Monday, May 2, 2016

Hal yang Tak Terduga (1)

Aku sering kali merasa bahwa pintu hati ini sudah tertutup untuk laki-laki manapun, setelah hubunganku dengan dia berakhir. Aku tak pernah bisa lagi merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Berkali-kali aku menjalin hubungan setelah dengan dia. Namun berkali-kali pula aku gagal. Karena hati ini tak bisa untuk dipaksakan. Dan cara melupakan bukan menjadikan orang lain sebagai pelampiasan. Hingga akhirnya aku berkenalan dengan dia. Sosok laki-laki yang tak pernah ku jumpai sebelumnya. Sosok yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Sosok yang lebih dewasa tiga tahun diatasku. Dan sosok yang membuatku nyaman saat kami sedang berbincang lewat telpon genggam.
Perkenalan ini berawal saat dia meminta contact person ku ke teman dekatku. Tepatnya tanggal sepuluh maret dua ribu enam belas, awal kedekatan kami dimulai. Sejujurnya saat itu aku tak ada niatan untuk membalas pesan dia. Aku berpikir, dia itu sama saja seperti laki-laki modus yang sering aku jumpai. Dan rasanya aku malas jika harus menanggapi pesannya itu. Namun temanku memberi saran padaku tak ada salahnya jika aku membuka hati untuk yang lain. Dan jangan menganggap semua laki-laki itu sama. Karena beda kepala, beda sifat. Apa yang dia bilang memang ada benarnya. Mungkin selama ini pandanganku salah hingga membuatku merasa malas untuk menjalin hubungan kembali. Entah sudah berapa banyak laki-laki yang sudah aku jutekan, atau dengan kata lain sudah aku usir secara halus. Dan karena wejangan dari temanku, akhirnya aku beranikan diri untuk membuka hati kembali. Aku akan mencoba memulai dari dia. Panggil saja dia tuan berkumis.
Hampir dua bulan kita dekat. Dan dalam waktu sesingkat itu, dia sudah berhasil membuatku nyaman bersamanya. Meski aku merasa ini merupakan hal teraneh yang pernah aku temui. Bagaimana tidak. Aku dengannya belum pernah berjumpa secara langsung. Saat aku pulang kemarinpun aku dengannya tak bisa untuk bertemu. Karena dia ada pekerjaan diluar kota yang tak bisa untuk dia tinggalkan. Kami hanya pernah face time, itu pun jarang. Karena jaringan ditempat yang sedang aku tinggali tak sebagus ketika aku berada dirumah. Kami hanya sering chatting. Telponan pun kami jarang. Hanya sekali dua kali dalam seminggu. Itu pun jika memang dia ingin menelpon. Banyak hal yang kita bicarakan di telpon. Senda guraupun tak bisa terlepas dari percakapan kita.
Aku bercerita tentang dia kepada mamahku. Dan itu pertama kalinya aku bercerita tentang laki-laki kepada mamah. Karena sebelumnya aku sangat dilarang untuk pacaran oleh kedua orang tuaku. Selama aku pacaranpun aku tak pernah bercerita kepada orang tuaku. Bisa dibilang backstreet. Pernah sekali ketika awal aku masuk kuliah, aku bertanya kepada kedua orang tuaku apakah aku sudah diperbolehkan untuk pacaran. Namun jawaban mereka tetap sama.
Entah ada angin apa, aku coba beranikan diri untuk bercerita tentang dia dengan mamah. Sebelumnya aku takut, aku takut jika mamah nantinya akan marah ketika aku bercerita, namun nyatanya tidak. Mamah sangat merespon ceritaku. Bahkan bertanya secara detail tentang dia. Dan sekali lagi aku bilang, ini aneh. Benar-benar aneh.
Aku merasa seperti bukan diriku yang sebenarnya. Aku merasa ini bukan aku. Karena memang tak biasanya aku seperti ini. Mudah luluh oleh laki-laki yang belum pernah kutemui.
Jika ditanya bagaimana orangnya, aku hanya bisa menjawab "dia baik". Meski aku tau baik itu relatif. Dimataku dia itu seperti sesosok kakak yang bertanggung jawab yang melindungi adiknya dan tak ingin adiknya mengalami kejadian yang tidak dia harapkan. Sejauh ini hanya itu penilaian yang bisa aku simpulkan. Aku berusaha untuk senetral mungkin. Aku tak ingin berharap padanya. Karena aku tak ingin termakan oleh kata-kata manisnya. Dan aku tak ingin dikecewakan lagi untuk kesekian kalinya. Bukan, bukannya aku pecundang yang takut untuk kecewa. Bukan itu. Aku hanya tak ingin membuat luka baru. Karena apa? Karena luka lamaku baru saja sembuh. Dan untuk memulihkannya aku butuh waktu yang cukup lama.
Aku mengetahui bagaimana pedihnya ketika kita berharap selain kepada sang pemilik hati. Dan aku tak ingin mengulanginya kembali. Aku lebih baik berusaha keras untuk tidak menanamkan harapan dalam hatiku. Karena semua ini masih semu.
Aku hanya ingin mengikuti kemana arah angin bergerak. Menjalani apa yang ada didepan mata tanpa berharap lebih. Berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadi yang terbaik. Karena tujuanku sekarang bukan mencari yang terbaik, namun menjadi yang terbaik. Karena aku percaya janji Allah itu nyata. Yang baik akan bersama dengan yang baik. Begitu juga sebaliknya. Yang buruk akan dengan yang buruk pula.
Bagaimana endingnya nanti hanya Allah yang Maha Mengetahui. Rencananya, rencanaku tak ada yang sebaik rencana Allah. Dan aku percaya apa yang Allah beri untukku itu merupakan yang terbaik untukku. Kini biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku hanya bisa berdoa semoga aku diberikan yang terbaik oleh-Nya.

