Tuesday, December 22, 2015

Suratku masih Untukmu (4)

Assalamu'alaikum hei tuan manis,

Aku masih berharap sama seperti kemarin, kau masih baik-baik saja. Karena aku selalu ingin melihatmu baik-baik saja.
Hei tuan manis,
Di kota yang sekarang sedang aku diami sedang dilanda hujan angin. Dan aku sendirian didalam kamar. Apa kamu masih ingat, aku sangat takut sekali jika hujan besar ditambah angin dan petir? Aku harap kau masih mengingatnya. Meski harapan itu sangat kecil. Karena aku disini masih mengingat semua itu dengan baik.
Aku masih ingat ketika hujan besar disertai angin dan petir turun, aku bilang padamu bahwa aku sangat takut sekali dengan hal itu. Jika sudah hujan besar seperti itu aku tak berani untuk keluar kamar. Namun kau selalu menenangkanku, dan meyakinkan ku bahwa aku tak perlu takut, karena hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita menakutinya. Saat itu aku mencoba untuk memulai tidak takut jika hujan besar turun kembali. Meski ketakutan itu masih ada, namun aku coba untuk melawannya. Karena seperti katamu, "hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita menakutinya." Aku selalu mengingat itu dengan baik saat hujan besar disertai petir dan angin turun. Aku selalu memintamu untuk menemaniku saat hujan besar turun, namun kau selalu berkata "carilah teman untuk berbincang, jangan selalu menyendiri karena saat kau menyendiri ketakutan itu akan terus ada." Dan aku selalu mencoba apa yang kau katakan untuk menghilangkan rasa takut ini. Aku berhasil! Ya, aku berhasil melakukannya dengan baik!
Saat hujan tiba, entah itu dirumah atau pun disekolah atau diluar aku selalu mengajak orang lain berbincang agar aku tak merasa ketakutan. Aku selalu melakukan itu disaat musim hujan tiba.
Apakah kau ingat, kita pernah hujan-hujanan berdua?Saat itu kau tak ingin berhenti untuk berteduh, karena kau ingin menerjang hujan ini denganku.
Dan apakah kau masih ingat, ketika kita terjebak hujan besar? Kau terlihat sangat gembira karena dengan begitu semakin lama kau berpisah denganku.
Dulu mungkin terlihat manis, namun sekarang terlihat lucu. Karena itu sama seperti ftv yang sering aku lihat. Mungkin masih ada didunia nyata, namun tidak lagi bagiku dan kau.
Hei tuan manis,
Kau tau tidak? Musim hujan selalu datang tiap tahun. Dia tak pernah berubah. Hujan akan turun bila tiba waktunya. Dia masih sama, tak ada yang berbeda. Kadang turun dengan derasnya, dan kadang turun dengan pelannya. Terkadang juga setelah dia turun selalu ada pelangi nan indah. Ya semuanya masih sama tak ada yang berbeda. Yang berbeda hanyalah hubungan kita. Setiap hujan turun, entah mengapa aku selalu merasa ada perbedaan dari waktu ke waktu. Saat aku masih bersamamu, saat aku berpisah denganmu, dan saat aku jauh darimu, semua itu aku rasakan dengan jelas setiap hujan turun. Mungkin kau akan tertawa ketika membaca ini. Namun itu yang selalu aku rasakan setiap hujan turun.
Saat ini, aku benci dengan hujan. Karena hujan selalu mengingatku padamu. Karena hujan aku merasakan perbedaan yang sangat jelas antara aku dan kau. Lucu memang membenci hujan karena mengingatkan kita pada seseorang. Namun itu yang aku rasakan sekarang. Aku sangat tak suka hujan meski aku tau hujan adalah berkah.
Hei tuan manis,
Ketika hujan turun, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengenangmu. Mengenang semua tentang kita. Karena menurutku, hal yang paling terindah saat hujan adalah mengenangmu dan kenangan semua tentang kita. Itu yang dapat aku lakukan agar aku tak semakin membenci hujan.
Dan saat hujan turun, selalu ada air mata yang mengikutinya. Cengeng bukan? Ya memang. Tapi aku tak bisa mengendalikan itu semua. Kau tau aku bukan? Aku bukan wanita yang dapat mengendalikan perasaan dengan mudahnya.
Apa kau ingin bertanya mengapa aku tak melakukan hal yang lebih berharga dari pada meratapi masa lalu? Jawabanku adalah tidak ada. Karena buatku saat ini, mengenangmu dan semua tentang kita adalah obat untuk melawan rasa takutku akan hujan. Kamu tak bisa lagi menjadi alasan aku untuk berani saat hujan turun. Karena kau dan aku sudah tak lagi seperti dahulu. Dan aku bukan meratapi masa lalu namun aku hanya mengenangmu dan semua tentang kita. Mengenang semua yang indah bukan yang menyakitkan.
Apa kau masih menganggapku wanita bodoh yang selalu melakukan hal yang tak ada gunanya? Jika memang masih, aku akan sangat senang. Karena dengan begitu kau akan selalu memikirkanku dan mengingat hal-hal yang tak lazim untuk manusia melakukannya. Bodoh? Mungkin ya. Aku ini memang bodoh. Aku senang jika aku terlihat bodoh dimatamu, dengan begitu aku tak perlu menunjukan sesuatu yang ada pada diriku yang tak pernah kau ketahui. Meski aku tak suka jika aku terlihat bodoh didepanmu untuk hal-hal tertentu.
Hei tuan manis,
Rasanya ingin sekali aku memintamu untuk menemaniku saat ini. Untuk membantu membuatku melawan ketakutan karena hujan besar dan sendirian dikamar. Seperti yang pernah aku lakukan lima tahun silam. Saat kau masih menjadi milikku. Aku ingin sekali melakukan itu. Dan sempat aku urungkan karena aku tau itu tak akan mungkin terjadi. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya agar aku tidak merasa kecewa kembali.
Hei tuan manis,
Aku sangat rindu akan masa-masa itu. Namun aku tak boleh terlarut dalam kenangan bukan? Aku harus sepertimu bukan, yang dengan mudahnya melupakanku dan semua kenangan tentang kita? Aku akan sepertimu, aku janji. Beri aku sedikit waktu untuk bisa sepertimu. Karena untukku itu semua tak mudah.
Jaga kesehatanmu. Jangan sampai kau sakit karena kehujanan. Dan jangan sampai kau kedinginan. Jaga terus suhu badanmu agar kau tak merasa kedinginan. Doaku akan selalu menyertaimu dalam diam.
Aku merindukanmu hei tuan manis...




-NR-

No comments:

Post a Comment

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...