Monday, September 5, 2016

Aku hanya ingin bahagia..

Aku hanya ingin bahagia
Dapat mencintai dan dicintai
Bukan merasakan cinta sepihak
Bukankah cinta itu fitrah?
Bukankah cinta itu anugerah?
Lantas mengapa selalu saja menyakitkan
Ketika aku mencintai seseorang
Adakah yg salah ketika aku mencintai seseorang?
Caraku?
Atau sikapku?
Tidak.
Aku selalu bersikap wajar ketika aku mencintai seseorang
Aku selalu menyebutnya dalam sujudku
Membawanya dalam doa-doaku
Aku tak pernah membanggakannya
Aku tak pernah memamerkannya
Terlebih memujanya
Aku hanya mencintai dengan sewajarnya
Bukankah itu yg dianjurkan?
Mencintai dan membenci dengan sewajarnya
Namun mengapa selalu saja menyakitkan ketika aku mencintai seseorang

Aku hanya ingin bahagia
Jika cintaku tak pernah berpihak
Dan mencintai selalu saja menyakitkan
Maka ajarkan aku untuk belajar mencintainya
Mencintai seseorang yg juga mencintaiku
Jika itu lebih baik
Mohon bantu aku agar aku bisa melakukannya
Karena sungguh itu tak mudah
Berkali-kali aku mencobanya
Dan disaat itu juga aku menemukan kegagalan
Oh tidak..
Jangan biarkan aku menyerah
Aku mohon

Ajarkan aku bahagia,
Karena aku terlalu bodoh dalam urusan mencintai
Aku terlalu setia
Hingga aku tak sadar aku tengah tersakiti
Namun adakah yg salah dengan kesetiaanku?
Bukannya kita memang harus menjadi orang yg setia?
Lantas mengapa balasannya sangat menyakiti hatiku?
Aku yg terlalu bodoh dengan perasaan ini atau dia yg terlalu pintar memainkan perasaanku?
Beri tahu aku dimana letak kesalahanku!
Aku sungguh lelah menjadi wanita bodoh
Rela bertahan untuk yg tidak pasti
Menghabiskan waktu dengan orang yg salah
Aku lelah menjadi wanita bodoh
Mau-maunya saja mengikuti permainan konyolnya
Dan aku lelah menjadi wanita bodoh
Yg selalu membaca buku yg sama
Berulang kali tak ada jenuhnya
Mengulang kesalahan yg sama
Kesalahan yg menyakitkan
Yg membawa diri ini menuju jurang kesedihan

Ajarkan aku bahagia
Karena aku lupa caranya tersenyum
Aku selalu larut dalam kekecewaanku
Aku selalu ada dalam kesedihanku
Hingga aku lupa, aku juga berhak bahagia

Ajarkan aku bahagia
Agar aku dapat melupakan yg membuat hati ini sakit
Agar aku dapat keluar dari jurang kesedihanku
Karena sesungguhnya aku sangat lelah dengan semua ini
Aku mohon, beri aku kebahagiaan
Sekejap pun tak apa, aku bersyukur
Karena yang terpenting aku pernah merasakannya
Walau hanya sekejap

-NR-

Ajarkan aku untuk ikhlas..

Ya Allah Ya Rabb..
Ajarkan aku untuk ikhlas
Ketika apa yg aku harapkan tak dapat aku raih
Ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan
Ketika harapan hanya menjadi kenangan

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Agar aku dapat memaknai semua ini dengan berbesar hati
Agar aku ingat, rencanamu lebih indah dr apapun
Agar aku dapat hidup dengan tenang

Kepada Sang Pemilik Hati..
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika cinta itu tidak berpihak padaku
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika cinta itu pergi
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Agar aku dapat melepaskannya pergi
Ajarkan aku untuk ikhlas,
Agar aku dapat bahagia melihatnya dengan yg lain

Ajarkan aku untuk ikhlas,
Ketika tak ada seorangpun yg mengerti perasaan ini
Ketika semua orang memikirkan egonya
Ketika aku harus menyembunyikannya sendiri
Ketika aku dikhianati
Dan ketika tak ada yg bisa aku ajak untuk berbagi

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Ketika aku tak temukan kebahagiaan ditengah keluargaku
Ketika aku tak bisa temukan ketenangan didalam rumahku
Ketika aku harus berlari dari kenyataan yg ada dirumahku

Ajarkan aku untuk ikhlas..
Agar aku tak merasa iri pada orang lain
Yg kehidupannya jauh lebih baik dariku
Agar aku dapat menerima semua ini dengan lapang
Agar aku tak benci pada-Mu
Agar aku dapat selalu bersyukur terhadap takdir ku
Takdir yg sudah Engkau gariskan padaku
Agar aku dapat selalu bersyukur atas apa yg telah Engkau beri padaku
Cinta sepihak, keluarga yang tak harmonis, teman yg egois, sahabat yang tak mau mengerti
Agar aku dapat melanjutkan hidupku
Ada atau tanpa dukungan siapapun
Agar aku dapat menjalani hidup ini dengan tenang
Dengan langkah yang akan membawaku pada kebahagiaan yg tiada tara

