Assalamu'alaikum hei
tuan yang masih menjadi tujuan ku menulis surat kecil ini. aku harap kau tak
akan pernah bosan membaca surat dariku ini. karena aku tak akan pernah berhenti
menulis surat untukmu, sekali pun aku sudah berhasil menghilangkan perasaan ini.
karena buatku kau adalah sahabat dalam dunia khayalku. aku merasa selalu dekat
denganmu saat aku sedang menulis surat ini untukmu.
hei tuan manis,
aku merindukanmu.
mungkin itu kata yang untuk kesekian kalinya aku keluarkan untukmu. dan entah
sampai kapan aku akan mengucapkan kata itu, atau mungkin aku tak akan bisa
berhenti mengucap kata itu untukmu.
hei tuan manis,
aku sering memimpikan
mu dalam bunga tidurku. entah sudah berapa kali aku memimpikanmu, aku tak ingat.
mungkin karena memang terlalu sering hingga aku tak pernah tau sudah berapa
kali aku memimpikanmu.
hari itu aku bermimpi,
aku berkunjung kerumahmu untuk menemuimu karena aku khawatir kau menghilang
tanpa kabar seperti sedang menghindariku. aku tak tau didalam mimpi itu aku ini
siapamu, karena setiap aku bermimpi tentangmu semua selalu samar, yang aku
ingat hanyalah wajah manismu. ketika aku berkunjung kerumahmu, yang menyambut
aku adalah ibumu. ibumu bilang kau sedang membersihkan balong dibelakang
rumahmu dan aku disuruh menunggu oleh ibumu dengan ditemani ibu dan adikmu.
kami berbincang dengan akrabnya seolah sudah lama kami saling mengenal. didalam
mimpi itu, ibumu sangat baik dan sangat merespon kedatanganku, ekspresi ibumu
terlihat sangat bahagia menyambut kedatanganku. saat itu ayahmu sedang bekerja
dan sampai pulang pun aku tak sempat berjumpa dengan ayahmu. aku dan ibumu
serta adikmu berbincang cukup lama, dari adikmu pulang sekolah hingga ia harus
berangkat lagi untuk mengaji di masjid. namun aku merasa aneh, ketika adikmu
ingin berangkat mengaji ke masjid, adikmu dikawal oleh banyak body guard. aku
bertanya kepada ibumu dan jawaban ibumu simple, adikmu dikawal karena takut
terjadi apa-apa. namun aku tak percaya begitu saja. setelah aku berhasil
mendesak ibumu akhirnya beliau menceritakan semuanya kepadaku. keluargamu
sedang mendapat teror dan nyawa keluargamu semuanya dalam bahaya, termasuk
adikmu. dan karena dari itu, ayahmu tak berani pulang untuk menyelamatkan diri.
itu yang ibumu ceritakan padaku. tak terasa waktu sudah senja namun kau tak
juga menunjukan dirimu. dan aku memutuskan untuk segera pulang sebelum hari
semakin larut. saat aku ingin pulang ibumu memanggilmu dan meminta kamu untuk
mengantarkanku, namun aku menolaknya karena aku bisa jaga diriku sendiri. tapi
ibumu tetep bersih keras untuk memintamu mengantarku pulang. dan dengan
ekspresi yang sangat terpaksa kau akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh
ibumu. saat itu aku melihat wajahmu
sangat tak enak untuk dipandang. aku semakin bertanya-tanya, salah apa aku ini
hingga kau menghukumku dengan cara seperti ini? aku tak tau dan mungkin aku tak
menyadari akan kesalahanku, karena kau begitu saja bersikap dingin seperti ini.
disepanjang jalan tak ada kata yang kita keluarkan, kita saling berdiam diri
seolah-olah tak ada orang lain hanya ada kita seorang diri. aku merasa sangat
tidak nyaman dalam keadaan ini, akhirnya aku mencoba untuk membuka suaraku
mengawali perbincangan kita. aku meminta untuk kau mengantarku sampai sini saja
dengan alasan aku tak apa jika aku pulang sendiri. namun kau menolak dan tetap
ingin mengantarku hingga kedepan rumahku. katamu, kau tak ingin melihat seorang
gadis pulang sendiri dimalam hari seperti ini. dari kata-katamu kau seperti
orang yang sedang khawatir, namun dari ekspresimu yang sangat datar dan dingin
tak ada yang menunjukan bahwa kau sedang mengkhawatirkanku.
saat kau berkata
seperti itu aku tak bisa berbuat banyak selain mengalah. karena aku sangat
hafal dengan sikapmu yang sangat keras kepala, dan sulit untuk merubah
ucapanmu. akhirnya aku membiarkanmu untuk mengantarkanku pulang sampai kerumah.
aku mencoba lagi untuk membuka pembicaraan dengan menanyakan sebenarnya apa
yang sedang terjadi dalam keluargamu. namun kau hanya menjawab dengan ekspresi
yang sangat datar "tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja."
mendengar jawabanmu itu aku berusaha untuk mempercayai ucapanmu. dan juga aku
menyadari bahwa aku tak ada hak untuk mencampuri urusan atau mengetahui masalah
yang sedang terjadi pada keluargamu. tak terasa kita sudah sampai didepan rumahku.
aku mengajakmu untuk bertamu sejenak dan bertemu dengan kedua orang tuaku,
namun kau menolaknya dengan alasan khawatir pada ibumu. akhirnya aku hanya
dapat mengucapkan terima kasih tanpa bisa membalas kebaikan darimu. dan saat
itu aku terbangun dari mimpiku.
suatu hari aku juga
bermimpi, kalau kita sedang berada disuatu tempat yang sama tanpa kita berdua
rencanakan. saat itu aku bersama dengan temanku. dan kamu bersama dengan
temanmu. didalam mimpi itu kita tak saling bertegur sapa. namun kau selalu
memperhatikanku dari jauh.
aku juga pernah
bermimpi, kau sedang menjalin hubungan dengan teman sekolah dasarmu. mengetahui
hal itu hatiku terasa sangat sakit hingga aku tak menyadari air mata ini keluar
dari tempatnya.
aku tau mimpi hanyalah
bunga tidur. namun entah mengapa aku selalu berharap jika aku memimpikanmu
dengan indah, aku tak ingin bangun dari mimpi indahku. karena jika aku
terbangun dan melihat kenyataan yang ada saat ini, maka aku akan kecewa.
buatku, lebih baik aku bermimpi selamanya dari pada harus terbangun dan melihat
kenyataan yang menyakitkan. dan sampai saat ini aku tak mengetahui apa arti
dari semua mimpiku tentangmu. karena aku bukan peramal mimpi yang dapat meramal
sebuah mimpi.
hei tuan manis,
mungkin karena aku
sangat merindukanmu itu sebabnya mengapa aku selalu memimpikanmu. dan itu
sebabnya pula aku lupa akan mimpi itu, yang aku ingat hanya beberapa mimpi yang
baru aku mimpikan baru-baru ini. jika nanti kau hadir kembali kedalam bunga
tidurku, aku berharap semoga hanya ada kita berdua saja tanpa ada orang lain
yang ikut kedalam bunga tidurku. dan aku tak ingin bangun lagi dari mimpi indah
itu.
wassalam,
-NR-
No comments:
Post a Comment