Assalamu'alaikum hey tuan manis,
Bagaimana kabarmu saat ini? Maaf aku baru mengirim surat lagi untukmu. Belakangan ini aku terlalu sibuk dengan kuliah ku. Harapan aku tak akan pernah berhenti untuk selalu mendengar atau mungkin melihat kau baik-baik saja.
Hey tuan manis,
Sudah hampir dua pekan aku berada disini. Kembali ke kota kecil yg penuh dengan kenangan,yg dulu sempat terpikirkan untuk meninggalkan dan tak pernah kembali ke kota kecil ini. Namun nyatanya,meninggalkan kota ini sangat membuatku menyesal. Dan semua penyesalan itu karena kamu hey tuan manis. Aku menyesal dan aku bertanya mengapa semua ini terjadi? Dulu kamu yg pergi meninggalkan aku dan kota kecil ini,sekarang? Sekarang aku yg pergi meninggalkan kamu dan kota kecil ini, Dan setelah aku pergi, kamu datang kembali ke kota kecil ini. Aku sungguh menyesal karena akhirnya harapanku dulu sekarang menjadi kenyataan. Namun sekarang aku sadar, ini jalan terbaik yg Tuhan kasih untukku. Jalan yg akan membuat aku mencapai kesuksesan. Dan aku sekarang tersadar, Bahwa ini semua memang sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya berada di kota yg sama hanya sekitar sepuluh tahun. Sekarang akan lebih dari tujuh tahun kita tinggal di kota yg berbeda. Namun meski begitu percayalah, hati ini akan selalu merindukanmu. Entah sampai kapan, entah kapan waktunya ia akan berhenti merindukanmu.
Hey tuan manis,
Kepulanganku ke kota kecil ini tak lain dan tak bukan karena aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu. Hanya engkau satu-satunya alasan mengapa aku pulang kembali ke kota kecil ini. Kamu pasti merasa terkejut mengapa kamu yg menjadi alasan aku kembali pulang ke kota kecil ini. Mengapa bukan kedua orang tuaku? Mengapa bukan saudaraku? Mengapa bukan rumahku? Pasti itu yang sekarang terlintas dipikiranmu. Hm baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan yg sedang terlintas dipikiranmu. Kamu adalah alasan satu-satunya mengapa aku kembali ke kota ini, bukan kedua orang tuaku, bukan juga karena saudaraku ataupun karena rumahku. Karena berada didalam satu rumah bersama dengan keluargaku seperti aku berada didalam neraka. Aku tak pernah bisa mendapat ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Yang selalu aku dapatkan hanyalah rasa tak nyaman, rasa kesal dan panas. Aku tak pernah betah berada dirumah, karena itulah mengapa saat kita dulu masih menjalin hubungan aku selalu mengajakmu untuk bertemu. Keadaan rumahku sangat berbeda dengan keadaan rumah yang lain atau mungkin keadaan rumahmu. Ya aku tau, aku tau, kamu pasti akan berpikir bahwa setiap keluarga pasti selalu berbeda dan tak akan pernah sama. Ya memang benar. Tapi apa aku salah, aku berharap keluargaku bisa seperti keluargamu? Bisa seperti keluarga yg harmonis,bahagia,damai dan tentram? Apa aku salah berharap seperti itu? Dan karena itulah aku sering berpikir untuk pergi meninggalkan rumah ini, pergi jauh dari mereka yang selalu membuat aku terbatin berada didalamnya. Bukan karena kamu, bukan karena aku masih belum bisa melupakanmu, dan bukan karena aku ingin segera melupakanmu. Karena sekarang aku sadar, dimanapun aku berada yg namanya kenangan akan selalu terkenang dihati dan tersimpan didalam memori otak kita.
Hey tuan manis,
Aku ingin mengirim pesan singkat untukmu hanya untuk memberi tahumu bahwa aku sangat merindukanmu. Namun aku tau,hal itu tak boleh aku lakukan. Entah bagaimana caranya agar kita bisa saling bertemu. Yg bisa membuat kita bertemu adalah mereka. Sahabatku dan sahabatmu. Ya,karena semenjak kisah kasih kita berakhir, kita memang tak punya alasan untuk saling bertemu. Kecuali mereka. Mereka sahabat kita, yg terbentuk karena hubungan kita pula.