Ajarkan aku untuk ikhlas
Aku mohon..
Karena aku masih tak mudah untuk menerima semua ini
Aku hanya butuh keikhlasan
Agar aku bisa tenang
Aku tak inginkan yg lain dari-Mu
Aku hanya ingin Engkau ajarkan aku untuk ikhlas
Karena hanya dengan ikhlas aku dapat selalu bersyukur pada-Mu
Dan dengan selalu bersyukur aku bisa selalu bahagia


-NR-

Hal yang Tak Terduga (3)

Tak sedikit yang bilang aku ini wanita yang dingin, cuek dan tak sedikit juga yang bilang aku wanita jutek. Super duper jutek. Tak sedikit laki-laki yang mendekatiku menjauh karena tak sanggup menghadapi sifatku yang jutek yang sulit untuk aku hilangkan. Jika ditanya apakah aku sedih, tentunya tidak. Karena aku bersyukur aku telah ditunjukan oleh-Nya bagaimana sifat laki-laki yang tengah dekati aku. Jika diawal saja dia sudah menyerah bagaimana kedepannya? Sungguh aku beruntung tlah di selamatkan darinya.
Bukan tanpa alasan sebenarnya aku melakukan hal itu. Masalaluku tak baik. Aku cukup tersakiti dengan kehilangan dia. Aku cukup kecewa dengan sikapnya, hingga aku lupa caranya untuk bahagia dan membuka hati untuk orang lain. Aku terlalu takut untuk jatuh hati kembali. Aku belum siap untuk terluka dan dikecewakan kembali. Dan aku akui memang aku pecundang. Tapi aku tak peduli dengan penilaian buruk orang lain padaku, karena mereka tak tau apa yang sedang aku rasakan.
Intinya adalah trauma di masalaluku belum kunjung sembuh. Dan itulah alasan mengapa aku selalu bersikap dingin kepada orang yang mencoba untuk mendekatiku. Banyak yang bertanya apa alasan aku bersikap sedemikian rupa, dan aku tak pernah bisa untuk menjawabnya. Karena aku tak ingin menjelaskan hal yang tak bisa mereka mengerti. Dan mungkin ini waktu yang tepat untuk aku menjelaskannya. Karena selalu ada yang memprotesku dan memintaku untuk mengubah sikapku ini.
Tapi itu tak berlaku dengannya. Sejak perkenalan kami pada 10 Maret 2016 lalu, dan kedekatan kami yang terus berjalan. Semua itu membuatku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan kembali sejak enam tahun silam. Semua terjadi begitu cepat. Perkenalan. Kedekatan. Bahkan perasaan ini. Aku tak mengerti kapan perasaan ini tumbuh. Aku tak paham mengapa perasaan ini bisa tumbuh begitu cepat. Belum ada setahun aku mengenalnya, bahkan setengah tahun pun belum ada. Tapi entah mengapa ini semua bisa terjadi.
Awalnya aku merasa tak apa jika dia pergi. Awalnya aku biasa saja ketika dia pergi. Dan awalnya aku menganggap perasaan ini hanya sesaat. Ya AWALNYA. Tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Aku merasa kehilangan atas kepergian dia. Aku selalu ingin dekat dengannya. Menghubunginnya setiap waktu. Dan bertemu dengannya setiap hari. Tapi aku sadar hal itu tak mungkin bisa aku lakukan. Aku tak mungkin meminta orang untuk jangan pergi. Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Aku tak ingin di cap sebagai wanita bodoh lagi. Aku capek.
Banyak cara yang udah aku lakukan agar aku bisa mengikhlaskan dia, menerima sikap dia yang selalu melakukan sesuatu sesuka hati dia. Tapi aku ga bisa. Semakin aku mencoba untuk menghilangkan perasaan ini. Semakin dalam aku memikirkannya. Aku sudah coba mengalihkan pikiranku agar aku tak bisa mengingatnya lagi. Tapi aku ga bisa. Setiap malam, setiap aku ingin memejamkan mataku aku selalu teringat padanya. Teringat setiap pertemuan kita, dan cerita yang telah kita buat. Meski hanya tiga bulan, tapi semua itu tak mudah untuk aku lupakan.
Hanya dia yang berhasil membuatku merasakan jatuh hati kembali. Hanya dia yang mampu membuatku bahagia dalam sekejap dan menghempaskanku begitu saja hingga membuat luka yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan luka karena masaluku.
Rasanya aku tak ingin mengenalnya lagi. Aku tak ingin berkomunikasi dengannya. Aku ingin dia pergi jauh dari kehidupanku. Tapi aku tak bisa. Aku sempat berada diujung amarahku hingga aku memblokir semua kontak personnya dari telepon genggamku. Tapi akhirnya aku yang menyesal. Aku urungkan niatku dengan melakukan unblock dari telepon genggamku.
Aku juga pernah tak membalas chatnya. Aku abaikan. Bukan karena aku dendam padanya karena dia sering mengabaikan chat dariku, tapi karena aku ingin perlahan menjauh darinya dan mencoba melupakan apa yang tengah dia lakukan padaku. Sekali lagi usahaku SIA-SIA. Saat dia tak menghubungiku lagi aku berjanji untuk tidak menghubunginya pula dan membalas chat darinya saat dia memulai percakapan terlebih dulu. Semua itu hanya sebatas niatan yang omong kosong. Ya aku akui itu hanya sekedar omong kosong belaka. Nyatanya aku tak bisa melakukan semua niatanku. Mungkin belum bisa. Tapi sampai kapan aku bertingkah seperti anak muda yang selalu labil? Untuk masalah hati, aku akui memang aku selalu plin-plan, aku sulit untuk konsisten. Berbeda dengan kesaharianku yang tak sedikit orang bilang aku ini tegas, bahkan galak.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku ingin sekali kembali ke waktu dimana banyak yang bilang dia tak pantas untukku. Karena aku menyesal aku lebih mengikuti kata hatiku yang selalu yakin bahwa dia telah berubah dibanding mendengarkan kata mereka yang jauh lebih lama mengenal dia dari pada aku.
Andai aku bisa memutar ulang waktu. Aku tak ingin memberikan hatiku padanya. Aku tak ingin bersikap baik dan welcome padanya. Andai bisa diulang. Sungguh aku akan bahagia. Aku tidak akan merasakan sakit dan kecewa untuk kedua kalinya.
Dan andai dia tahu....


