Monday, October 24, 2016

Sepucuk surat kecil untukmu...

Hai selamat malam tuan. Bagaimana kabarmu saat ini? Mungkin aku tidak tau dan tidak akan pernah tau lagi akan keadaanmu. Namun aku selalu berdoa pada Tuhan semoga kau selalu diberi kesehatan dan selalu berada dalam lindungan-Nya.
Benar atau tidaknya kamu sudah memiliki kekasih, aku sudah tidak mau tau lagi. Dan aku tidak ingin peduli lagi. Bagiku semuanya tidak penting. Sebab semuanya tidak akan berpengaruh pada kehidupanku. Terlepas dari itu, jika benar nyatanya, aku berdoa agar kau dengannya selalu diberi kebahagiaan, dan kalian mampu menghadapi seberat apapun rintangan yang akan datang menerpa hubungan kalian hingga akhirnya kau dengannya dapat dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Aku bukan munafik. Tapi ini adalah doa yang benar-benar tulus dari hati.
Saat ini aku sadar. Aku hanyalah orang baru yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupanmu karena kau undang. Aku sadar aku tak pernah penting bagimu. Dan aku sadar aku tak berarti apa-apa dibandingkan dengan dia, seseorang yang sudah mengenalmu lebih lama dariku.
Maaf, kepergianku bukanlah hal yang aku lakukan dengan sengaja. Namun keadaan yang memaksaku untuk perlahan menjauh dan pergi meninggalkanmu. Saat ini, menjauh darimu adalah pilihan terbaik untukku. Pilihan yang aku ambil karena aku tak ingin terluka kembali. Kau boleh menilaiku seperti anak kecil yang marah karena permintaannya tak kau turuti. Kau boleh menilai tentang diriku apa saja sesuka yang kau mau. Tapi satu hal yang perlu kau tau, bukan tanpa alasan aku menjauh darimu.
Kau tau? Aku hanya membutuhkan waktu sekejap untuk menyayangimu. Tapi aku membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melupakanmu. Itulah mengapa aku ingin pergi meninggalkanmu.
Jika aku boleh jujur, aku tak ingin menjauh darimu. Aku ingin selalu ada disampingmu. Aku ingin selalu bersamamu. Namun aku tak ingin tetap berada didekatmu karena itu akan membuat perasaanku padamu semakin dalam, yang nantinya akan membuatku semakin sulit untuk keluar dari bayang-bayangmu. Aku tak ingin terpuruk kembali dalam waktu yang lama. Aku tak ingin terlambat kembali untuk menyadarinya. Sudah cukup pengalaman bodohku dimasalalu saja, jangan sampai untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang serupa. Sudah cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini.
Maaf aku memilih pergi tanpa pamit terlebih dahulu padamu. Maaf jika memang sikapku ini kekanak-kanakan. Aku hanya ingin bahagia. Kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan orang yang aku cintai.  Aku harap kau dapat memahaminya.
Ketahuilah, bagiku pun ini semua tak mudah. Aku harus kembali terbiasa hidup tanpa orang yang selalu menemani hari-hariku. Terlebih aku harus bangkit kembali setelah aku baru merasakan udara bebas. Kau mungkin tak akan pernah tau apa yang aku rasakan. Bagaimana traumaku. Dan bagaimana caranya hingga aku bisa seperti sekarang. Kau memahimanya saja sudah lebih dari cukup bagiku.
Berbahagialah....
Aku pamit. Terimakasih atas tujuh bulannya. Meski hanya sekejap namun kehadiranmu sudah mampu memberikan perubahan dalam hidupku. Aku pun banyak belajar darimu. Dan terimakasih atas kekecewaan yang telah kau beri. Darimulah aku belajar untuk tidak mudah percaya pada seseorang yang baru kukenal.
Semoga kau bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dari umurmu. Dan semoga kau lebih dapat bersikap sebagaimana mestinya, Jangan sibuk menebar pesona, karena itu hanya akan membuat dosamu semakin banyak. Kau tau? Satu tetes airmata yang keluar untukmu adalah satu percikan api neraka untukmu.
Aku akan selalu merindukanmu.


-NR-

Tuesday, October 11, 2016

Siapa kau?

