Thursday, July 28, 2016

Hal yang Tak Terduga (2)

Aku pernah gagal lalu bangkit kembali. Berkali-kali jatuh bangun karena orang yang sama. Aku pernah berjuang sendiri. Aku pernah bertahan lalu tak dianggap. Dan pada akhirnya apa yang aku lakukan sia-sia. Hanya sebuah pelajaran yang aku dapatkan. Dan saat ini, aku dikecewakan kembali dengan orang yang berbeda.
Dia yang telah mampu membuatku bisa membuka hati kembali. Dia yang berbeda dari semua laki-laki yang aku kenal. Dia yang mampu membuatku menjadi diri sendiri. Dan dia juga yang mampu membuatku merasakan kecewa kembali, merasakan kecewa dalam waktu dekat. 
Nyatanya pemikiran positif yang aku bangun untuk dia salah. Begitu juga kepercayaan yang aku bangun utuk dia. 
Saat orang lain berkata buruk tentangnya. Saat orang lain mencibirnya. Saat orang lain melarangku untuk dekat dengannya. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan apa kata mereka. Karena menurutku penilaian belum tentu benar. Dan bisa saja mereka hanya melihatnya dari luar, tanpa mengetahui bagaimana dia sebenarnya. Atau mungkin bisa saja dia sudah berubah menjadi lebih baik. Dan aku tak ingin mengetahui masa lalunya, karena yang penting untukku adalah bagaimana dia saat ini.
Aku coba untuk mengenal dia lebih dekat. Mengetahui segala aktifitas dan kebiasan-kebiasaannya. Tingkah lakunya serta pemikirannya terhadap kehidupan. Sebulan, dua bulan, tiga bulan dan hingga saat ini sudah empat bulan lebih aku mengenalnya. Meski begitu aku sudah cukup untuk mengenalnya, dan mengetahui bagaimana karakternya. Aku memang tak butuh waktu lama untuk mengenal dan memahami karakter seseorang.
Dan sekarang, saat aku sudah bisa melupakannya. Meninggalkan cerita kelamku dengannya. Mulai memberanikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku tentang bagaimana perasaanku saat ini. Dan mulai memberanikan diri memperkenalkan sosok yang saat ini tengah dekat denganku. Saat itu juga dia hancurkan semuanya.
Sikap dia berubah. Sangat berubah. Entah apa aku yang salah atau memang dia sudah mulai bosan denganku atau memang ada yang lain. Aku tak ingin berburuk sangka terlebih dahulu sebelum mengetahui dari mulutnya langsung. Karena aku tak ingin memikirkan hal yang belum tentu benar adanya.
Sampai pada akhirnya rasa penasaranku ini sampai pada puncaknya. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya apakah dia ada yang lain, dan jawaban dia adalah 'tidak, aku tidak punya yang lain'. Namun entah mengapa jawaban itu tidak membuat hatiku puas dan percaya. Karena aku dekat dengan laki-laki bukan sekali dua kali. Dan bukan sekali dua kali pula aku mendengar cerita dari temanku mengenai sosok yang tengah dekat atau sedang menjalin hubungan dengannya. Jadi aku paham alasan perubahan sikap laki-laki. Bukannya aku berprasangka buruk tentangnya namun hanya saja semua bukti mengarah kearah yang aku takutkan.
Memang bukan urusanku jika dia tengah dekat dengan perempuan lain. Karena disini aku sadar, dia bukan milikku. Hanya saja aku yang bodoh telah membangun harapan ditengah hubungan yang belum pasti adanya. Dan sekarang aku sadar, dia dihadirkan Tuhan kedalam hidupku bukan untuk menetap melainkan hanya singgah untuk sementara.
Jika ditanya, 'sakit tidak merasakan kecewa kembali dalam waktu yang dekat?' Tentunya 'Ya', namun aku tak bisa berbuat banyak karena aku percaya ini takdir yang terbaik yang Tuhan beri untukku. Sekarang aku hanya bisa mengambil pelajaran dari semua ini bahwa tak ada yang lebih indah selain berharap pada-Nya. Karena hanya Dia yang mampu membolak-balikan hati manusia. Tak ada yang bisa mengetahui satu menit atau satu tahun kemudian, jika Dia berkehendak maka semuanya pasti akan terjadi. Termasuk mengalihkan perasaan seseorang. Berharap pada sesama hanya menimbulkan kekecewaan, dan sudah dua kali aku mengalaminya. Bodoh? Ya, aku sadar aku bodoh. Namun siapa yang bisa menahan agar harapan itu tak tumbuh? Jika aku boleh memilihpun, aku ingin mengulangnya dan bersikap dingin sama seperti biasa aku bersikap kepada lawan jenis. Hal yang tak terduga yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Namun aku percaya ini cara Tuhan untuk membuatku menjadi lebih kuat lagi. 
Terimakasih aku ucapkan untuk dia yang telah cukup memberiku pelajaran. Aku harap tidak ada perempuan diluar sana yang merasakan hal sama sepertiku. 
Aku hanya bisa berpesan lewat tulisan ini, jangan lagi menganggap bahwa wanita bisa kau dekati dan kau tinggalkan sesuka hati, karena perasaan wanita terlalu peka dan wanita terlalu rapuh untuk kau tinggalkan begitu saja. Wanita bukan boneka yang bisa kau mainkan begitu saja, dia punya perasaan yang lembut. Kau punya ibu bukan? Kau punya adik perempuan bukan? Bayangkan jika mereka tersakiti, apakah kau tak akan marah? Bersikaplah dewasa sesuai dengan umurmu yang sekarang. Kau juga pasti pernah bukan sakit hati? Pasti kau tau bagaimana rasanya.
Tenang aku tak akan marah. Karena rasa kecewa yang aku rasakan saat ini belum seberapa dibanding rasa kecewa yang sebelumnya pernah aku rasakan. Kau dan semua yang kau berikan padaku belum seberapa dibandingkan dia. Jadi kecewa yang aku alami karenamu tidak terlalu sakit. Karena harapan dan perasaanku tidak sebesar rasa sayangku untuk dia, orang yang tiga tahun pernah bersamaku.

-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...