-NR-

Tuesday, August 9, 2016

Teruntuk yang pernah singgah...

Untukmu yang pernah singgah..
Terimakasih pernah menjadi bagian dalam hidupku
Meski hanya sekejap
Kehadiranmu mampu membuatku lupa akan pedihnya masa laluku
Meski pada akhirnya kau pun memberikan luka yang sama dengannya

Untukmu yang pernah singgah..
Terimakasih pernah mengisi hari-hariku dengan penuh warna
Kau mampu membuatku tertawa melupakan masalah yang ada
Hingga pada akhirnya kau juga membuat luka yang tak mampu untuk aku lupakan

Untukmu yang pernah singgah...
Kau hadir memang hanya sekejap
Meski begitu kau cukup banyak memberikanku pelajaran yang tak akan aku lupakan
Karenamu aku dapat menjadi wanita yang lebih sabar
Dapat menjadi wanita yang lebih dapat berpikir positif
Karenamu juga aku dapat menjadi wanita yang lebih kuat lagi

Untukmu yang pernah singgah...
Pergilah jika kau memang pergi
Aku tak akan melarangmu atau menghentikan langkahmu
Melangkahlah dan carilah jika memang ada yang lebih baik dariku
Karena itu hak mu
Aku pun sama, aku inginkan seseorang yang terbaik yang menjadi milikku kelak
Aku selalu berdoa pada-Nya agar dia memberikanku seseorang yang terbaik
Yang dapat membuatku melupakannya
Aku berdoa agar orang itu adalah kau
Namun Tuhan berkata lain

Untukmu yang pernah singgah...
Memang bukan salahmu
Hanya aku saja yang terlalu berharap lebih padamu
Pergilah...
Aku ikhlas jika memang kau ditakdirkan bukan untuk aku miliki
Melainkan hanya untuk singgah sementara
Pergilah...
Berkelanalah sesuka hatimu
Aku selalu berdoa untukmu agar kau dapat menemukan yang lebih baik dariku
Karena itu merupakan hal terindah yang ingin aku dengar dari ceritamu
Pergilah...
Aku sudah ikhlas melepaskanmu
Aku inginkan yang terbaik untuk hidupmu
Jangan khawatirkan aku disini karena aku tak apa
Aku akan baik-baik saja

Untukmu yang pernah singgah...
Pergilah...
Carilah apa yang kau inginkan
Jika kau sudah mendapatkannya pegang erat dia
Bawa dia menuju jalan yang indah
Jalan yang Dia ridhoi sebuah pernikahan
Yang sejatinya akan menyatukan kalian dengan ikatan yang halal
Aku bahagia jika kau bahagia
Tapi sebaliknya, aku akan sedih jika kau gagal menemukan yang lebih baik dariku

Untukmu yang pernah singgah...
Aku harap kau tak lagi mempermainkan hati wanita
Karena wanita bukanlah sebuah boneka yang bisa kau mainkan sesuka hatimu
Aku harap tak ada lagi yang bernasib sama sepertiku
Aku harap kau mampu berubah

Untukmu yang pernah singgah...
Ingatlah diumurmu saat ini tak pantas jika rasanya kau terus bermain
Pikirkanlah masa depanmu karena itu jauh lebih baik