Mencintaimu adalah sebuah anugerah
Meski pada akhirnya aku yang terluka dengan harapan yang sudah aku bangun
Mungkin salahku terlalu menggantungkan harapanku padamu
Hingga aku lupa ada Tuhan yang maha membolak balikan hati seseorang
Namun siapa kau sebenarnya?
Kehadiranmu merubah segalanya
Semua yang sudah ku pertahankan goyah begitu saja
Kau mampu membuatku membuka hatiku kembali dalam sekejap
Pertemuan yang singkat itu,
Mampu membuatku jatuh hati pada pandangan pertama
Awan hitam yang selalu menemaniku,
Mampu kau gantikan dengan pelangi nan indah
Tawa lepas yang pernah hilang dariku
Mampu kau hadirkan kembali
Aku bahagia sejak kau masuk dalam hidupku
Karenamu aku dapat tertawa lepas
Merasa seperti orang yang paling beruntung karena mempunyaimu
Namun karenamu juga aku dapat mengenal luka kembali
Luka yang kau bawa setelah kebahagiaan yang kau berikan
Siapa kau sebenarnya?
Mengapa kau hadir untuk membawa kebahagiaan sekaligus luka yang baru untukku?
Tak bisa kah kau mengerti bahwa aku baru sembuh dari luka lamaku
Tak bisa kah kau mengerti bahwa aku baru dapat merasakan cinta kembali setelah mengenalmu
Salahku memang, begitu mudah percaya denganmu yang baru ku kenal
Namun aku yakin didunia ini tak ada yang kebetulan
Semua sudah diatur, termasuk pertemuan kita
Pertemuan singkat yang berujung dengan luka
Terimakasih..
Hanya itu yang ingin aku ucapkan saat ini.


-NR-

Ku titipkanmu lewat sebait doa...

Aku menyayangimu
Biarlah perasaan ini menjadi urusanku
Bagaimana perasaanmu, biarlah itu menjadi urusanmu
Aku tak ingin tau karena aku tak membutuhkan itu
Biarlah cinta dalam diam ini hanya aku dan Tuhan yang tau
Aku lebih baik menyalurkan rasaku lewat sebait doa
Karena doa adalah hal yang paling mujarab ketika seseorang lebih memilih diam dalam cintanya
Begitupun ketika aku tengah merindukanmu
Aku selalu menyalurkannya lewat seuntaian doa
Meski aku tau, hal yang paling mujarab ketika rindu tengah melanda adalah sebuah pertemuan
Kepada sang pemilik hati aku serahkan semua perasaan ini pada-Nya
Jika memang cinta dalam diam adalah hal terbaik untuk menjagaku
Maka biarkanlah cinta ini tetap dalam tempatnya
Jangan biarkan aku menggantungkan harapanku padanya
Kepada seseorang yang belum tentu menjadi jodohku
Meski sejujurnya aku menyimpan sedikit harapanku padanya
Namun aku sadar berharap padanya hanya akan membuatku kecewa
Karena tempat menggantungkan harapan yang paling indah adalah pada-Mu
Kepada sang pemilik hati yang maha membolak-balikan hati manusia
Karena Engkau tak akan mengecewakan umat-Mu
Ku titipkanmu lewat sebait doa..
Agar kau selalu berada dalam lindungan-Nya
Agar segala urusanmu dipermudah oleh-Nya
Agar kau selalu diberi kesehatan oleh-Nya
Hingga akhirnya kau dapat dipertemukan dengan jodohmu
Seseorang yang akan mencintaimu melebihi rasaku padamu
Agar kau dapat segera bersanding dengannya
Seseorang yang telah Tuhan tetapkan untuk menjadi teman hidupmu
Menjalin bahtra rumah tangga menuju surga-Nya
Aku tak akan mungkin bisa untuk menjagamu
Karena itu bukan tugasku
Tugasku saat ini hanyalah mendoakanmu dari kejauhan
Karena itu caraku mencintaimu dalam diamku
Bagaimana nantinya perasaanku padamu, biarlah itu menjadi rahasia Tuhan
Aku percaya Dia akan memberikan yang terbaik untuk umat-Nya
Ku titipkanmu lewat sebait doa adalah cara sederhanaku untuk bahagia


-NR-

Saturday, September 24, 2016

Antara aku, dia dan masa kecilku..

