Wednesday, November 4, 2015

suratku masih untukmu (1)

Assalamu'alaikum wahai tuan berwajah manis...
bagaimana kabarmu? aku selalu berdoa semoga engkau baik-baik saja. bagaimana dengan kerjaanmu? aku berharap selalu diberi kelancaran. engkau tak perlu khawatir, aku disini baik-baik saja. hanya saja aku masih tak percaya bahwa kita sudah berbeda kota. jarak antara kita semakin panjang. tapi kau tak perlu khawatir, aku disini akan selalu belajar untuk semakin terbiasa hidup tanpa mengingatmu. hanya saja, aku tak percaya itu akan berhasil.
maaf jika aku terlalu percaya kau akan mengkhawatirkanku. aku hanya ingin menghibur hatiku dan membuat sebuah khayalan bahwa kau mengkhawatirkanku. aku yakin kau sudah tau kekonyolanku seperti apa jika aku berbicara tentangmu.
hei tuan manis,
aku dengar kau sedang dekat dengan dia, masalalumu. aku bahagia mendengarnya. kau percaya atau tidak aku tak pernah memaksa kau untuk percaya. karena kau pasti tau aku bukan tipe orang pemaksa, karena aku tidak seegois itu. dan kau pasti tau aku tak butuh orang untuk mempercayaiku. mungkin aku sering mengatakan, "bersama siapa kamu nanti, aku selalu merasa bahagia saat kau telah menemukan kebahagiaanmu". aku katakan sekali lagi bahwa 'terserah' kau akan mempercayaiku atau tidak. karena aku yakin dari lubuk hatimu, kau sudah mengetahui bahwa aku baik-baik saja, meski hati ini terluka.
hei tuan manis,
aku akan bahagia melihat kau bahagia. meski penyebabnya bukan aku, tapi aku akan tetap bahagia. dan aku tak akan pernah tega merusak kebahagiaan yang kau punya sekarang. aku tau kau pasti sudah tau itu. jadi, aku minta tolong jangan pedulikan perasaanku. anggap aku tak pernah ada. anggap rasaku untukmu tak pernah hadir. jika nanti akan ada yang membuatmu bingung kembali kepada siapa kau akan percaya, dan akan kebenaran yang ada. pejamkanlah matamu, rasakan dan renungkan kembali akan hal yang membuatmu bingung. percayakan saja pada hatimu, karena hati tak akan pernah salah menuntun. dan kemudian buka lebar matamu, pasang baik-baik pendengaranmu. lihatlah kenyataan yang ada tanpa engkau membawa perasaan. aku yakin kau tak akan pernah salah kembali. dan aku percaya kau tak akan mengulang kesalahan yang sama. andaikan itu terjadi (kembali), tentunya aku akan kecewa. namun... apa dayaku. aku tak bisa berbuat banyak bukan? karena semua itu kembali lagi kepadamu. tapi jika aku boleh jujur. aku sudah lelah selalu disalahkan dalam hubunganmu yang baru. taukah kau, aku tak ingin lagi terlibat dengan masalah yang menurutku tak penting, hanya membuang waktuku dengan percuma. aku ini memang masalalumu, tapi bukan berarti mereka menilai bahwa aku masalalu yang masih sangat bergantung padamu. dan aku hanya hidup dimasalalu mu, bukan dimasadepanmu atau sebagai perusak kebahagiaanmu.
hei tuan manis,
semenjak aku hidup di kota orang ini, ketakutanku akan kehilanganmu menjadi semakin besar. entah mengapa itu bisa terjadi. mungkin karena aku masih belum siap untuk benar-benar kehilanganmu. ya.. mungkin saja. tapi satu yang aku ketahui sekarang, meski kita sudah berbeda kota, jarak terlalu jauh memisahkan kita hingga semakin sulit untuk kita bertatap muka, namun hati ini masih tetap untuk orang yang sama. otak ini masih memikirkan orang yang sama. orang yang lima tahun silam sempat aku miliki. orang yang lima tahun silam sangat aku sayangi dan sangat berharga untukku. yaa.... orang itu adalah kamu, tuan berwajah manis. maaf jika aku sampai saat ini belum bisa untuk berhenti menyayangi dan memikirkanmu. maaf jika sampai saat ini aku masih merindukanmu. maaf jika sampai saat ini, aku masih mengingat dengan baik ketika kita pernah bersama dahulu kala. sebelum perpisahan itu terjadi. dan maaf jangan kau paksa aku untuk berhenti melakukan kebiasaanku. karena hanya dengan ini aku bisa mengenangmu. dan jangan paksa aku pula untuk berhenti mendoakanmu dalam diam. karena hanya dengan cara itulah aku bisa memelukmu dalam doa.
hei tuan manis,
dulu aku sangat ingin sekali pergi meninggalkan kota itu. kota yang penuh dengan kenangan bersamamu. aku sangat ingin keluar dari kota itu, karena hidup terus didalamnya aku semakin sulit untuk membuang jauh ingatan aku saat bersamamu. namun sekarang, aku sadar bahwa itu semua hanyalah hasrat belaka. hasrat yang hanya menggebu-gebu pada saat aku ingin berusaha melupakanmu. karena nyatanya pergi dari kota itu tidak membuatku berhasil untuk berhenti menyayangi dan memikirkanmu. dan saat ini aku merindukan semua itu. aku ingin kembali dengan sejuta kenangan yang ada. karena sekarang aku paham, dimana pun kita berada yang namanya kenangan itu akan selalu mengintai hidup kita. namun nasi sudah menjadi bubur. aku tak bisa berbuat banyak. aku hanya bisa mengambil hikmahnya, bahwa ini semua adalah untuk kebaikanku, untuk bisa membuat orang tuaku bangga kepadaku. yaa itu hikmah yang bisa aku ambil. masalah melupakanmu aku yakin suatu saat nanti akan ada masanya dimana semua perasaanku kepadamu akan menghilang dengan sendirinya. beri aku waktu kembali karena hanya itu yang aku butuhkan saat ini. Tuhan memang selalu pintar membolak-balikan hati seseorang, maka dari itu beri aku waktu untuk benar-benar tidak goyah saat Tuhan membuat perasaan ini datang kembali.
hei tuan manis,
jaga kesehatanmu. tetap menjadi seseorang yang sangat disukai banyak orang. rubahlah sikapmu yang membuat hati seseorang sakit. aku tau menyakiti seseorang bukan kehendakmu, tapi setidaknya kau bisa menjaga sikapmu agar tidak ada yang sakit hati lagi padamu. kau sudah dewasa bukan? tentunya kau akan tau apa yang terbaik dan apa yang tidak boleh kau lakukan.
mungkin hanya ini yang dapat aku tulis disurat kecil ini. aku akan kembali menulis surat kecil ini untukmu. karena suratku masih untukmu. jangan pernah memaksa aku untuk berhenti menulis surat, karena hanya dengan ini aku dapat meluapkan apa yang aku rasakan.

sampai berjumpa dikemudian hari... aku akan selalu merindukanmu.

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...