Untukmu yang pernah singgah...
Sukses selalu
Semoga kau selalu diberi kebahagiaan
Semoga kau dapat menemukan yang kau cari
Terimakasih pernah singgah kedalam hidupku meski hanya sekejap
Aku menyayangimu seperti aku menyayangi kakakku sendiri
Dan merindukanmu akan menjadi rutinatasku setiap hari


-NR-


Sunday, August 7, 2016

Suratku masih untukmu (10)

Assalamu'alaikum..
Bagaimana weekend mu hey tuan manis? Aku harap kau bisa menikmati liburmu dengan bahagia. Aku menulis surat ini tak ada maksud untuk menganggu waktu liburmu. Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang apa yang aku rasakan saat ini. Aku harap kau tak akan marah dengan apa yang akan aku ceritakan.
Hey tuan manis,
Mungkin kau tahu benar bagaimana aku ini. Dingin, cuek, jutek, dan selalu masa bodo dengan hal yang tak penting untuk aku pikirkan. Mungkin kau juga tahu, aku ini wanita yang sulit sekali untuk jatuh cinta. Setelah hubunganku denganmu berakhir aku membutuhkan waktu enam tahun lebih untuk bisa bangkit dan melupakanmu. Sudah beribu cara yang aku tempuh agar bisa segera dapat melupakanmu. Dari menyibukkan diri, menjalin hubungan kembali dengan pria lain, hingga melanjutkan study keluar kota. Namun hasilnya selalu saja sama. NIHIL.
Hingga suatu hari aku merasa muak berada dikondisi ini. Aku merasa aku lemah saat hatiku sudah terluka. Aku mencoba tegar, aku mencoba kuat. Aku tak pernah memperlihatkan kesedihanku didepan orang lain, apalagi air mataku. Aku selalu menyembunyikannya dari orang-orang sekitarku. Kau tau? Rasanya aku seperti manusia bodoh yang sedang menunggu kereta dihalte bus. Aku sudah mengetahui kau tak akan kembali lagi, hubungan kita tak akan terulang kembali untuk kesekian kalinya. Tapi aku masih tetap saja setia menunggu dengan tenangnya, seolah-olah kereta itu akan berhenti tepat didepan dimana aku menunggumu.
Kau tau? Rasanya aku seperti orang gila. Terus-menerus memikirkan dan menangisi sesuatu yang belum tentu kamu juga melakukan hal yang sama. Bukan satu atau dua orang saja yang menganggap aku ini telah gila karena cinta. Semua teman dekatku, mereka memiliki pemikiran yang sama.
Kau tau? Aku hanya bisa diam saat orang lain mencaci dan mengolokku karena belum mampu bangkit dari masalaluku. Aku tak peduli dengan omongan orang lain. Aku tak pernah menggubris omongan mereka. Karena mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan saat itu.
Dan kau tau? Aku pun akhirnya menyerah dengan usahaku untuk bisa melupakanmu. Aku serahkan semuanya kepada Sang Pemiliki Hati. Aku berdoa semoga Dia memberikanku yang terbaik dan dapat menjadikanku wanita yang lebih kuat kembali. Hingga akhirnya waktu itu pun tiba. Waktu dimana aku telah mampu berhenti memikirkan dan tidak mengingatmu lagi. Semua itu karena tuan berkumis yang sempat aku ceritakan padamu dalam suratku yang sebelumnya.
Hey tuan manis,
Dia serupa denganmu. Mempunyai lesung pipi yang indah hingga rasanya tak jenuh aku memandangnya. Dia juga memiliki kumis tipis hingga aku menyebutnya tuan berkumis. Tingginya pun senada denganmu. Dan dia lah yang mampu membuatku berhenti memikirkanmu. Awalnya aku ragu. Aku berpikir mungkin dia sama saja dengan pria-pria yang pernah aku temui sebelumnya. Namun karena nasihat dari sahabatku tak ada salahnya untuk mencoba membuka hati kembali, kalau aku terus-terusan takut aku tak akan pernah bisa maju. Dan setelah aku pikir-pikir apa yang dia katakan memang ada benarnya. Aku pun mengikuti nasihatnya, dengan membaca bismillah aku coba beranikan diri untuk membuka hatiku.
Seiring berjalannya waktu aku mulai merasakan hal yang sudah lama sekali aku tak merasakannya. Tepatnya enam tahun yang lalu terakhir kali aku merasakannya. Entah apa memang ini yang disebut jatuh cinta atau bukan. Yang jelas aku merasa nyaman berada didekatnya. Asyik dan seru saat aku berbincang dengannya dan tidak membuatku cepat merasa bosan. Seperti yang kau tahu, aku wanita moody. Cepat merasa bosan dengan situasi. Dan lagi-lagi aku merasakan hal aneh. Aku merasa ini bukan aku yang sebenarnya cepat untuk membuka hati untuk orang lain. Seperti bukan aku. Entah ini memang hanya feeling ku atau memang benar adanya. Dia sama dengan laki-laki yang pernah dekat denganmu. Dan diapun sama dengan mantanku sebelumnya. Entah apa yang membedakan dia dengan yang lain aku tak tahu. Yang aku tahu hanya dengan dia aku bisa merasakan kembali rasa yang sudah lama tidak aku rasakan.
Hey tuan manis,
