Sunday, August 7, 2016

Suratku masih untukmu (10)

Assalamu'alaikum..
Bagaimana weekend mu hey tuan manis? Aku harap kau bisa menikmati liburmu dengan bahagia. Aku menulis surat ini tak ada maksud untuk menganggu waktu liburmu. Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku harap kau tak akan marah dengan apa yang akan aku ceritakan.
Hey tuan manis,
Mungkin kau tahu benar bagaimana aku ini. Dingin, cuek, jutek, dan selalu masa bodo dengan hal yang tak penting untuk aku pikirkan. Mungkin kau juga tahu, aku ini wanita yang sulit sekali untuk jatuh cinta. Setelah hubunganku denganmu berakhir aku membutuhkan waktu enam tahun lebih untuk bisa bangkit dan melupakanmu. Sudah beribu cara yang aku tempuh agar bisa segera dapat melupakanmu. Dari menyibukkan diri, menjalin hubungan kembali dengan pria lain, hingga melanjutkan study keluar kota. Namun hasilnya selalu saja sama. NIHIL.
Hingga suatu hari aku merasa muak berada dikondisi ini. Aku merasa aku lemah saat hatiku sudah terluka. Aku mencoba tegar, aku mencoba kuat. Aku tak pernah memperlihatkan kesedihanku didepan orang lain, apalagi air mataku. Aku selalu menyembunyikannya dari orang-orang sekitarku. Kau tau? Rasanya aku seperti manusia bodoh yang sedang menunggu kereta dihalte bus. Aku sudah mengetahui kau tak akan kembali lagi, hubungan kita tak akan terulang kembali untuk kesekian kalinya. Tapi aku masih tetap saja setia menunggu dengan tenangnya, seolah-olah kereta itu akan berhenti tepat didepan dimana aku menunggumu.
Kau tau? Rasanya aku seperti orang gila. Terus-menerus memikirkan dan menangisi sesuatu yang belum tentu kamu juga melakukan hal yang sama. Bukan satu atau dua orang saja yang menganggap aku ini telah gila karena cinta. Semua teman dekatku, mereka memiliki pemikiran yang sama.
Kau tau? Aku hanya bisa diam saat orang lain mencaci dan mengolokku karena belum mampu bangkit dari masalaluku. Aku tak peduli dengan omongan orang lain. Aku tak pernah menggubris omongan mereka. Karena mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat itu.
Dan kau tau? Aku pun akhirnya menyerah dengan usahaku untuk bisa melupakanmu. Aku serahkan semuanya kepada Sang Pemiliki Hati. Aku berdoa semoga Dia memberikanku yang terbaik dan dapat menjadikanku wanita yang lebih kuat kembali. Hingga akhirnya waktu itu pun tiba. Waktu dimana aku telah mampu berhenti memikirkan dan tidak mengingatmu lagi. Semua itu karena tuan berkumis yang sempat aku ceritakan padamu dalam suratku yang sebelumnya.
Hey tuan manis,
Dia serupa denganmu. Mempunyai lesung pipi yang indah hingga rasanya tak jenuh aku memandangnya. Dia juga memiliki kumis tipis hingga aku menyebutnya tuan berkumis. Tingginya pun senada denganmu. Dan dia lah yang mampu membuatku berhenti memikirkanmu. Awalnya aku ragu. Aku berpikir mungkin dia sama saja dengan pria-pria yang pernah aku temui sebelumnya. Namun karena nasihat dari sahabatku tak ada salahnya untuk mencoba membuka hati kembali, kalau aku terus-terusan takut aku tak akan pernah bisa maju. Dan setelah aku pikir-pikir apa yang dia katakan memang ada benarnya. Aku pun mengikuti nasihatnya, dengan membaca bismillah aku coba beranikan diri untuk membuka hatiku.
Seiring berjalannya waktu aku mulai merasakan hal yang sudah lama sekali aku tak merasakannya. Tepatnya enam tahun yang lalu terakhir kali aku merasakannya. Entah apa memang ini yang disebut jatuh cinta atau bukan. Yang jelas aku merasa nyaman berada didekatnya. Asyik dan seru saat aku berbincang dengannya dan tidak membuatku cepat merasa bosan. Seperti yang kau tahu, aku wanita moody. Cepat merasa bosan dengan situasi. Dan lagi-lagi aku merasakan hal aneh. Aku merasa ini bukan aku yang sebenarnya cepat untuk membuka hati untuk orang lain. Seperti bukan aku. Entah ini memang hanya feeling ku atau memang benar adanya. Dia sama dengan laki-laki yang pernah dekat denganmu. Dan diapun sama dengan mantanku sebelumnya. Entah apa yang membedakan dia dengan yang lain aku tak tahu. Yang aku tahu hanya dengan dia aku bisa merasakan kembali rasa yang sudah lama tidak aku rasakan.
Hey tuan manis,
Apa menurutmu aku memang sudah jatuh cinta padanya? Apa menurutmu aku sudah berhasil melupakanmu? Sebab aku sendiri masih ragu untuk menyimpulkan semuanya. Karena bagiku ini terjadi begitu cepat. Aku takut salah untuk menyimpulkannya. Aku tak ingin terburu-buru untuk menyimpulkan semuanya. Aku ingin melihat bagaimana usaha dia. Aku ingin lihat apakah dia sungguh-sungguh atau hanya ingin bermain saja?
