Assalamu'alaikum hei
tuan manis,
Aku masih berharap
sama seperti kemarin, kau masih baik-baik saja. Karena aku selalu ingin
melihatmu baik-baik saja.
Hei tuan manis,
Di kota yang sekarang
sedang aku diami sedang dilanda hujan angin. Dan aku sendirian didalam kamar.
Apa kamu masih ingat, aku sangat takut sekali jika hujan besar ditambah angin
dan petir? Aku harap kau masih mengingatnya. Meski harapan itu sangat kecil.
Karena aku disini masih mengingat semua itu dengan baik.
Aku masih ingat ketika
hujan besar disertai angin dan petir turun, aku bilang padamu bahwa aku sangat
takut sekali dengan hal itu. Jika sudah hujan besar seperti itu aku tak berani
untuk keluar kamar. Namun kau selalu menenangkanku, dan meyakinkan ku bahwa aku
tak perlu takut, karena hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita
menakutinya. Saat itu aku mencoba untuk memulai tidak takut jika hujan besar
turun kembali. Meski ketakutan itu masih ada, namun aku coba untuk melawannya.
Karena seperti katamu, "hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita
menakutinya." Aku selalu mengingat itu dengan baik saat hujan besar
disertai petir dan angin turun. Aku selalu memintamu untuk menemaniku saat
hujan besar turun, namun kau selalu berkata "carilah teman untuk
berbincang, jangan selalu menyendiri karena saat kau menyendiri ketakutan itu
akan terus ada." Dan aku selalu mencoba apa yang kau katakan untuk
menghilangkan rasa takut ini. Aku berhasil! Ya, aku berhasil melakukannya
dengan baik!
Saat hujan tiba, entah
itu dirumah atau pun disekolah atau diluar aku selalu mengajak orang lain
berbincang agar aku tak merasa ketakutan. Aku selalu melakukan itu disaat musim
hujan tiba.
Apakah kau ingat, kita
pernah hujan-hujanan berdua?Saat itu kau tak ingin berhenti untuk berteduh,
karena kau ingin menerjang hujan ini denganku.
Dan apakah kau masih
ingat, ketika kita terjebak hujan besar? Kau terlihat sangat gembira karena
dengan begitu semakin lama kau berpisah denganku.
Dulu mungkin terlihat
manis, namun sekarang terlihat lucu. Karena itu sama seperti ftv yang sering
aku lihat. Mungkin masih ada didunia nyata, namun tidak lagi bagiku dan kau.
Hei tuan manis,
Kau tau tidak? Musim
hujan selalu datang tiap tahun. Dia tak pernah berubah. Hujan akan turun bila
tiba waktunya. Dia masih sama, tak ada yang berbeda. Kadang turun dengan
derasnya, dan kadang turun dengan pelannya. Terkadang juga setelah dia turun
selalu ada pelangi nan indah. Ya semuanya masih sama tak ada yang berbeda. Yang
berbeda hanyalah hubungan kita. Setiap hujan turun, entah mengapa aku selalu
merasa ada perbedaan dari waktu ke waktu. Saat aku masih bersamamu, saat aku
berpisah denganmu, dan saat aku jauh darimu, semua itu aku rasakan dengan jelas
setiap hujan turun. Mungkin kau akan tertawa ketika membaca ini. Namun itu yang
selalu aku rasakan setiap hujan turun.
Saat ini, aku benci
dengan hujan. Karena hujan selalu mengingatku padamu. Karena hujan aku
merasakan perbedaan yang sangat jelas antara aku dan kau. Lucu memang membenci
hujan karena mengingatkan kita pada seseorang. Namun itu yang aku rasakan
sekarang. Aku sangat tak suka hujan meski aku tau hujan adalah berkah.
Hei tuan manis,
Ketika hujan turun,
aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengenangmu. Mengenang semua tentang kita.
Karena menurutku, hal yang paling terindah saat hujan adalah mengenangmu dan
kenangan semua tentang kita. Itu yang dapat aku lakukan agar aku tak semakin
membenci hujan.
Dan saat hujan turun,
selalu ada air mata yang mengikutinya. Cengeng bukan? Ya memang. Tapi aku tak
bisa mengendalikan itu semua. Kau tau aku bukan? Aku bukan wanita yang dapat
mengendalikan perasaan dengan mudahnya.
Apa kau ingin bertanya
mengapa aku tak melakukan hal yang lebih berharga dari pada meratapi masa lalu?
Jawabanku adalah tidak ada. Karena buatku saat ini, mengenangmu dan semua
tentang kita adalah obat untuk melawan rasa takutku akan hujan. Kamu tak bisa
lagi menjadi alasan aku untuk berani saat hujan turun. Karena kau dan aku sudah
tak lagi seperti dahulu. Dan aku bukan meratapi masa lalu namun aku hanya
mengenangmu dan semua tentang kita. Mengenang semua yang indah bukan yang
menyakitkan.
Apa kau masih
menganggapku wanita bodoh yang selalu melakukan hal yang tak ada gunanya? Jika
memang masih, aku akan sangat senang. Karena dengan begitu kau akan selalu
memikirkanku dan mengingat hal-hal yang tak lazim untuk manusia melakukannya.
Bodoh? Mungkin ya. Aku ini memang bodoh. Aku senang jika aku terlihat bodoh
dimatamu, dengan begitu aku tak perlu menunjukan sesuatu yang ada pada diriku
yang tak pernah kau ketahui. Meski aku tak suka jika aku terlihat bodoh
didepanmu untuk hal-hal tertentu.
Hei tuan manis,
Rasanya ingin sekali
aku memintamu untuk menemaniku saat ini. Untuk membantu membuatku melawan
ketakutan karena hujan besar dan sendirian dikamar. Seperti yang pernah aku
lakukan lima tahun silam. Saat kau masih menjadi milikku. Aku ingin sekali
melakukan itu. Dan sempat aku urungkan karena aku tau itu tak akan mungkin
terjadi. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya agar aku tidak merasa
kecewa kembali.
Hei tuan manis,
Aku sangat rindu akan
masa-masa itu. Namun aku tak boleh terlarut dalam kenangan bukan? Aku harus
sepertimu bukan, yang dengan mudahnya melupakanku dan semua kenangan tentang
kita? Aku akan sepertimu, aku janji. Beri aku sedikit waktu untuk bisa
sepertimu. Karena untukku itu semua tak mudah.
Jaga kesehatanmu.
Jangan sampai kau sakit karena kehujanan. Dan jangan sampai kau kedinginan.
Jaga terus suhu badanmu agar kau tak merasa kedinginan. Doaku akan selalu
menyertaimu dalam diam.
Aku merindukanmu hei
tuan manis...
-NR-
No comments:
Post a Comment