Apa menurutmu aku memang sudah jatuh cinta padanya? Apa menurutmu aku sudah berhasil melupakanmu? Sebab aku sendiri masih ragu untuk menyimpulkan semuanya. Karena bagiku ini terjadi begitu cepat. Aku takut salah untuk menyimpulkannya. Aku tak ingin terburu-buru untuk menyimpulkan semuanya. Aku ingin melihat bagaimana usaha dia. Aku ingin lihat apakah dia sungguh-sungguh atau hanya ingin bermain saja?
Aku selalu berdoa pada Allah, jika nanti aku bisa melupakanmu dan bisa kembali jatuh cinta aku ingin agar aku tak sampai mengharapkannya. Dan aku meminta untuk dijauhkan dari orang-orang yang hanya ingin membuatku sakit hati bukan menoreskan tinta kebahagiaan. Itu yang selalu aku panjatkan pada-Nya setiap kali aku sedang menjalin kedekatan dengan seorang pria. Termasuk dia, si tuan berkumis. Saat dekat dengannya aku berdoa pada-Nya jika memang dia yang Allah kirim untuk membuatku lupa denganmu maka dekatkan kami dengan cara terbaik-Mu, namun jika tidak maka jauhkan kami dengan cara yang tidak saling menyakiti. Mungkin terkesan seperti berlebihan. Namun doa tidak ada yang salah bukan? Aku hanya tidak ingin merasakan kecewa kembali dalam waktu dekat ini.
Dan ternyata Allah menjawab doaku. Seiring berjalannya waktu aku temui perubahan pada sikapnya. Dia sudah berbeda, tidak seperti saat awal kami berkenalan. Semakin acuh tak acuh padaku. Dengan perlahan dia menjauh dariku. Mungkin dia tidak menyadarinya. Tapi aku, aku sangat peka terhadap suatu perubahan, sekecil apapun perubahan itu aku merasakannya. Jika kau tanya apa aku sudah menanyakan padanya mengapa dia berubah? Jawabanku adalah tidak. Ya tidak. Aku tidak akan pernah bertanya padanya mengapa dia berubah menjadi seperti ini. Karena bagiku semua ini sudah cukup jelas untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku bahwa dia tidak serius padaku. Selain itu pula, aku menemukan beberapa bukti yang menunjukan dia sudah memiliki incaran yang lain.
Hey tuan manis,
Jika kau bertanya lantas bagaimana perasaanmu saat ini? Perasaanku tak baik. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi juga. Aku merasakan kecewa kembali setelah mampu bangkit darimu. Bangkit setelah kecewa, dan kecewa setelah bangkit. Mungkin kata-kata itu yang cocok dengan keadaanku saat ini. Jika kau bertanya apakah aku marah? Tentunya. Tapi aku bukan marah padanya, melainkan marah pada diriku sendiri. Karena dengan bodohnya aku mudah luluh dengan laki-laki yang baru saja aku kenal. Aku tak mampu membentengi perasaanku hingga kekecewaanlah yang sekarang aku dapatkan. Banyak yang aku sesali dari kejadian ini. Salah satunya adalah aku tidak mendengarkan perkataan orang lain. Bukan satu dua orang yang memberi tahuku bahwa dia tak pantas untuk mendapatkan perempuan baik seperti aku. Tapi aku sama sekali tidak mempedulikannya. Dan dengan percaya dirinya, aku menganggap bahwa dia sudah berubah tidak lagi sama seperti apa yang orang katakan. Namun nyatanya dugaanku salah. Pikiran positif yang tak mudah aku bangun untuknya dihancurkan begitu saja olehnya. Sakit memang. Sakit sekali. Hingga tak terasa air mataku menetes begitu saja karenanya. Bodoh? Ya memang aku akui memang aku wanita bodoh. Tapi aku bisa apa? Aku hanya wanita biasa. Aku tidak sekuat baja, apalagi jika sudah berkenaan dengan hati. Wanita mana yang tidak akan menangis kalau dia sudah mampu bangkit dari kekecewaan dimasalalunya dan sudah dapat menemukan yang baru tiba-tiba dihancurkan begitu saja? Dan wanita mana yang tidak akan menyesal membuka hatinya dan lebih mempercayai seseorang yang baru dia kenal daripada seseorang yang sudah dia kenal lama? Coba beritahu aku wanita mana yang tidak akan menangis bila mendapati situasi dan kondisi yang sama dengan yang aku rasakan saat ini.
Hey tuan manis,
Apa karena aku mempunyai hati yang tulus hingga aku mudah untuk tersakiti? Apa salah dengan hatiku? Entahlah, aku pun tak tahu. Aku hanya percaya jika ini memang jalan yang Allah kasih untukku agar aku dapat menjadi wanita yang lebih kuat lagi. Yang dapat belajar dari pengalaman, hingga nantinya aku dapat menjadi wanita yang bijak. Selalu ada kebahagiaan dibalik kesedihan dan kekecewaan bukan? Jadi aku tak usah mengkhawatirkan aku. Karena aku punya Allah dan keluarga serta sahabat-sahabatku yang selalu memberiku semangat.
Hey tuan manis,
Mungkin hanya itu saja yang ingin aku ceritakan. Aku pamit. Nanti aku akan mengirimkan surat kembali untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatanmu, karena saat ini aku tak pernah bisa  mengetahui kabarmu lagi tapi aku harap kau selalu baik-baik saja dan selalu berada dalam lindungan-Nya.
Wassalam.