Thursday, April 28, 2016

Suratku masih untukmu (8)

Assalamu’alaikum hey tuan manis,
Apa kabarmu?Aku masih berharap kau disana baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Jika kau penasaran dengan kabarku, aku disini baik-baik saja. Seperti yang selalu aku bilang padamu, aku akan baik-baik saja. Insya Allah.
Mungkin sudah cukup lama aku tak menulis surat untukmu. Seperti kataku disurat terakhir yang aku kirim untukmu, mulai saat ini aku tak akan sering lagi menulis surat untukmu.
Hey tuan manis,
Maaf. Karena aku sudah tak pernah mengabarimu lagi. Maaf. Karena aku sudah tak pernah membalas komentarmu di  sosial mediaku. Dan maaf, karena aku perlahan menjauh darimu.
Aku tak perlu mengutarakan kembali alasan mengapa aku melakukan itu. Sudah cukup bagiku alasan yang aku keluarkan untukmu. Sekali lagi aku berharap semoga kau mengerti.
Hey tuan manis,
Tak terasa ini tahun ketiga, kita tak merayakan hari kelahiran kita secara bersama. Cukup lama bukan? Ya tentu. Namun meski begitu, aku masih ingat benar kapan terakhir kita merayakan hari kelahiran kita secara bersama. Dan aku masih ingat, kapan terakhir pula kita saling memberikan hadiah saat kita ulang tahun. Dan itu tepat tiga tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 2013.
Hadiah yang terakhir aku beri kepadamu, mungkin bisa dibilang itu merupakan hadiah yang special untukmu. Yang aku buat dengan usaha ku sendiri. Meski tak mempunyai harga, namun itu mempunyai banyak cerita. Karena buku itu merupakan saksi bisu perjalanan cerita kita. Aku kumpulkan semua cerita  tentang kita yang telah aku buat. Lalu aku gabungkan menjadi satu dalam bentuk buku. Dan sungguh sebenarnya tak terlintas dalam pikiranku untuk membuatkan buku untukmu. Ide itu tiba-tiba terlintas begitu saja dalam pikiranku. Dengan diberi saran oleh sahabat-sahabatku mengenai niatanku untuk membuatkanmu sebuah buku, maka segera aku lancarkan niatanku itu. Awalnya aku ragu, karena aku takut kau tak suka dengan buku yang aku buat. Karena disitu terdapat banyak cerita kau dan aku yang tak perlu untuk kita ingat kembali. Selain itu, aku juga ragu karena semua cerita yang ada dibuku itu merupakan cerita nyata tentang kegalauanku. Namun akhirnya, aku mantapkan niatanku itu untuk tetap terus dilanjutkan.
Dan Alhamdulillah, saat aku membuatkan buku untukmu aku tak mengalami kesulitan untuk membuatnya. Karena banyak pihak yang membantuku. Aku bersyukur karena buku tersebut sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Tepat  dihari jadi kamu, aku ditemani kedua temanku mendatangi rumahmu. Memberikan kejutan kecil untukmu. Yang aku harap, kau tak akan menyangkanya. Namun ternyata aku salah, kamu sudah begitu pintar untuk bisa menduga apa yang akan terjadi. Namun tak masalah bagiku. Karena masih bisa memberikan kejutan dihari jadimu saja, sudah lebih dari cukup untukku merasa bahagia.
Berbincang cukup lama, hingga moment dimana aku harus memberi hadiah itu pun tiba. Dalam hati aku masih merasakan ragu, “apa memang harus aku kasih buku ini untuknya?”. Sebelum berangkat kerumahmu, sebenarnya aku ingin mengurungkan niatku itu. Namun kedua temanku memaksaku untuk tidak mengurungkan niatku, dengan alasan aku sudah capek membuatnya dan sekarang tinggal aku berikan kepada orangnya saja masa ingin aku urungkan. Dan akhirnya, dengan bismillah aku tetap ingin memberikanmu ini.
Aku masih ingat bagaimana ekspresimu saat itu. Dan sampai detik ini pun, aku masih mengingat semuanya dengan baik. Dan sekarang, aku berharap semoga buku itu masih kau simpan dengan baik. Namun jika tidak, aku tak berhak untuk marah karena semua itu hak kamu ingin menyimpannya atau tidak.
