Assalamu'alaikum hey
tuan manis,
Bagaimana kabarmu?
Lama tak menulis surat untukmu. Dan lama tak mendengar kabar tentangmu. Ingin
rasanya aku memulai percakapan terlebih dulu, namun aku tak bisa melakukannya.
Maaf aku bukannya seperti anak kecil yang lebih memikirkan egonya dari pada hal
lainnya. Namun ada alasan yang tak perlu untuk aku beri tahu padamu, aku harap
kau dapat memahaminya. Semoga kau baik-baik saja disana. Oh ya bagaimana
pekerjaanmu? Apakah kau masih bekerja ditempat yang sama? Aku berdoa semoga
pekerjaanmu dapat lebih baik lagi dan selalu diberi kelancaran dalam mengais
rezeki yang halal dijalan Allah. Amiin
Hey tuan manis,
Aku sangat rindu
padamu. Aku ingin sekali bertemu dan bercerita banyak padamu, seperti yang
biasa kita lakukan dulu saat liburan sekolah memaksa kita untuk jarang bertemu.
Kau bercerita mengenai liburanmu, dan aku bercerita mengenai liburanku. Namun
aku sadar, dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Waktu sudah berlalu begitu cepat
hingga tak terasa sudah empat tahun sudah kita berpisah.
Aku rindu padamu. Aku
ingin mengutarakannya padamu. Mengirim pesan singkat hanya untuk mengatakan aku
rindu padamu. Tapi aku sadar, aku tak bisa melakukannya. Sudah terlalu banyak
perubahan yang ada pada dirimu hingga aku sendiri merasa sudah tidak
mengenalimu saat ini. Terlalu banyak ketakutan untuk memulai percakapan
terlebih dulu, itu salah satu alasan mengapa aku tak ingin memulainya. Aku
ingin kau yang memulainya. Aku ingin kau yang melakukannya. Dan aku menunggu
kau hingga saat ini. Namun sayangnya kau masih tak mengerti juga. Kau masih
belum sadar bahwa aku menunggu kabar darimu. Menunggu kau yang memulai
percakapan terlebih dulu. Menunggu kau yang mengajakku untuk bertemu. Bukan
hanya aku saja, tapi mereka juga. Ketiga sahabatmu pun sama halnya sepertiku.
Lantas kapan kau akan menyadari itu semua hey tuan manis?
Andai saja kau tau
kemarahan mereka saat ini. Mungkin kau akan menyesalinya dan meminta maaf
padanya. Sejujurnya aku ingin memberi tahumu. Aku ingin menyudahi permasalahan
diantara kau dan mereka. Ya, hanya kau dan mereka saja tanpa aku. Karena
bagiku, kau tak memberi kabar selamanya pun aku tak apa. Meski memang ada rindu
yang besar yang harus aku singkirkan, namun aku bisa mengatasinya. Tapi mereka?
Permasalahan aku dan kau berbeda dengan permasalahan mereka dan kau. Perubahan
yang ada pada dirimu saat ini yang membuat mereka marah dan kecewa padamu. Kau
tak pernah memberi kabar terlebih dulu pada kami. Kau selalu ingin kami yang
memulainya terlebih dulu. Bahkan saat idul fitri kemarin pun tak ada sepatah
katapun yang kau keluarkan untuk kami. Kau mengetahui kontak kami tapi kau tak
mengirimkan pesan apapun pada kami. Andai kau tau, kami ingin sekali
mengirimkan permintaan maaf padamu namun kami urungkan niat kami itu. Karena
darimu saja tak ada niata baik untuk memulai terlebih dulu. Dan kau tau apa
yang membuat kami semakin kecewa dan marah padamu? Kau tau kami sudah pulang
dan menikmati liburan bersama keluarga dan teman-teman disini, tapi kau sama
sekali tidak mengajak kami untuk bertemu melepas rindu. Jangan berpikiran bahwa
kami ini seperti anak kecil. Oh ayolah hey tuan manis... Berpikirlah sejenak.
Pikirkan mengapa kami bisa kecewa dan semarah ini padamu. Kau sudah dewasa
bukan? Pastinya kau akan memikirkan hal ini dengan bijak.
Hey tuan manis,
Aku tak bisa untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada pada hubungan kalian. Sulit untukku
memutuskan yang terbaik untuk kalian. Aku tak ingin jika aku membantu masalah
kalian aku dianggap lemah dan selalu membelamu. Tapi aku juga tak ingin kalian
terus menerus berdiam diri seperti ini. Sejujurnya aku pun malas untuk ikut
campur kembali dengan masalah kalian. Kau ingat sudah berapa kali aku
menasihatimu dengan kata-kata yang bukan sepatah dua kata aku keluarkan
untukmu? Sudah berapa waktu yang aku keluarkan untuk memberi tahu
kesalahan-kesalahan yang kau lakukan, kau ingat? Aku capek jika kau tau. Semua
nasihat, kritik, dan saran yang sudah aku keluarkan untukmu tak kau terapkan
untuk memperbaiki setiap kesalahanmu. Aku capek selalu kau abaikan begitu saja.
Lantas jika keadaannya sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan sekarang?
Beri tahu aku. Bantu aku. Aku sungguh bimbang.
Setiap hari aku berdoa
semoga ada jalan terbaik untuk permasalahan ini. Aku tak pernah absen mendoakan
kalian dan menyebut nama kalian dalam sholatku. Aku meminta jalan terbaik agar
kita semua dapat berkumpul seperti dahulu kala tanpa ada rasa canggung
sedikitpun. Aku meminta agar kalian selalu diberi hati yang bersih agar tak ada
dendam atau amarah sedikitpun. Dan aku meminta agar persahabatan yang sudah
kita jalin selama kurang lebih delapan tahun ini akan terus berlanjut hingga
kita menua nanti. Aku sangat rindu ketika kita dapat berkumpul bersama seperti
dulu. Tak kenal waktu bahkan lupa akan waktu ketika tawa sudah mampu membuat
kita nyaman dengan keadaannya.
Hey tuan manis,
Kapan kita dapat
berkumpul seperti dulu? Kapan permasalahan ini akan berakhir? Kapan rasa gengsi
yang ada pada diri kalian akan selesai? Beri tahu aku kapan waktu indah itu
akan datang. Aku lelah dengan keadaan ini. Aku tau ini merupakan ujian didalam
sebuah persahabatan. Aku sangat paham benar. Tapi jika tidak ada yang mengalah
dan mau menyelesaikannya apakah perang dingin ini akan terus berlangsung hingga
kita tua nanti? Tolong jawab aku apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan
tolong jangan beri aku jawaban yang tak ingin aku dengar.
Aku harap dengan surat
ini dapat membuatmu sadar dan mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi
diantara kau dan mereka. Aku percaya kamu sudah dewasa. Aku percaya mereka
mempunyai hati dan jiwa yang besar.
Hey tuan manis,
Mungkin cukup sekian
surat dariku. Hari ini tepat pukul 02.30 WIB dan aku belum tertidur sejak aku
bangun kemarin pagi. Kau tau bukan mengenai insomniaku? Insomniaku tak kunjung
sembuh, mungkin bahkan semakin parah dari sebelumnya. Tapi aku bersyukur aku
dapat memanfaatkan insomniaku dengan menulis dan membuat cerita untuk novelku
nanti. Doakan aku semoga aku dapat menyelesaikan novel pertamaku ini dengan
baik.
Tertanda,
Masalalumu yang sudah
dapat bangkit.
Wassalam.
-NR-
No comments:
Post a Comment