-NR-

Friday, August 5, 2016

Suratku masih untukmu (9)

Assalamu'alaikum hey tuan manis,
Bagaimana kabarmu? Lama tak menulis surat untukmu. Dan lama tak mendengar kabar tentangmu. Ingin rasanya aku memulai percakapan terlebih dulu, namun aku tak bisa melakukannya. Maaf aku bukannya seperti anak kecil yang lebih memikirkan egonya dari pada hal lainnya. Namun ada alasan yang tak perlu untuk aku beri tahu padamu, aku harap kau dapat memahaminya. Semoga kau baik-baik saja disana. Oh ya bagaimana pekerjaanmu? Apakah kau masih bekerja ditempat yang sama? Aku berdoa semoga pekerjaanmu dapat lebih baik lagi dan selalu diberi kelancaran dalam mengais rezeki yang halal dijalan Allah. Amiin
Hey tuan manis,
Aku sangat rindu padamu. Aku ingin sekali bertemu dan bercerita banyak padamu, seperti yang biasa kita lakukan dulu saat liburan sekolah memaksa kita untuk jarang bertemu. Kau bercerita mengenai liburanmu, dan aku bercerita mengenai liburanku. Namun aku sadar, dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Waktu sudah berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah empat tahun sudah kita berpisah.
Aku rindu padamu. Aku ingin mengutarakannya padamu. Mengirim pesan singkat hanya untuk mengatakan aku rindu padamu. Tapi aku sadar, aku tak bisa melakukannya. Sudah terlalu banyak perubahan yang ada pada dirimu hingga aku sendiri merasa sudah tidak mengenalimu saat ini. Terlalu banyak ketakutan untuk memulai percakapan terlebih dulu, itu salah satu alasan mengapa aku tak ingin memulainya. Aku ingin kau yang memulainya. Aku ingin kau yang melakukannya. Dan aku menunggu kau hingga saat ini. Namun sayangnya kau masih tak mengerti juga. Kau masih belum sadar bahwa aku menunggu kabar darimu. Menunggu kau yang memulai percakapan terlebih dulu. Menunggu kau yang mengajakku untuk bertemu. Bukan hanya aku saja, tapi mereka juga. Ketiga sahabatmu pun sama halnya sepertiku. Lantas kapan kau akan menyadari itu semua hey tuan manis?
Andai saja kau tau kemarahan mereka saat ini. Mungkin kau akan menyesalinya dan meminta maaf padanya. Sejujurnya aku ingin memberi tahumu. Aku ingin menyudahi permasalahan diantara kau dan mereka. Ya, hanya kau dan mereka saja tanpa aku. Karena bagiku, kau tak memberi kabar selamanya pun aku tak apa. Meski memang ada rindu yang besar yang harus aku singkirkan, namun aku bisa mengatasinya. Tapi mereka? Permasalahan aku dan kau berbeda dengan permasalahan mereka dan kau. Perubahan yang ada pada dirimu saat ini yang membuat mereka marah dan kecewa padamu. Kau tak pernah memberi kabar terlebih dulu pada kami. Kau selalu ingin kami yang memulainya terlebih dulu. Bahkan saat idul fitri kemarin pun tak ada sepatah katapun yang kau keluarkan untuk kami. Kau mengetahui kontak kami tapi kau tak mengirimkan pesan apapun pada kami. Andai kau tau, kami ingin sekali mengirimkan permintaan maaf padamu namun kami urungkan niat kami itu. Karena darimu saja tak ada niata baik untuk memulai terlebih dulu. Dan kau tau apa yang membuat kami semakin kecewa dan marah padamu? Kau tau kami sudah pulang dan menikmati liburan bersama keluarga dan teman-teman disini, tapi kau sama sekali tidak mengajak kami untuk bertemu melepas rindu. Jangan berpikiran bahwa kami ini seperti anak kecil. Oh ayolah hey tuan manis... Berpikirlah sejenak. Pikirkan mengapa kami bisa kecewa dan semarah ini padamu. Kau sudah dewasa bukan? Pastinya kau akan memikirkan hal ini dengan bijak.