Dulu aku berpikir bahwa aku hanya akan mendapatkan kasih sayang hanya dari kedua orang tuaku dan keluargaku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai paham mengenai teman, sahabat bahkan pacar. Bagaimana rasanya jatuh cinta, dijatuhkan oleh teman, bahkan disakiti atau di khianati dengan orang yang aku sayangi. Dari semua kejadian hidup yang aku alami aku temukan satu yang tak bisa aku temukan pada diri orang lain, pada teman mungkin pada kekasih. Dia bernama sahabat.
Awalnya aku merasa dia hanyalah teman kecilku. Teman yang aku kenal sejak aku duduk dibangku taman kanak-kanak. Teman sekaligus tetanggaku. Teman bermain baik di sekolah maupun di rumah. Ya.. awalnya aku hanya merasa dia hanya sebagai teman kecilku.
Namun seiring berjalannya waktu. Banyak kejadian yang aku dan dia lalui. Kini aku mulai menyadari bahwa dia yang disebut dengan sahabat, bukan lagi teman masa kecil.
Ini berawal dari perkenalanku empat belas tahun yang lalu dengannya di bangku taman kanak-kanak. Entah bagaimana kami bisa berkenalan, aku lupa. Yang aku ingat hanya namanya, Nadya Septiani dan dia adalah tetanggaku. Aku bukan penduduk asli disalah satu perumahan yang ada di kota Cirebon. Aku pendatang. Awalnya aku tak mengetahui bahwa rumah kami berdekatan. Baru pertama kali bertemu pun di taman kanak-kanak.
Banyak yang aku lalui bersamanya. Kami sering bermain bersama. Apapun yang bisa kami mainkan, kami mainkan. Saat kecil kami tidak takut dengan apapun. Mungkin bisa dibilang kami ini adalah perempuan tomboy.
Kami sering mencari ikan di solokan. Bermain pasir, bermain bola, bermain karet, bermain bentengan. Bahkan menanjak pohonpun kami pernah. Dan saat ini aku bersyukur masa kecilku sangat bahagia. Meskipun aku selalu mendengarkan penolakan dari kedua orang tuaku, tapi sekarang aku menyadari bahwa larangan-larangan itu adalah bukti kasih sayang mereka padaku. Jika dilihat dan dibandingkan dengan anak kecil jaman sekarang tentu jelas berbeda. Bukan karena jaman yang sudah mulai canggih, tapi juga karena kejahatan semakin merajalela sehingga mengharuskan anak-anak kecil perlu diawasi secara ekstra.
Mandi atau tidur bersama pun kami pernah. Tidak dirumahku dan tidak pula dirumahnya. Namun kami lebih sering tidur siang bersama. Itu semua bisa terjadi karena peraturan kedua orang tuaku. Saat kecil aku tidak boleh sedikitpun melewatkan tidur siangku. Batas main siangku adalah saat adzan dzuhur. Saat adzan dzuhur aku diharuskan untuk kembali ke rumah untuk makan siang, dan tidur siang. Aku diperbolehkan main kembali setelah adzan ashar. Tentunya dengan mandi terlebih dahulu. Itu pun aku hanya mendapat waktu bermain hingga pukul lima. Lebih tepatnya sebelum maghrib aku harus sudah berada dirumahku kembali. Jika aku terlalu asyik bermain hingga lupa waktu untuk pulang, mamah atau papahku sering menjemputku untuk pulang. Bahkan tak jarang pula aku tidak diperbolehkan main ketika hari sekolah. Dan itu sangat bertentangan dengan keinginanku. Maklum saja namanya juga anak kecil inginnya selalu bermain, bermain dan bermain. Peraturan kedua orang tuaku sangat sulit untuk aku langgar. Jika aku tak menurutinya aku akan mendapatkan amarah dari mereka, terutama mamahku. Mungkin bahkan aku akan mendapatkan sanksi, yaitu tak boleh keluar rumah selama beberapa hari. Dan ini semua berbeda dengan kedua orang tua nadya.
