap ada atau tidaknya aku, kau masih bisa merasakan kebahagiaan dihari jadimu. Dan aku tau, kau pasti bisa merasa bahagia saat ini, karena kau banyak dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Dan aku beruntung, banyak yang menyayangimu hingga detik ini.
Hey tuan manis,
Selamat ulang tahun. Selamat memperingati hari jadimu yang ke-19 tahun. Semoga kau bisa memanfaatkan umurmu yang semakin tua ini dengan bijak. Semoga kau bisa bertambah dewasa, berpikir sebelum bertindak dan berbicara. Semoga kau bisa lebih berguna dan bermanfaat untuk semua orang, agama, nusa dan bangsa. Dan semoga kau bisa menjadi pribadi yang lebih tegas dan bijak lagi.
Banyak sebenarnya doa yang ingin aku tulis disini, namun bagiku mendoakanmu dalam sujudku sudah lebih dari cukup. Yang aku berharap banyak darimu saat umurmu bertambah ini. Kau tidak lagi membuat orang lain kecewa dengan sikapmu yang tak bertanggung jawab itu. Cukup aku yang menjadi korban, jangan kau buat yang lain bernasib sama sepertiku.
Hey tuan manis,
Sejujurnya aku ingin mengucapkan langsung padamu.Namun aku tak bisa melakukan itu. Jangan tanya mengapa. Karena kau pasti sudah mengetahui jawabannya.
Aku rindu, jika aku boleh jujur. Aku ingin kembali ke masa ketika kamu masih berada disampingku. Tapi aku tau, itu tak akan mungkin bisa terjadi lagi. Cukup tenang sekarang aku disini. Bahagia dengan kesendirianku. Dan nyaman dengan keadaanku saat ini. Mungkin karena aku baru benar-benar merasa bagaimana indahnya kehidupan dengan terbang bebas berkelana diangkasa. Mungkin juga karena aku sudah berhasil mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku.
Kau tak perlu bertanya mengapa aku bisa seperti ini. Kau juga tak perlu bertanya siapa orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Oh tidak bukan melupakanmu, lebih tepatnya mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku. Karena melupakanmu adalah hal termustahil dalam hidupku. Kau adalah salah satu orang yang berarti dalam hidupku. Berkatmu aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan berkatmu pula aku banyak belajar mengenai arti kesabaran dan ketulusan. Kau adalah pengalaman terbaik dalam hidupku.
Terimakasih untuk semuanya. Sekal lagi selamat ulang tahun hey tuan manis.
Aku pamit. Jangan menunggu surat dariku, karena aku sendiri masih belum tahu kapan aku akan menulis lagi.
Jaga dirimu baik-baik. Semoga kau selalu bahagia.
Salam rindu dariku, orang yang masih terus berjuang menjadi lebih baik lagi.

Wassalam.

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...