Hey tuan manis,
Terakhir kali kau memberikan hadiah untukku adalah sebuah bingkai yang berisika foto-fotoku. Kau bersama dengan temanmu datang kerumahku dan memberikanku kejutan kecil beserta hadiah. Awalnya aku sempat badmood ketika kamu mengabariku bahwa kau tak jadi datang, namun ternyata itu hanyalah sebuah trikmu untuk membuatku kesal dihari jadiku. Aku akui memang kala itu aku belum cukup pandai untuk bisa menebak situasi dan kondisi hingga kau berhasil mengerjai aku.
Dan jika kamu tau, hadiah kecil yang kau beri untukku, masih aku pajang rapih didalam kamarku. Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk menurunkan pajangan itu dari dinding. Karena aku menghargai apa yang telah kau lakukan untukku.
Ya, itu tadi cerita kilasku mengenai tiga tahun lalu. Tak terasa bukan? Ya, aku pun sama sepertimu. Tak menyangka waktu berlalu begitu cepatnya. Namun inilah kehidupan, harus terus berjalan tak peduli betapa banyaknya kamu kehilangan sesuatu dalam hidupmu.
Hey tuan manis,
Ini pertama kalinya aku tak berada di kota yang sama denganmu saat kau sedang memperingati hari jadimu. Aku berharap ada atau tidaknya aku, kau masih bisa merasakan kebahagiaan dihari jadimu. Dan aku tau, kau pasti bisa merasa bahagia saat ini, karena kau banyak dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Dan aku beruntung, banyak yang menyayangimu hingga detik ini.
Hey tuan manis,
Selamat ulang tahun. Selamat memperingati hari jadimu yang ke-19 tahun. Semoga kau bisa memanfaatkan umurmu yang semakin tua ini dengan bijak. Semoga kau bisa bertambah dewasa, berpikir sebelum bertindak dan berbicara. Semoga kau bisa lebih berguna dan bermanfaat untuk semua orang, agama, nusa dan bangsa. Dan semoga kau bisa menjadi pribadi yang lebih tegas dan bijak lagi.
Banyak sebenarnya doa yang ingin aku tulis disini, namun bagiku mendoakanmu dalam sujudku sudah lebih dari cukup. Yang aku berharap banyak darimu saat umurmu bertambah ini. Kau tidak lagi membuat orang lain kecewa dengan sikapmu yang tak bertanggung jawab itu. Cukup aku yang menjadi korban, jangan kau buat yang lain bernasib sama sepertiku.
Hey tuan manis,
Sejujurnya aku ingin mengucapkan langsung padamu.Namun aku tak bisa melakukan itu. Jangan tanya mengapa. Karena kau pasti sudah mengetahui jawabannya.
Aku rindu, jika aku boleh jujur. Aku ingin kembali ke masa ketika kamu masih berada disampingku. Tapi aku tau, itu tak akan mungkin bisa terjadi lagi. Cukup tenang sekarang aku disini. Bahagia dengan kesendirianku. Dan nyaman dengan keadaanku saat ini. Mungkin karena aku baru benar-benar merasa bagaimana indahnya kehidupan dengan terbang bebas berkelana diangkasa. Mungkin juga karena aku sudah berhasil mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku.
Kau tak perlu bertanya mengapa aku bisa seperti ini. Kau juga tak perlu bertanya siapa orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Oh tidak bukan melupakanmu, lebih tepatnya mengeluarkanmu dari hati dan pikiranku. Karena melupakanmu adalah hal termustahil dalam hidupku. Kau adalah salah satu orang yang berarti dalam hidupku. Berkatmu aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Dan berkatmu pula aku banyak belajar mengenai arti kesabaran dan ketulusan. Kau adalah pengalaman terbaik dalam hidupku.
Terimakasih untuk semuanya. Sekal lagi selamat ulang tahun hey tuan manis.
Aku pamit. Jangan menunggu surat dariku, karena aku sendiri masih belum tahu kapan aku akan menulis lagi.
Jaga dirimu baik-baik. Semoga kau selalu bahagia.
Salam rindu dariku, orang yang masih terus berjuang menjadi lebih baik lagi.