Hey tuan manis,
Andai kamu tau, aku mencoba melawan rasa gengsi ku hanya untuk mengajakmu bertemu. Dan kamu tau? Aku kecewa saat ajakanku engkau tolak. Apa aku salah jika aku kecewa? Tapi aku tak kehabisan cara untuk bisa bertemu denganmu. Hari esoknya aku mencoba mengajakmu bertemu kembali, dengan alasan yg sama, mereka. Tapi lagi-lagi aku kecewa karena kau tak bisa lagi untuk bertemu denganku, ah tidak-tidak, lebih tepatnya bertemu dengan mereka. Aku masih terus mencoba untuk bisa bertemu dengan kamu. Sampai pada suatu hari kamu mengiyakan tawaranku untuk berkumpul. Aku senang. Senang bukan main. Karena akhirnya aku dapat segera bertemu dengan kamu. Segera aku bersiap-siap dan pergi ketempat yang telah kita janjikan. Aku beberapa kali mengirimkan pesan singkat kepadamu, namun kau tak kunjung membalasnya. Saat itu aku masih terus menunggu kabar darimu. Lima menit, sepuluh menit sampai hampir setengah jam kau tak kunjung membalas pesan dari ku. Aku cemas, aku takut untuk kesekian kalinya kita tidak jadi untuk bertemu. Benar saja, ketakutanku pun menjadi kenyataan. KITA TIDAK JADI BERTEMU!
Hey tuan manis,
Mengapa kau masih belum bisa berubah? Mengapa kau masih belum bisa menghargai orang lain? Mengapa kau masih bersikap sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaan orang lain? Mengapa kau masih saja egois? Mengapa sikap kau selalu tak pernah sama dengan perkataanmu? Mengapa?! Mengapa?! Entah sudah berapa kali kamu mengecewakanku. Entah apakah ini menyakitkan atau tidak. Aku tak bisa merasakannya lagi, mungkin karena aku sudah mati rasa padamu. Namun satu yg aku tau, aku sangat kecewa padamu. Begitupun dengan dia, sahabatku yg juga sahabatmu. Dia sangat marah dan sangat kecewa.
Hey tuan manis,
Aku mengenal betul siapa sahabatku ini. Dia bukan tipe orang pembenci tapi jika dia sering dikecewakan dia akan menjadi malas dan muak. Apa kamu tau itu? Apa kamu tau kedepannya akan seperti apa? Dia tidak akan pernah mau untuk bertemu kembali denganmu. Bagi dia, bertemu kembali dengan orang yg selalu membuatnya kecewa adalah suatu hal yg bodoh yg pernah ia lakukan. Dan kamu tau akan berakibat terhadap siapa? Kepada kita! Kepada aku, kamu, dan mereka. Apa kamu pernah terfikirkan seperti itu?
Hey tuan manis,
Aku lebih baik kamu menyakitiku, membuatku kecewa beribu kali dari pada kamu membuat mereka kecewa. Aku rela dan aku ikhlas. Aku tak akan marah, karena sampai kapanpun aku akan selalu mengerti kamu. Bagaimanapun kondisi dan keadaan kamu.
Hey tuan manis,
Apa kamu bertanya apa aku marah karena kau tak jadi datang hari itu? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak marah, hanya saja aku kecewa padamu. Bisakah kau membalas pesan dariku? Setidaknya kau harus memberi kabar jika kau tidak bisa datang, bukan malah menghilang entah kemana. Kau tau? Kau itu seperti anak kecil yg tidak mengerti apa itu tanggung jawab, apa itu janji, apa itu hal utama, apa itu mengabari. Ya. Bagiku kau hanya sesosok laki-laki yg fisiknya dewasa namun tidak pada pemikiranmu. Entahlah aku sama sekali tak mengerti sama jalan pikiranmu. Kau terlalu sulit untuk dimengerti hey anak kecil.
Hey tuan manis,
Aku tau, aku paham pasti kamu punya alasan mengapa kamu melakukan ini. Ya aku tau. Tapi tak bisa kah kamu tak mengiyakannya sejak awal kalau pada akhirnya kamu lebih memilih hal lain yg baru datang dari pada hal lain yg sudah kamu janjikan? Tapi bisakah kamu membalas pesanku untuk mengabariku sesibuk apapun kamu? Dan tak bisakah kamu menjelaskan semuanya secara jelas hingga tak membuat aku dan dia berfikiran negatif tentangmu? Tak bisakah kau melakukan itu hey tuan manis? Bukankah selama ini kau merasa kau sudah dewasa? Namun mengapa, mengapa dimataku kau masih sama seperti tuan manisku lima tahun yg lalu? Saat kau masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.
Hey tuan manis,
Aku tak ingin ada kebencian diantara mereka. Aku tak ingin kamu selalu mengulang kesalahan yg sama. Aku ingin kamu berubah. Aku tak ingin kamu selalu seperti ini. Jangan semakin banyak membuat orang lain tersakiti dan kecewa karenamu. Aku mohon jangan! Tolonglah berubah demi aku, ah tidak! Demi kamu, demi kebaikan kamu.
Hey tuan manis,
Mungkin cukup sekian surat dariku. Semoga kamu dapat merubah semuanya. Aku menunggumu berubah menjadi sosok dewasa yg akan semakin membuatku terkagum padamu. Jaga baik-baik dirimu. Semoga semua urusanmu lancar. Aku pergi. Aku akan kembali ke tempat perantauanku.
-NR-
No comments:
Post a Comment