Namun aku dan nadya tak kehabisan cara untuk bisa tetap bermain. Aku sering mengajak nadya main kerumahku untuk makan siang dan untuk tidur siang bersamaku. Itu semua aku lakukan agar sore harinya aku diperbolehkan main dengan kedua orang tuaku. Tapi saat itu kami sedikit nakal. Bukannya tidur kami malah bercerita. Dan jika kedua orang tuaku memeriksa, kami berpura-pura untuk tidur. Tak jarang pula kami benar-benar tertidur. Saat adzan ashar kami terbangun. Dan itu merupakan hal yang paling kami nantikan. Kami selalu bahagia ketika kami mendengar adzan ashar, karena itu artinya kami dapat kembali bermain. Kami juga sering mandi bersama. Mungkin lebih tepatnya bermain air bersama.
Saat bulan suci Ramadhan pun kami sering melakukan kebohongan. Salah satunya adalah dengan berpura-pura berpuasa. Kedua orang tuaku sangat ketat dalam mengajarkanku agama. Mereka mengajarkan puasa sejak kecil. Aku memang diperbolehkan hanya puasa hingga adzan dzuhur, namun itu tak berlangsung lama. Selebihnya aku harus belajar puasa hingga adzan maghrib.
Kamipun sering berlibur bersama. Jika papahku libur dan itu bertepatan dengan weekend, beliau selalu mengajak aku berlibur. Dan aku selalu mengajak nadya, bahkan neneknya pun ikut berlibur bersama keluargaku.
Memiliki baju yang samapun kami pernah. Saat itu mamahku sengaja membelikan baju yang sama untukku dan nadya.
Ketika kami mulai duduk dibangku sekolah dasar, disitulah kami mulai mengenal perasaan kepada lawan jenis. Aku sempat menyukai laki-laki yang berada satu kelas denganku. Dan nadya menyukai laki-laki yang berada dikelasku. Keberuntungan berpihak pada nadya. Dia dengan temanku berhasil menjalin hubungan. Sedangkan aku hanya sebatas berteman. Bukan karena aku menolaknya tetapi karena aku tidak berani untuk mengutarakannya terlebih dulu. Selain itu pun aku tak tau bagaimana perasaannya.
Jika malam minggu kami diperbolehkan untuk main. Aku, nadya, dan kakak ku kami selalu bermain kasti bersama diteras rumahku. Ketika bermain kasti kakakku selalu tidak mau untuk menjadi timku. Dia lebih memilih nadya dibandingkan aku. Bukan dalam hal permainan saja, tetapi dalam hal yang lain pun kakak ku memilih nadya dibanding aku. Entahlah apa yang terlintas dipikirannya sehingga mengabaikan adik kandungnya.
Dan hal yang paling tidak bisa aku lupakan saat duduk dibangku sekolah dasar ini adalah saat aku, nadya dan temanku yang lain menyukai kaka kelas. Bisa dibilang mereka satu group, sama seperti kami. Kami dengannya sempat ingin berkencan saat malam minggu. Tapi karena kami sama-sama dilarang oleh kedua orang tua kami akhirnya kencan itu pun hanya sebatas rencana. Lucu bukan? Jika mengingat hal itu aku tak pernah bisa berhenti untuk tersenyum sendiri.
Satu lagi yang masih aku ingat saat duduk dibangku sekolah dasar, adalah ketika aku dan nadya sama-sama mengikuti kegiatan bela diri karate. Bisa dibilang itu merupakan hal yang paling mengesankan untukku.
Dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas kami selalu berada di satu sekolah yang sama. Aku benar-benar merasakan jatuh cinta ketika aku duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dan saat itu pula pertama kalinya aku berani untuk menjalin hubungan. Nadya memang bukan pertama yang aku ceritakan kabar bahagia ini. Tapi dia selalu menjadi orang pertama yang mendengar cerita galauku tentangnya. Ketika aku sedang mengalami masalah dengannya bahkan ketika aku telah mengakhiri hubunganku dengannya nadya lah orang yang pertama kali aku ceritakan.
Aku sempat sedih ketika aku dan dia mulai memasuki bangku sekolah menengah pertama karena itu membuat kami menjadi jauh. Dia mempunyai teman baru, dan akupun sama.  Mungkin aku belum mengerti benar mengapa itu bisa terjadi. Yang aku tau semua itu bisa terjadi karena kita sudah jarang bertemu dan bermain bersama lagi.
Saat itu aku benar-benar takut kehilangannya. Aku takut dia melupakanku. Namun hal itu wajar bukan? Itu pertanda bahwa aku memang menyayanginya sebagai sahabatku.