Wassalam.

-NR-

Saturday, April 16, 2016

Suratku masih untukmu (7)

Assalamu'alaikum hei tuan manis,
Aku harap kau baik-baik saja, dan aku selalu berdoa semoga segala urusanmu lancar dan dipermudah. Maaf mungkin aku tak ingin lagi mencari tau kabar darimu, atau ingin mencari tau tentangmu. Aku sudah lelah. Aku bosan dengan semua ini. Jadi aku harap semoga kau mengerti keadaannya.
Hei tuan manis,
Kau tau kemarin air mata ini mengalir dengan derasnya. Dan kau tau apa penyebabnya? Kau. Ya kaulah penyebabnya. Mungkin saat kau membaca surat ini kau bertanya-tanya apa salahmu dan mengapa aku berlebihan. Iya? Sudah ku tebak.
Hei tuan manis,
Kau selalu tak menyadari apa kesalahanmu. Entah kau ini manusia yg kurang peka atau memang tak pernah peka. Aku sendiri masih belum dapat memahami sifatmu yg satu ini.
Hei tuan manis,
Aku berpikir salah apa aku ini hingga kau bersikap seperti itu. Kau selalu menganggapku tak pernah penting dimatamu, dan kau selalu mengabaikan ku. Bukan sekali dua kali tapi sering. Ya sering. Dan kau sadar itu? Oh tentunya tidak. Ya aku bisa paham. Aku dapat memahami semuanya. Aku cukup sabar. Mungkin orang lain sudah muak dengan kesabaranku. Mereka muak melihatku selalu sabar menghadapimu. Tapi aku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat mereka bertanya, "apa yg membuatmu bersabar seperti ini padahal kau sendiri tau kau selalu diabaikan dan tak pernah terlihat dimatanya?". Aku hanya bisa tersenyum dan berkata, "karena aku masih dapat bersabar". Saat mereka bertanya, "apa kau tak lelah?". Aku hanya bisa menjawab, "jika aku sudah lelah aku akan berhenti dengan sendirinya". Dan saat mereka bertanya, "kenapa kamu tidak bangkit saja?". Aku hanya bisa menjawab, "sudah berkali-kali aku coba bangkit namun upaya ku selalu saja gagal, akhirnya hati ini kembali lagi. Dan sekarang aku tau, aku yakin Tuhan pasti mempunyai rencana yg indah untukku". Dan saat mereka mengatakan aku bodoh, aku hanya bisa tersenyum dan berkata, "kebodohanku akan menjadikan aku kuat". Yaa, aku yakin, jika memang sekarang ini aku bodoh karena terus bertahan denganmu, dengan orang yg tak pernah menganggapku ada, namun aku percaya suatu saat nanti aku akan menjadi seseorang yg kuat. Karena dengan aku bertahan dengamu meski disia-siakan, aku akan mendapat pengalaman yg bisa aku jadikan pembelajaran. Tuhan tak pernah tidur. Dibalik semua ini pasti ada hikmahnya. Dan aku percaya, Tuhan tak mungkin membiarkanku seperti ini tanpa ada tujuan.
Hei tuan manis,
Kau tau kenapa aku menangis kemarin? Aku marah, aku marah padamu. Karena kau sangat membedakan aku dengan dia, dengan mereka. Aku hanya ingin berteman denganmu di sosial media. Tak ada maksud dan tujuan tertentu. Namun kau, kau bersikap dingin, seakan menolakku dengan mentah. Kau membiarkan mereka berteman denganmu di sosial media sedang aku tidak. Mungkin kau sekarang sedang berpikir, aku terlalu childish hanya karena masalah itu saja aku menangis. Kau salah tuan manis. Kau salah! Kejadian itu adalah puncaknya. Puncak dari kekesalanku padamu. Puncak dari rasa sabarku selama ini. Entah, entah kenapa aku sulit membendungnya kala itu. Mungkin karena batas kesabaranku sudah mencapai puncaknya kali ini. Dan aku sampai sekarang pun tak habis pikir, aku bisa semarah itu denganmu. Bukan hal biasa. Aku tak pernah bisa marah denganmu. Saat kau mengecewakanku beribu kali, aku diam. Aku tak marah. Begitu jg saat kau mengecewakan sahabatku, aku diam. Aku tak marah. Tapi kemarin, itu pertama kalinya aku marah denganmu.
Hei tuan manis,
Sadarkah akan sikapmu yg sering menyakitiku? Tolong hentikan semua itu. Lihat aku! Tengoklah aku! Aku ini manusia yg tampak, bukan jin atau pun malaikat. Aku ini manusia! Aku bisa dilihat! Tapi kenapa, kenapa kau tak pernah mau menyadari itu? Kenapa?! Aku mohon, tolong jelaskan semua ini. Jangan bungkam dan bisu secara terus-menerus. Kau punya mulut bukan? Kau tak gagu bukan? Tapi kenapa membuatmu bicara dan menjelaskan semuanya terasa sulit. Seperti membangun istana pasir diatas air. Aku hanya ingin kau bicara dan jelaskan semuanya padaku. Aku hanya ingin itu tuan manis! Baiklah. Terserah kau saja jika kau masih memilih bungkam. Tapi satu yg harus kau ketahui. Tolong jangan salahkan aku jika aku memilih berhenti dan pergi tak ingin mengenalmu lagi. Dan jangan salahkan aku juga, ketika rasa sayang ini berubah menjadi rasa benci. Perlu kau ketahui, hati ini sudah terlalu kecewa.
Hei tuan manis,
Aku pamit. Aku ingin kembali berjuang belajar, agar aku dapat memberikan ilmuku yg bermanfaat untuk calon anak didikku kelak. Aku pamit. Mungkin aku tak akan seperti dahulu lagi, menghubungimu dan menganggu kehidupanmu lagi. Mungkin saat ini aku benar-benar akan hilang dan tenggelam dari kehidupanmu. Jangan kau coba menghubungiku, karena aku tak akan meresponnya.
Hei tuan manis,
Maaf bukannya aku ingin memutus tali silaturahmi, bukannya aku ingin memutus pintu rezeki, namun saat ini aku benar-benar ingin sendiri. Ingin terbang bebas berkelana tanpamu. Tanpa bayang-bayang darimu. Dan yg pasti tanpa rasa sakit yg sering engkau taburkan. Aku pergi. Aku harap aku tak merindukanmu kembali dan mencoba menghubungimu kembali. Jika aku merindukanmu kelak, akan aku salurkan rindu ini melalui doa. Karena doa adalah saluran terampuh dalam menyampaikan pesan kita. Baik-baiklah kau disini. Berubahlah. Karena aku ingin kau menjadi sosok yg lebih baik lagi. Jaga dirimu baik-baik hei tuan manis.


