Friday, August 5, 2016

Suratku masih untukmu (9)

Assalamu'alaikum hey tuan manis,
Bagaimana kabarmu? Lama tak menulis surat untukmu. Dan lama tak mendengar kabar tentangmu. Ingin rasanya aku memulai percakapan terlebih dulu, namun aku tak bisa melakukannya. Maaf aku bukannya seperti anak kecil yang lebih memikirkan egonya dari pada hal lainnya. Namun ada alasan yang tak perlu untuk aku beri tahu padamu, aku harap kau dapat memahaminya. Semoga kau baik-baik saja disana. Oh ya bagaimana pekerjaanmu? Apakah kau masih bekerja ditempat yang sama? Aku berdoa semoga pekerjaanmu dapat lebih baik lagi dan selalu diberi kelancaran dalam mengais rezeki yang halal dijalan Allah. Amiin
Hey tuan manis,
Aku sangat rindu padamu. Aku ingin sekali bertemu dan bercerita banyak padamu, seperti yang biasa kita lakukan dulu saat liburan sekolah memaksa kita untuk jarang bertemu. Kau bercerita mengenai liburanmu, dan aku bercerita mengenai liburanku. Namun aku sadar, dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Waktu sudah berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah empat tahun sudah kita berpisah.
Aku rindu padamu. Aku ingin mengutarakannya padamu. Mengirim pesan singkat hanya untuk mengatakan aku rindu padamu. Tapi aku sadar, aku tak bisa melakukannya. Sudah terlalu banyak perubahan yang ada pada dirimu hingga aku sendiri merasa sudah tidak mengenalimu saat ini. Terlalu banyak ketakutan untuk memulai percakapan terlebih dulu, itu salah satu alasan mengapa aku tak ingin memulainya. Aku ingin kau yang memulainya. Aku ingin kau yang melakukannya. Dan aku menunggu kau hingga saat ini. Namun sayangnya kau masih tak mengerti juga. Kau masih belum sadar bahwa aku menunggu kabar darimu. Menunggu kau yang memulai percakapan terlebih dulu. Menunggu kau yang mengajakku untuk bertemu. Bukan hanya aku saja, tapi mereka juga. Ketiga sahabatmu pun sama halnya sepertiku. Lantas kapan kau akan menyadari itu semua hey tuan manis?
Andai saja kau tau kemarahan mereka saat ini. Mungkin kau akan menyesalinya dan meminta maaf padanya. Sejujurnya aku ingin memberi tahumu. Aku ingin menyudahi permasalahan diantara kau dan mereka. Ya, hanya kau dan mereka saja tanpa aku. Karena bagiku, kau tak memberi kabar selamanya pun aku tak apa. Meski memang ada rindu yang besar yang harus aku singkirkan, namun aku bisa mengatasinya. Tapi mereka? Permasalahan aku dan kau berbeda dengan permasalahan mereka dan kau. Perubahan yang ada pada dirimu saat ini yang membuat mereka marah dan kecewa padamu. Kau tak pernah memberi kabar terlebih dulu pada kami. Kau selalu ingin kami yang memulainya terlebih dulu. Bahkan saat idul fitri kemarin pun tak ada sepatah katapun yang kau keluarkan untuk kami. Kau mengetahui kontak kami tapi kau tak mengirimkan pesan apapun pada kami. Andai kau tau, kami ingin sekali mengirimkan permintaan maaf padamu namun kami urungkan niat kami itu. Karena darimu saja tak ada niata baik untuk memulai terlebih dulu. Dan kau tau apa yang membuat kami semakin kecewa dan marah padamu? Kau tau kami sudah pulang dan menikmati liburan bersama keluarga dan teman-teman disini, tapi kau sama sekali tidak mengajak kami untuk bertemu melepas rindu. Jangan berpikiran bahwa kami ini seperti anak kecil. Oh ayolah hey tuan manis... Berpikirlah sejenak. Pikirkan mengapa kami bisa kecewa dan semarah ini padamu. Kau sudah dewasa bukan? Pastinya kau akan memikirkan hal ini dengan bijak.
Hey tuan manis,
Aku tak bisa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada hubungan kalian. Sulit untukku memutuskan yang terbaik untuk kalian. Aku tak ingin jika aku membantu masalah kalian aku dianggap lemah dan selalu membelamu. Tapi aku juga tak ingin kalian terus menerus berdiam diri seperti ini. Sejujurnya aku pun malas untuk ikut campur kembali dengan masalah kalian. Kau ingat sudah berapa kali aku menasihatimu dengan kata-kata yang bukan sepatah dua kata aku keluarkan untukmu? Sudah berapa waktu yang aku keluarkan untuk memberi tahu kesalahan-kesalahan yang kau lakukan, kau ingat? Aku capek jika kau tau. Semua nasihat, kritik, dan saran yang sudah aku keluarkan untukmu tak kau terapkan untuk memperbaiki setiap kesalahanmu. Aku capek selalu kau abaikan begitu saja. Lantas jika keadaannya sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan sekarang? Beri tahu aku. Bantu aku. Aku sungguh bimbang.
Setiap hari aku berdoa semoga ada jalan terbaik untuk permasalahan ini. Aku tak pernah absen mendoakan kalian dan menyebut nama kalian dalam sholatku. Aku meminta jalan terbaik agar kita semua dapat berkumpul seperti dahulu kala tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Aku meminta agar kalian selalu diberi hati yang bersih agar tak ada dendam atau amarah sedikitpun. Dan aku meminta agar persahabatan yang sudah kita jalin selama kurang lebih delapan tahun ini akan terus berlanjut hingga kita menua nanti. Aku sangat rindu ketika kita dapat berkumpul bersama seperti dulu. Tak kenal waktu bahkan lupa akan waktu ketika tawa sudah mampu membuat kita nyaman dengan keadaannya.
Hey tuan manis,
Kapan kita dapat berkumpul seperti dulu? Kapan permasalahan ini akan berakhir? Kapan rasa gengsi yang ada pada diri kalian akan selesai? Beri tahu aku kapan waktu indah itu akan datang. Aku lelah dengan keadaan ini. Aku tau ini merupakan ujian didalam sebuah persahabatan. Aku sangat paham benar. Tapi jika tidak ada yang mengalah dan mau menyelesaikannya apakah perang dingin ini akan terus berlangsung hingga kita tua nanti? Tolong jawab aku apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan tolong jangan beri aku jawaban yang tak ingin aku dengar.
Aku harap dengan surat ini dapat membuatmu sadar dan mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara kau dan mereka. Aku percaya kamu sudah dewasa. Aku percaya mereka mempunyai hati dan jiwa yang besar.
Hey tuan manis,
Mungkin cukup sekian surat dariku. Hari ini tepat pukul 02.30 WIB dan aku belum tertidur sejak aku bangun kemarin pagi. Kau tau bukan mengenai insomniaku? Insomniaku tak kunjung sembuh, mungkin bahkan semakin parah dari sebelumnya. Tapi aku bersyukur aku dapat memanfaatkan insomniaku dengan menulis dan membuat cerita untuk novelku nanti. Doakan aku semoga aku dapat menyelesaikan novel pertamaku ini dengan baik.


Tertanda,
Masalalumu yang sudah dapat bangkit.

Wassalam.


-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...