Hey tuan manis,
Aku tak bisa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada hubungan kalian. Sulit untukku memutuskan yang terbaik untuk kalian. Aku tak ingin jika aku membantu masalah kalian aku dianggap lemah dan selalu membelamu. Tapi aku juga tak ingin kalian terus menerus berdiam diri seperti ini. Sejujurnya aku pun malas untuk ikut campur kembali dengan masalah kalian. Kau ingat sudah berapa kali aku menasihatimu dengan kata-kata yang bukan sepatah dua kata aku keluarkan untukmu? Sudah berapa waktu yang aku keluarkan untuk memberi tahu kesalahan-kesalahan yang kau lakukan, kau ingat? Aku capek jika kau tau. Semua nasihat, kritik, dan saran yang sudah aku keluarkan untukmu tak kau terapkan untuk memperbaiki setiap kesalahanmu. Aku capek selalu kau abaikan begitu saja. Lantas jika keadaannya sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan sekarang? Beri tahu aku. Bantu aku. Aku sungguh bimbang.
Setiap hari aku berdoa semoga ada jalan terbaik untuk permasalahan ini. Aku tak pernah absen mendoakan kalian dan menyebut nama kalian dalam sholatku. Aku meminta jalan terbaik agar kita semua dapat berkumpul seperti dahulu kala tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Aku meminta agar kalian selalu diberi hati yang bersih agar tak ada dendam atau amarah sedikitpun. Dan aku meminta agar persahabatan yang sudah kita jalin selama kurang lebih delapan tahun ini akan terus berlanjut hingga kita menua nanti. Aku sangat rindu ketika kita dapat berkumpul bersama seperti dulu. Tak kenal waktu bahkan lupa akan waktu ketika tawa sudah mampu membuat kita nyaman dengan keadaannya.
Hey tuan manis,
Kapan kita dapat berkumpul seperti dulu? Kapan permasalahan ini akan berakhir? Kapan rasa gengsi yang ada pada diri kalian akan selesai? Beri tahu aku kapan waktu indah itu akan datang. Aku lelah dengan keadaan ini. Aku tau ini merupakan ujian didalam sebuah persahabatan. Aku sangat paham benar. Tapi jika tidak ada yang mengalah dan mau menyelesaikannya apakah perang dingin ini akan terus berlangsung hingga kita tua nanti? Tolong jawab aku apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan tolong jangan beri aku jawaban yang tak ingin aku dengar.
Aku harap dengan surat ini dapat membuatmu sadar dan mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara kau dan mereka. Aku percaya kamu sudah dewasa. Aku percaya mereka mempunyai hati dan jiwa yang besar.
Hey tuan manis,
Mungkin cukup sekian surat dariku. Hari ini tepat pukul 02.30 WIB dan aku belum tertidur sejak aku bangun kemarin pagi. Kau tau bukan mengenai insomniaku? Insomniaku tak kunjung sembuh, mungkin bahkan semakin parah dari sebelumnya. Tapi aku bersyukur aku dapat memanfaatkan insomniaku dengan menulis dan membuat cerita untuk novelku nanti. Doakan aku semoga aku dapat menyelesaikan novel pertamaku ini dengan baik.