-Bersambung-

-NR-

Friday, September 23, 2016

Suratku masih untukmu (13)

Assalamu'alaikum hey tuan manis.
Sedang apa disana? Masih bekerja? Aku harap kau selalu berada dalam lindungan-Nya. Ku dengar disana sedang marak pembegalan? Benar? Jaga dirimu baik-baik, jangan terlalu sering pulang malam. Aku sungguh khawatir jika setiap hari kau selalu pulang larut malam. Selain itu tak baik untuk kesehatanmu. Dan satu lagi, jangan terlalu sering bergadang. Kau bisa saja melarangku dan selalu marah jika insom ku kambuh, tapi kau sendiri bagaimana? Kau dan aku sama-sama insom bukan? Aku memang tidak bisa menang untuk mengalahkanmu jika sedang berdebat, tapi untuk yang satu ini kau pasti hanya akan terdiam.
Hey tuan manis,
Aku selalu lama dalam mengambil keputusan. Aku tak ingin terburu-buru karena banyak yang harus aku pertimbangkan. Meski memang terkadang aku suka mengambil keputusan berdasarkan asumsi dan emosiku yang sesaat. Tapi setelah itu aku menyadari, menyesali dan mencoba untuk memperbaikinya. Sama halnya ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita begitu saja hanya karena emosiku yang sesaat dan pikiranku yang sedang kacau. Ah tidak tidak. Aku disini tidak ingin flashback ke masa lalu.
Mengenai tuan berkumis. Aku sudah memutuskan untuk melupakan dan perlahan menjauh darinya. Aku tak ingin terus menerus seperti ini. Aku lelah. Pikiranku sungguh tak tenang. Selalu terbayang-bayang olehnya. Selalu memikirkan dan menduga-duga sesuatu yang belum tentu terjadi dan sulit untuk aku cari tahu kebenarannya. Hatikupun sama. Ia tak tenang. Ia selalu menjerit, bahkan menangis. Jangankan saat aku tengah sendiri, saat aku berada ditengah keramaian dia tak kuasa untuk menahan agar tidak rapuh. Mata ini pun sama. Ia seperti meminta padaku untuk menghentikan semua ini. Ia seperti tidak ingin aku menghabiskan air mataku begitu saja dengan percuma. Aku lelah. Sungguh lelah. Dan saat ini aku berada pada titik puncakku.
Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku sudah memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi, membalas pesannya, bahkan menerima telpon darinya. Sama seperti yang aku lakukan terhadapmu, dan kau lakukan terhadapku. Kita sama-sama berpikiran bagaimana caranya agar bisa hidup terbiasa tanpa aku dan tanpa kau bukan? Itu yang sekarang menjadi dasar pemikiranku. Aku ingin kembali hidup seperti biasa, seperti saat aku belum mengenalnya. Saat dia belum masuk kedalam kehidupanku dan menganggu ku. Aku ingin terbiasa tanpanya. Karena aku tak ingin hatiku dibuat sakit semakin dalam.
Mungkin ini hanya sesaat atau mungkin akan selamanya. Entahlah aku masih belum bisa memastikan. Untuk melakukannya saja aku masih takut jika usaha ini akan gagal kembali. Tapi aku yakin jika memang niatku dan usahaku keras pasti akan berhasil. Karena kerja keras tidak akan pernah mengkhianati kita.
Aku tidak salah bukan mengambil keputusan itu? Apa aku salah? Jelaskan padaku jika memang keputusan yang aku ambil itu salah. Bukannya aku ingin memutuskan tali silaturahmi dengannya, tapi aku pikir ini memang keputusan terbaik untukku saat ini. Dan jika memang keputusanku ini salah, bisakah kau bantu aku untuk menemukan keputusan yang tepat?
Mungkin hanya itu yang ingin aku tulis dalam surat ini. Aku masih terus berharap kau akan membalas suratku.
Jaga dirimu baik-baik. Aku merindukanmu.

Wasssalam.

-NR-

Suratku masih untukmu (12)

Assalamu’alaikum hey tuan manis..
Aku ingin sedikit bercerita padamu. Ini tentang perasaanku. Ini tentang dia. Orang yang telah berhasil membuatku melupakanmu. Dan yang telah berhasil pula menjatuhkan aku begitu saja setelah membuatku terbang tinggi menari dengan harapan. 
Seperti yang sudah ku ceritakan pada surat sebelumnya. Banyak yang memberitahuku bahkan mengingatkanku untuk tidak terpengaruh oleh kata-kata manisnya. Hampir dari mereka memberikan penilaian buruk tentangnya. Dan kau tau aku sempat mempercayainya.
Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan. Sekarang aku berada di fase ketika kau meninggalkanku saat itu. Aku down. Semangat dan nyawaku seakan-akan menghilang begitu saja. Aku seperti ditusuk beribu kali dengan pedang yang berbeda. Semua ini sama seperti waktu kau meninggalkanku dan aku harus berjuang untuk bisa mengikhlaskanmu. Dan untuk kedua kalinya aku mengalami hal yang sama.
Aku merasa aku seperti wanita yang lemah. Yang tak bisa berbuat apapun ketika orang yang aku sayangi menyakitiku begitu saja. Ketika orang yang aku sayangi bersikap tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Ketika aku harus menerima semua perlakuannya dengan air mata yang tak bisa aku bendung. Aku merasa seperti wanita bodoh yang selalu bisa memaafkan dengan mudah dan menerima kembali ketika dia kembali menyakitimu. Aku merasa aku seperti wanita yang malang yang selalu berada pada kesalahan yang sama. Lantas aku harus apa ketika hatiku tak ingin pergi? Ketika hatiku memilih untuk bertahan untuk disakiti? Aku harus apa hey tuan manis? Apa semua ini karena aku mempunyai hati yang tulus? Apa aku tidak boleh untuk menyayangi seseorang dengan tulus?
Jujur, aku bimbang saat ini. Aku kehilangan sesuatu yang ada didalam diriku. