Tuesday, November 17, 2015

Suratku Masih Untukmu (3)

Assalamu'alaikum hei tuan yang masih menjadi tujuan ku menulis surat kecil ini. aku harap kau tak akan pernah bosan membaca surat dariku ini. karena aku tak akan pernah berhenti menulis surat untukmu, sekali pun aku sudah berhasil menghilangkan perasaan ini. karena buatku kau adalah sahabat dalam dunia khayalku. aku merasa selalu dekat denganmu saat aku sedang menulis surat ini untukmu.
hei tuan manis,
aku merindukanmu. mungkin itu kata yang untuk kesekian kalinya aku keluarkan untukmu. dan entah sampai kapan aku akan mengucapkan kata itu, atau mungkin aku tak akan bisa berhenti mengucap kata itu untukmu.
hei tuan manis,
aku sering memimpikan mu dalam bunga tidurku. entah sudah berapa kali aku memimpikanmu, aku tak ingat. mungkin karena memang terlalu sering hingga aku tak pernah tau sudah berapa kali aku memimpikanmu.
hari itu aku bermimpi, aku berkunjung kerumahmu untuk menemuimu karena aku khawatir kau menghilang tanpa kabar seperti sedang menghindariku. aku tak tau didalam mimpi itu aku ini siapamu, karena setiap aku bermimpi tentangmu semua selalu samar, yang aku ingat hanyalah wajah manismu. ketika aku berkunjung kerumahmu, yang menyambut aku adalah ibumu. ibumu bilang kau sedang membersihkan balong dibelakang rumahmu dan aku disuruh menunggu oleh ibumu dengan ditemani ibu dan adikmu. kami berbincang dengan akrabnya seolah sudah lama kami saling mengenal. didalam mimpi itu, ibumu sangat baik dan sangat merespon kedatanganku, ekspresi ibumu terlihat sangat bahagia menyambut kedatanganku. saat itu ayahmu sedang bekerja dan sampai pulang pun aku tak sempat berjumpa dengan ayahmu. aku dan ibumu serta adikmu berbincang cukup lama, dari adikmu pulang sekolah hingga ia harus berangkat lagi untuk mengaji di masjid. namun aku merasa aneh, ketika adikmu ingin berangkat mengaji ke masjid, adikmu dikawal oleh banyak body guard. aku bertanya kepada ibumu dan jawaban ibumu simple, adikmu dikawal karena takut terjadi apa-apa. namun aku tak percaya begitu saja. setelah aku berhasil mendesak ibumu akhirnya beliau menceritakan semuanya kepadaku. keluargamu sedang mendapat teror dan nyawa keluargamu semuanya dalam bahaya, termasuk adikmu. dan karena dari itu, ayahmu tak berani pulang untuk menyelamatkan diri. itu yang ibumu ceritakan padaku. tak terasa waktu sudah senja namun kau tak juga menunjukan dirimu. dan aku memutuskan untuk segera pulang sebelum hari semakin larut. saat aku ingin pulang ibumu memanggilmu dan meminta kamu untuk mengantarkanku, namun aku menolaknya karena aku bisa jaga diriku sendiri. tapi ibumu tetep bersih keras untuk memintamu mengantarku pulang. dan dengan ekspresi yang sangat terpaksa kau akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh ibumu.  saat itu aku melihat wajahmu sangat tak enak untuk dipandang. aku semakin bertanya-tanya, salah apa aku ini hingga kau menghukumku dengan cara seperti ini? aku tak tau dan mungkin aku tak menyadari akan kesalahanku, karena kau begitu saja bersikap dingin seperti ini. disepanjang jalan tak ada kata yang kita keluarkan, kita saling berdiam diri seolah-olah tak ada orang lain hanya ada kita seorang diri. aku merasa sangat tidak nyaman dalam keadaan ini, akhirnya aku mencoba untuk membuka suaraku mengawali perbincangan kita. aku meminta untuk kau mengantarku sampai sini saja dengan alasan aku tak apa jika aku pulang sendiri. namun kau menolak dan tetap ingin mengantarku hingga kedepan rumahku. katamu, kau tak ingin melihat seorang gadis pulang sendiri dimalam hari seperti ini. dari kata-katamu kau seperti orang yang sedang khawatir, namun dari ekspresimu yang sangat datar dan dingin tak ada yang menunjukan bahwa kau sedang mengkhawatirkanku.
saat kau berkata seperti itu aku tak bisa berbuat banyak selain mengalah. karena aku sangat hafal dengan sikapmu yang sangat keras kepala, dan sulit untuk merubah ucapanmu. akhirnya aku membiarkanmu untuk mengantarkanku pulang sampai kerumah. aku mencoba lagi untuk membuka pembicaraan dengan menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam keluargamu. namun kau hanya menjawab dengan ekspresi yang sangat datar "tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja." mendengar jawabanmu itu aku berusaha untuk mempercayai ucapanmu. dan juga aku menyadari bahwa aku tak ada hak untuk mencampuri urusan atau mengetahui masalah yang sedang terjadi pada keluargamu. tak terasa kita sudah sampai didepan rumahku. aku mengajakmu untuk bertamu sejenak dan bertemu dengan kedua orang tuaku, namun kau menolaknya dengan alasan khawatir pada ibumu. akhirnya aku hanya dapat mengucapkan terima kasih tanpa bisa membalas kebaikan darimu. dan saat itu aku terbangun dari mimpiku.
suatu hari aku juga bermimpi, kalau kita sedang berada disuatu tempat yang sama tanpa kita berdua rencanakan. saat itu aku bersama dengan temanku. dan kamu bersama dengan temanmu. didalam mimpi itu kita tak saling bertegur sapa. namun kau selalu memperhatikanku dari jauh.
aku juga pernah bermimpi, kau sedang menjalin hubungan dengan teman sekolah dasarmu. mengetahui hal itu hatiku terasa sangat sakit hingga aku tak menyadari air mata ini keluar dari tempatnya.
aku tau mimpi hanyalah bunga tidur. namun entah mengapa aku selalu berharap jika aku memimpikanmu dengan indah, aku tak ingin bangun dari mimpi indahku. karena jika aku terbangun dan melihat kenyataan yang ada saat ini, maka aku akan kecewa. buatku, lebih baik aku bermimpi selamanya dari pada harus terbangun dan melihat kenyataan yang menyakitkan. dan sampai saat ini aku tak mengetahui apa arti dari semua mimpiku tentangmu. karena aku bukan peramal mimpi yang dapat meramal sebuah mimpi.
hei tuan manis,
mungkin karena aku sangat merindukanmu itu sebabnya mengapa aku selalu memimpikanmu. dan itu sebabnya pula aku lupa akan mimpi itu, yang aku ingat hanya beberapa mimpi yang baru aku mimpikan baru-baru ini. jika nanti kau hadir kembali kedalam bunga tidurku, aku berharap semoga hanya ada kita berdua saja tanpa ada orang lain yang ikut kedalam bunga tidurku. dan aku tak ingin bangun lagi dari mimpi indah itu.

wassalam,



-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...