Dari seseorang yg sudah terlalu kecewa padamu.

-NR-

Jika Harus Kecewa Kembali…

Aku pernah berjuang sendiri. Aku pernah berkorban sendiri. Aku pernah menyayangi dalam diam. Dan aku pernah tersakiti. Dengan orang yang sama. Mungkin aku memang bodoh, dan aku akui itu. Namun apalah dayaku ketika hati sudah terpikat, tak ada  yang bisa aku perbuat. Jika ditanya apakah itu menyakitkan? Jawabannya tentu ya. Kalian tak harus membayangkan bagaimana sakitnya, karena ada yang jauh lebih indah dari pada harus membayangkannya.
Aku pernah menjalin hubungan yang pada akhirnya itu tak berlangsung lama. Mungkin benar kata orang, hubungan yang didasari niat tak baik tak akan berlangsung lama. Niatku memang hanya mencari pelampiasan. Namun jika pada akhirnya aku jatuh hati, apa niatku masih bisa dikatakan tak baik? Apa yang kalian tau dari seseorang yang selalu gagal untuk bangkit? Kalian hanya bisa menilai tanpa bisa merasakan. Dan aku, aku selalu diam saat semua orang mengolokku. Aku selalu diam saat semua orang menertawakanku.   Karena apa? Karena aku tau, kalian tak pernah merasakan bagaimana rasanya menyayangi dengan tulus.
Aku pernah bangkit lalu gagal. Aku coba bangkit lagi dan lagi lagi aku gagal. Apa kalian tau rasanya? Sungguh itu sulit untuk aku jelaskan. Mungkin kalian bertanya, apa yang spesial dari dia hingga membuatku begitu sulit untuk melupakannya? Aku tak bisa menjawab. Karena bagiku, menyayangi tak butuh alasan. Namun satu yang ingin aku tekankan disini, aku menyayangi dia karena Tuhan. Dan aku percaya, jika suatu saat nanti aku bisa melupakan dia karena Tuhan pula. Karena yang maha membolak-balikan hati manusia adalah Dia, sang maha pemilik hati. Aku selalu yakin, kelak pasti aku akan bisa melewati semua ini. Dan sekarang itu semua terbukti. Dengan seiring berjalannya waktu, aku mampu menghilangkan perasaan ini.
Mungkin benar pepatah diluar sana “dibalik move on yang lama terdapat mantan yang hebat, dan dibalik move on yang cepat terdapat orang yang luar biasa hebatnya.” Dan aku baru merasakannya sekarang.
Penantianku membuahkan hasil. Saat ini aku bertemu dengan seseorang yang belum pernah ku temui sebelumnya. Berbeda dari kebanyakan pria yang aku kenal. Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Biarkan cukup aku yang mengetahui. Karena penilaian setiap orang berbeda.
Aku tak pernah bertemu dengannya. Melihat rupanya saja aku baru sekali, dan itu hanya melalui video call. Kami berbeda kota. Dan berbeda provinsi. Lalu bagaimana kalian bisa berkenalan? Mungkin itu pertanyaan yang terlintas didalam pikiran kalian. Aku dikenalkan oleh temanku. Namun jangan salah, bukan aku yang meminta untuk kenalan terlebih dulu. Jujur, aku bukan tipikel orang yang mau untuk dikenalkan dengan pria begitu saja. Bisa dibilang aku terlalu cuek untuk hal seperti itu. Jangankan untuk berkenalan dengan pria lain, chatting dengan pria saja aku sering kali menjutekan mereka. Entah sudah berapa pria diluar sana yang pernah mendapat sifatku yang satu ini. Ya, aku memang jutek. Mungkin bisa dibilang aku adalah gadis jutek. Bukan orang yang baru ku kenal saja aku, namun dengan teman dekatku atau dengan sahabatku, mereka pun mengatakan hal yang sama. “Kamu jutek”. Dan aku selalu tertawa ketika mereka mengatakan hal itu.
Bisa dibilang hampir 2 bulan aku dekat dengannya. Seiring berjalannya waktu, kedekatan kami semakin terasa. Dan seiring berjalannya waktu pula, aku mulai menyukainya. Karena dia mampu membuatku tak punya waktu kembali untuk mengingat kekasihku dimasalalu. Dan karena dia pulalah, aku bisa merasakan kembali hal yang sudah lama tak pernah aku rasakan. Namun aku belum bisa menyimpulkan apa aku ini jatuh hati padanya. Karena aku tak ingin terlalu cepat menyimpulkan semua ini. Dan aku juga tak ingin terlalu percaya diri untuk mengatakan bahwa dia menyukaiku. Biar saja waktu yang menjawab semuanya. Karena aku percaya rencana Tuhan lebih indah dari apapun. Aku selalu berdoa pada-Nya, jika kelak aku jatuh hati kembali, aku tak ingin berharap kepadanya. Karena aku paham benar bagaimana pedihnya sebuah harapan ketika kita berharap selain pada-Nya. Dan ketika aku jatuh hati kembali, jatuhkanlah aku pada orang yang tepat. Dekatkan aku dengannya dengan cara-Mu jika memang dia yang terbaik untukku. Namun jika dia hanya akan membuatku terluka kembali, maka jauhkanlah dia dariku.
Aku tak pernah berhenti berdoa seperti itu ketika aku sedang dekat dengan seorang lelaki. Bukannya aku meminta jodoh namun aku hanya meminta agar aku tak dikecewakan kembali dengan seorang lelaki. Dan bukannya aku meminta jodoh, hanya saja aku ingin Dia menjaga hatiku dari orang-orang yang ingin menyakitiku. Aku hanya meminta yang terbaik untukku. Meski aku tau Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya.
Jika pada akhirnya aku harus kecewa kembali, aku terima. Karena aku yakin, ini cara Tuhan untuk membuatku lebih kuat lagi. Untuk membuat aku semakin berhati-hati dalam memilih dan mengambil keputusan.