Aku selalu berdoa pada Allah, jika nanti aku bisa melupakanmu dan bisa kembali jatuh cinta aku ingin agar aku tak sampai mengharapkannya. Dan aku meminta untuk dijauhkan dari orang-orang yang hanya ingin membuatku sakit hati bukan menoreskan tinta kebahagiaan. Itu yang selalu aku panjatkan pada-Nya setiap kali aku sedang menjalin kedekatan dengan seorang pria. Termasuk dia, si tuan berkumis. Saat dekat dengannya aku berdoa pada-Nya jika memang dia yang Allah kirim untuk membuatku lupa denganmu maka dekatkan kami dengan cara terbaik-Mu, namun jika tidak maka jauhkan kami dengan cara yang tidak saling menyakiti. Mungkin terkesan seperti berlebihan. Namun doa tidak ada yang salah bukan? Aku hanya tidak ingin merasakan kecewa kembali dalam waktu dekat ini.
Dan ternyata Allah menjawab doaku. Seiring berjalannya waktu aku temui perubahan pada sikapnya. Dia sudah berbeda, tidak seperti saat awal kami berkenalan. Semakin acuh tak acuh padaku. Dengan perlahan dia menjauh dariku. Mungkin dia tidak menyadarinya. Tapi aku, aku sangat peka terhadap suatu perubahan, sekecil apapun perubahan itu aku merasakannya. Jika kau tanya apa aku sudah menanyakan padanya mengapa dia berubah? Jawabanku adalah tidak. Ya tidak. Aku tidak akan pernah bertanya padanya mengapa dia berubah menjadi seperti ini. Karena bagiku semua ini sudah cukup jelas untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku bahwa dia tidak serius padaku. Selain itu pula, aku menemukan beberapa bukti yang menunjukan dia sudah memiliki incaran yang lain.
Hey tuan manis,
Jika kau bertanya lantas bagaimana perasaanmu saat ini? Perasaanku tak baik. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga. Aku merasakan kecewa kembali setelah mampu bangkit darimu. Bangkit setelah kecewa, dan kecewa setelah bangkit. Mungkin kata-kata itu yang cocok dengan keadaanku saat ini. Jika kau bertanya apakah aku marah? Tentunya. Tapi aku bukan marah padanya, melainkan marah pada diriku sendiri. Karena dengan bodohnya aku mudah luluh dengan laki-laki yang baru saja aku kenal. Aku tak mampu membentengi perasaanku hingga kekecewaanlah yang sekarang aku dapatkan. Banyak yang aku sesali dari kejadian ini. Salah satunya adalah aku tidak mendengarkan perkataan orang lain. Bukan satu dua orang yang memberi tahuku bahwa dia tak pantas untuk mendapatkan perempuan baik seperti aku. Tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Dan dengan percaya dirinya, aku menganggap bahwa dia sudah berubah tidak lagi sama seperti apa yang orang katakan. Namun nyatanya dugaanku salah. Pikiran positif yang tak mudah aku bangun untuknya dihancurkan begitu saja olehnya. Sakit memang. Sakit sekali. Hingga tak terasa air mataku menetes begitu saja karenanya. Bodoh? Ya memang aku akui memang aku wanita bodoh. Tapi aku bisa apa? Aku hanya wanita biasa. Aku tidak sekuat baja, apalagi jika sudah berkenaan dengan hati. Wanita mana yang tidak akan menangis kalau dia sudah mampu bangkit dari kekecewaan dimasalalunya dan sudah dapat menemukan yang baru tiba-tiba dihancurkan begitu saja? Dan wanita mana yang tidak akan menyesal membuka hatinya dan lebih mempercayai seseorang yang baru dia kenal daripada seseorang yang sudah dia kenal lama? Coba beritahu aku wanita mana yang tidak akan menangis bila mendapati situasi dan kondisi yang sama dengan yang aku rasakan saat ini.
Hey tuan manis,
Apa karena aku mempunyai hati yang tulus hingga aku mudah untuk tersakiti? Apa salah dengan hatiku? Entahlah, aku pun tak tahu. Aku hanya percaya jika ini memang jalan yang Allah kasih untukku agar aku dapat menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Yang dapat belajar dari pengalaman, hingga nantinya aku dapat menjadi wanita yang bijak. Selalu ada kebahagiaan dibalik kesedihan dan kekecewaan bukan? Jadi aku tak usah mengkhawatirkan aku. Karena aku punya Allah dan keluarga serta sahabat-sahabatku yang selalu memberiku semangat.
Hey tuan manis,
Mungkin hanya itu saja yang ingin aku ceritakan. Aku pamit. Nanti aku akan mengirimkan surat kembali untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatanmu, karena saat ini aku tak pernah bisa  mengetahui kabarmu lagi tapi aku harap kau selalu baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya.
Wassalam.


-NR-

2 comments:

  1. Sedih banget yaAllah.. kenapa yg tulus mudah tersakiti ?, kenapa seseorang yg benar-benar kita sayangi tidak bisa di persatukan ?,
    .
    .
    -AN-

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena yang tulus akan selalu diuji sampai dia benar-benar dinyatakan bahwa dia memang tulus. soal tidak bisa dipersatukan dengan orang yg kita sayangi, bukannya kita meminta untuk diberikan yg terbaik, kalau dia tidak bisa bersatu dengan kita berarti dia bukan yg terbaik dong? jadi ikhlaskan saja nanti juga akan digantikan dengan yg lebih baik lagi :)

      Delete

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...