Tertanda,
Masalalumu yang sudah dapat bangkit.

Wassalam.


-NR-

Thursday, July 28, 2016

Hal yang Tak Terduga (2)

Aku pernah gagal lalu bangkit kembali. Berkali-kali jatuh bangun karena orang yang sama. Aku pernah berjuang sendiri. Aku pernah bertahan lalu tak dianggap. Dan pada akhirnya apa yang aku lakukan sia-sia. Hanya sebuah pelajaran yang aku dapatkan. Dan saat ini, aku dikecewakan kembali dengan orang yang berbeda.
Dia yang telah mampu membuatku bisa membuka hati kembali. Dia yang berbeda dari semua laki-laki yang aku kenal. Dia yang mampu membuatku menjadi diri sendiri. Dan dia juga yang mampu membuatku merasakan kecewa kembali, merasakan kecewa dalam waktu dekat. 
Nyatanya pemikiran positif yang aku bangun untuk dia salah. Begitu juga kepercayaan yang aku bangun utuk dia. 
Saat orang lain berkata buruk tentangnya. Saat orang lain mencibirnya. Saat orang lain melarangku untuk dekat dengannya. Aku berusaha untuk tidak mendengarkan apa kata mereka. Karena menurutku penilaian belum tentu benar. Dan bisa saja mereka hanya melihatnya dari luar, tanpa mengetahui bagaimana dia sebenarnya. Atau mungkin bisa saja dia sudah berubah menjadi lebih baik. Dan aku tak ingin mengetahui masa lalunya, karena yang penting untukku adalah bagaimana dia saat ini.
Aku coba untuk mengenal dia lebih dekat. Mengetahui segala aktifitas dan kebiasan-kebiasaannya. Tingkah lakunya serta pemikirannya terhadap kehidupan. Sebulan, dua bulan, tiga bulan dan hingga saat ini sudah empat bulan lebih aku mengenalnya. Meski begitu aku sudah cukup untuk mengenalnya, dan mengetahui bagaimana karakternya. Aku memang tak butuh waktu lama untuk mengenal dan memahami karakter seseorang.
Dan sekarang, saat aku sudah bisa melupakannya. Meninggalkan cerita kelamku dengannya. Mulai memberanikan diri untuk bercerita kepada kedua orang tuaku tentang bagaimana perasaanku saat ini. Dan mulai memberanikan diri memperkenalkan sosok yang saat ini tengah dekat denganku. Saat itu juga dia hancurkan semuanya.
Sikap dia berubah. Sangat berubah. Entah apa aku yang salah atau memang dia sudah mulai bosan denganku atau memang ada yang lain. Aku tak ingin berburuk sangka terlebih dahulu sebelum mengetahui dari mulutnya langsung. Karena aku tak ingin memikirkan hal yang belum tentu benar adanya.
Sampai pada akhirnya rasa penasaranku ini sampai pada puncaknya. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya apakah dia ada yang lain, dan jawaban dia adalah 'tidak, aku tidak punya yang lain'. Namun entah mengapa jawaban itu tidak membuat hatiku puas dan percaya. Karena aku dekat dengan laki-laki bukan sekali dua kali. Dan bukan sekali dua kali pula aku mendengar cerita dari temanku mengenai sosok yang tengah dekat atau sedang menjalin hubungan dengannya. Jadi aku paham alasan perubahan sikap laki-laki. Bukannya aku berprasangka buruk tentangnya namun hanya saja semua bukti mengarah kearah yang aku takutkan.
Memang bukan urusanku jika dia tengah dekat dengan perempuan lain. Karena disini aku sadar, dia bukan milikku. Hanya saja aku yang bodoh telah membangun harapan ditengah hubungan yang belum pasti adanya. Dan sekarang aku sadar, dia dihadirkan Tuhan kedalam hidupku bukan untuk menetap melainkan hanya singgah untuk sementara.
Jika ditanya, 'sakit tidak merasakan kecewa kembali dalam waktu yang dekat?' Tentunya 'Ya', namun aku tak bisa berbuat banyak karena aku percaya ini takdir yang terbaik yang Tuhan beri untukku. Sekarang aku hanya bisa mengambil pelajaran dari semua ini bahwa tak ada yang lebih indah selain berharap pada-Nya. Karena hanya Dia yang mampu membolak-balikan hati manusia. Tak ada yang bisa mengetahui satu menit atau satu tahun kemudian, jika Dia berkehendak maka semuanya pasti akan terjadi. Termasuk mengalihkan perasaan seseorang. Berharap pada sesama hanya menimbulkan kekecewaan, dan sudah dua kali aku mengalaminya. Bodoh? Ya, aku sadar aku bodoh. Namun siapa yang bisa menahan agar harapan itu tak tumbuh? Jika aku boleh memilihpun, aku ingin mengulangnya dan bersikap dingin sama seperti biasa aku bersikap kepada lawan jenis. Hal yang tak terduga yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Namun aku percaya ini cara Tuhan untuk membuatku menjadi lebih kuat lagi. 
Terimakasih aku ucapkan untuk dia yang telah cukup memberiku pelajaran. Aku harap tidak ada perempuan diluar sana yang merasakan hal sama sepertiku. 
Aku hanya bisa berpesan lewat tulisan ini, jangan lagi menganggap bahwa wanita bisa kau dekati dan kau tinggalkan sesuka hati, karena perasaan wanita terlalu peka dan wanita terlalu rapuh untuk kau tinggalkan begitu saja. Wanita bukan boneka yang bisa kau mainkan begitu saja, dia punya perasaan yang lembut. Kau punya ibu bukan? Kau punya adik perempuan bukan? Bayangkan jika mereka tersakiti, apakah kau tak akan marah? Bersikaplah dewasa sesuai dengan umurmu yang sekarang. Kau juga pasti pernah bukan sakit hati? Pasti kau tau bagaimana rasanya.
Tenang aku tak akan marah. Karena rasa kecewa yang aku rasakan saat ini belum seberapa dibanding rasa kecewa yang sebelumnya pernah aku rasakan. Kau dan semua yang kau berikan padaku belum seberapa dibandingkan dia. Jadi kecewa yang aku alami karenamu tidak terlalu sakit. Karena harapan dan perasaanku tidak sebesar rasa sayangku untuk dia, orang yang tiga tahun pernah bersamaku.

-NR-

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...