Dan jika aku harus kecewa kembali, mungkin memang ini takdir yang harus aku jalani. Aku tak akan marah, karena aku percaya ini yang TERBAIK yang Tuhan kasih untukku.

Thursday, February 18, 2016

tiga tahun tanpa kamu.

Sudah dua ribu enam belas, itu tandanya sudah tiga tahun aku tanpa kamu, sudah hampir enam tahun perasaan ini bersemayam dihati. Dan selama enam tahun pula aku gagal move on dari kamu. Tiga tahun atau enam tahun bukan waktu yg sebentar. Bukan waktu yg singkat.
Enam tahun perasaan ini bersemayam berarti artinya sudah 72 bulan 288 minggu dan 2016 hari. Sekali lagi, itu bukan waktu yg singkat. Dan tidak mudah bagiku bertahan dalam waktu yg selama ini. Selama ini aku coba untuk bisa bangkit dan menghilangkan perasaan ini. Sejak awal pertama hubungan kita berakhir pada 20 juli 2010. Dan sampai saat ini aku masih belum berhasil untuk melakukan itu semua. Apa kamu tau betapa tersiksanya aku dengan keadaan ini? Apa kamu tau rasanya menyayangi terlalu dalam seperti ini? Apa kamu tau rasanya dibully oleh teman-temanmu karena kamu belum bisa move on dari masa lalumu? Apa kamu tau rasanya melihat kamu dengan yg lain? Apa kamu tau rasanya selalu gagal untuk melangkah itu seperti apa? Apa kamu tau rasanya ketika kamu ingin menghilang selamanya dari kehidupan orang yg kamu sayangi tetapi ada yg menghalanginya? Apa kamu tau rasanya itu semua? Apa kamu tau? Dan apa kamu tau juga rasanya ketika kamu sudah berniat ingin bangkit tetapi orang yg kamu sayangi datang kembali dengan membawa seribu harapan lalu dengan sekejap dia menghancurkannya dengan pergi dan berubah tanpa alasan? Apa kamu tau rasanya selalu gagal karena kesalahan yg sama, yaitu membiarkanmu masuk kembali dan membiarkanmu pergi sesuka hati? Apa kamu tau rasanya? Aku tak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi satu yg pasti dan perlu kamu ketahui bahwa, semua itu sungguh menyakitkan.
Kamu selalu menjadi alasanku untuk bangkit. Tapi kamu juga yg selalu menjadi alasanku untuk bertahan. Kamu selalu datang disaat aku sudah berniat dan bertekad untuk mencoba kembali melupakan kamu, seolah-olah kamu memberikan aku isyarat bahwa kamu tak ingin aku lupakan. Namun saat tekad ini mulai lemah, kamu pergi begitu saja seakan-akan kamu tak meninggalkan dosa sedikitpun. Apa kamu tau itu? Itu yg selalu aku rasakan setiap aku ingin bangkit dan melupakanmu. Dan karena hal itu lah untuk kesekian kalinya aku gagal melupakanmu. Aku selalu ingin pergi dari kehidupanmu, tak ingin kembali dan bertemu denganmu. Namun mereka, mereka selalu mencegahku, mereka selalu mengatakan bahwa tak baik aku memutuskan tali silaturahmi. Ya memang aku tahu, aku tahu soal itu. Tapi biarkanlah aku pergi sekejap saja hingga perasaan ini hilang. Karena terus bersamamu dengan alasan mereka adalah salah satu hal yg menyulitkan posisiku saat ini. Apa kamu tau itu. Apa sebenarnya ini yg kamu inginkan? Apa kamu bahagia diatas penderitaanku?
Berkali-kali aku coba, berkali-kali juga aku berhasil dan berkali-kali juga aku gagal. Kamu tau karena apa? Itu semua karena KAMU! Iyaa kamu! Orang manis yg masih ada didalam hati dan pikiranku.
Tak bisakah kau menyadari sedikit saja tentang semua ini? Minimal aku harap kau sadar dan tidak datang lagi dengan membawa segudang harapan. Oh tidak mungkin saat ini kamu berfikir kalau aku yg terlalu berharap. Tidak tidak! Aku bisa merasa seperti itu karena kamu yg memberikan sinyal yg kuat untukku. Oh tidak, mungkin kamu merasa kalau aku yg terlalu kegeeran. Tidak tidak! Aku cukup tau diri. Aku cukup membedakan mana yg tulus dan mana yg tidak. Dan jika kamu tau, dari setiap kata-kata yg kamu kirimkan padaku, semua itu sudah menjadi cukup bukti untuk perasaanku ini. Oh tidak, mungkin kamu beranggapan bahwa "bisa saja aku melakukannya ke semua cewe". Tidak tidak! Bukan sehari dua hari aku mengenali mu. Jadi aku tau betul siapa kamu ini, siapa masa lalu aku ini. Dulu saat kamu masih dibangku sekolah menengah pertama kamu mungkin bisa melakukan semua itu, tapi saat kamu tumbuh dewasa seperti sekarang ini, aku rasa tak akan mungkin kamu melakukan itu kembali. Karena apa? Karena aku percaya kamu telah cukup dewasa untuk serius menjalin hubungan.
Oh ayolah sadari semua ini wahai tuan manis! Aku selalu sulit tertidur ketika malam hari karenamu. Karena kamu selau mengganggu pikiranku. Aku lelah wahai tuan manis. Aku lelah dengan semua ini. Aku sangat merindukan bagaimana rasanya jatuh cinta kembali. Aku sangat merindukan sosok yg baru, yg seharusnya sudah bisa aku rasakan kalau kau tak menggangguku kembali.
Sadari itu aku mohon! Aku hanya ingin kamu menyadari kalau disini ada seorang gadis yg masih belum bisa keluar dari bayang-bayangmu.
Tolong sadari itu! Sadari kalau hati kecilku selalu berkata kau juga masih menyayangiku. Aku hanya ingin kau menyadarinya dan memberikanku penjelasan tentang semua ini. Tentang sikapmu yg selalu berubah dan tentang hati kecilku yg selalu merasa kau masih menyayangiku. Setidaknya kau bicara jangan bungkam dan membuat semua orang bimbang. Karena dengan cara kau bungkam membuat aku semakin bimbang. Aku hanya ingin mendengar penjelasan darimu, itu saja tak lebih. Apa aku salah? Iya? Jelaskan padaku dimana letak kesalahanku? Sekali lagi aku bertanya, bisa kah kau menjelaskan semuanya? Jika kau tak mampu menjelaskannya baiklah bukan masalah. Tapi aku mohon jangan datang lagi padaku sampai nanti aku sendiri yg akan datang kembali padamu. Dan disaat itulah aku sudah berhasil melupakanmu. Namun saat aku sudah berhasil nanti, aku mohon, kau jangan datang memberikanku harapan kembali. Karena jika itu terjadi maka aku akan gagal untuk kesekian kalinya. Dan aku tak mau itu terjadi kembali. Aku lelah, sungguh lelah.

-NR-

Sakit dalam Diam

Apa yg aku rasakan sekarang ini?
Apakah ini yg namanya sayang?
Apakah ini yg namanya cinta sejati?
Bertahun-tahun dia bersemayam dihati
Tak ingin pergi meski ku usir
Apakah ini yg namanya cinta sepihak?
Menyakitkan dan hambar rasanya
Kamu bebas berkelana
Tak ada yg menahan ataupun menghambat
Sedang aku?
Ada hati yg menahan
Ada rasa yg menjadi penghambat
Aku tak tau apa ini namanya
Yang aku tau sekarang, aku sedang merasa aku mencintai dalam diam
Menahan semua rasa sendiri
Kau dan orang lain tak ada yg mengetahui
Ingin aku bercerita, berbagi rasa tentang apa yg aku rasa sekarang
Namun aku takut,
Aku takut diolok oleh mereka
Sebab mereka hanya ingin tau bukan karena peduli
Apa aku sanggup untuk diolok kembali?
Tidak,menahan rasa ini cukup apalagi jika ditambah dengan olokan.
Lantas aku harus apa?
Apa aku harus berdiam seperti ini selamanya?
Hingga semuanya akan menghilang dengan sendirinya
Apa aku harus menahan semuanya sendiri?
Hingga aku menyerah dengan keadaan
Ketahuilah ini sangat sulit untukku
Memikirkanmu,menyayangimu,merindukanmu
Semua hanya dalam diamku
Semua hanya aku yang merasa
Ingin sekali aku mendengar kejelasan atas perasaanmu
Apakah kita punya rasa yg sama atau tidak?
Hanya itu yg ingin aku dengar
Bukan sebuah keabstrakan
Bukan juga sebuah jawaban yg mengambang
Aku hanya butuh kejelasan karena aku wanita
Aku butuh kejelasan
Karena aku ingin hidup bebas sepertimu
Berkelana mencari cinta sejati
Bukan berdiam diri dengan bodoh menunggu ketidak pastian
Tolong! Tolong izinkan aku seperti mu!
Hidup bebas tanpa beban sedikitpun
Tanpa ada cinta yg menghambat semuanya
Aku hanya ingin hidup bebas
Aku hanya ingin itu
Tapi ketahuilah semua itu sulit,sangat sulit
Aku masih merasa kau akan kembali
Feeling ku begitu kuat sampai ia terus menahanku untuk jangan pergi
Aku masih merasa kau menyayangiku
Meski kenyataannya sikapmu teramat buruk padaku
Lantas untuk apa aku bertahan jika semuanya akan sia-sia?
Apa kamu senang aku seperti ini?
Apa ini yg kamu inginkan?
Kamu sungguh beruntung ada seseorang yg menyayangimu dgn tulus
Tanpa mengharap balasan
Tanpa berharap kau melihatnya
Rela bekorban untukmu
Demi melihat kau tersenyum meski hati terluka
Tapi aku?
Entah bisa dibilang bagaimana nasibku ini
Apa menyedihkan? Atau kurang beruntung karena menyayangi orang yang salah
Ketahuilah aku juga ingin menjadi alasan kau bahagia,meski itu mustahil.


-NR-

Ajarkan Aku Rahasiamu

Aku rindu aku yg dulu
Aku yg selalu kuat tak pernah lemah
Apa lagi tak pernah kenal air mata
Aku rindu aku yg dulu
Yg bisa tertawa lepas dari hati
Seakan tak ada beban yg harus aku pikul
Aku rindu aku yg dulu
Yg selalu bahagia tanpa mengenal kesedihan
Apa lagi air mata
Aku rindu aku yg dulu
Yg bisa melakukan apa pun sesuka hati
Tak ada yg melarang
Aku rindu aku yg dulu
Yg hidup bebas tanpa ada beban
Aku ingin menjadi aku yg dulu
Aku sangat ingin kembali menjadi aku yg dulu
Bukan yg sekarang,
Sebab aku yg saat ini sangat berbeda dengan aku yg dulu
Dan penyebabnya adalah kau
Ya kau...
Orang yg sampai saat ini masih bersemayam dihati
Mungkin akan abadi didalam hati ini,
Namun mungkin saja tidak,
Ya tidak.
Jika kau ingin mengajariku rahasiamu
Tolong ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku bisa melepaskan dengan mudah
Tolong ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku dapat mengikhlaskanmu
Tolong ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku dapat melupakanmu
Seperti kau yg sudah melupakanku
Tolong ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku dapat merasakan kebebasan kembali
Bukan lagi seperti burung dalam sangkar yg hanya berkutik didalamnya
Seperti kau, aku juga ingin bebas berkelana
Mencari mangsa kesana kemari untuk bisa menemukan yg terbaik
Bukan seperti aku,
Yg masih menganggapmu yg terbaik
Ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku dapat tertawa lepas seperti tak ada beban yg harus aku pikul
Agar aku dapat sepertimu hanya bermuka satu, bukan sepertiku..
Yg selalu memasang fake smile didepan semua orang
Ya..
aku selalu memasang fake smile,
karena aku tak ingin ada yg mengetahui bahwa aku yg sesungguhnya adalah tak lebih dari wanita lemah
Ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku dapat merasakan jatuh cinta kembali
Sama halnya sepertimu
Kau dapat menemukan yg baru setelah denganku
Ajarkan aku rahasiamu,
Agar setiap malam tiba aku tak lagi mengingatmu,
Mengingat semua kenangan kita
Ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku menjadi kuat sepertimu
Yg tak selalu menangis saat malam tiba
Hanya karena mengingatmu, mengingat semuanya
Kamu selalu mengajari aku mengais-ngais masalalu
Membawa aku mengikuti arus kenangan
Yg sudah seharusnya aku lupakan
Kamu selalu menyeret aku dalam kesedihan
Membawa aku kedalam dunia gelap
Yg hanya ada bayang-bayangmu
Yg seharusnya sudah dari dulu aku keluar dari dunia tersebut
Siapa aku sebenarnya dimatamu?
Mengapa rasanya sulit kau membiarkanku hidup bebas?
Apakah penting aku dikehidupanmu?
Hingga kau tak izinkan aku untuk pergi meninggalkanmu
Sampai kapan aku menjadi layang-layangmu?
Karena aku sudah lelah kau tarik ulur sesuka hati
Tak bisa kah kau lihat ketulusan hati ini?
Apakah layang-layangmu ini tak berhak untuk bebas dan terbang bahagia?
Tolong hentikan semua ini!
Tolong ajarkan aku rahasiamu,
Agar aku bisa menjadi sepertimu.
Karena aku sudah lelah dengan semua ini.


-NR-

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...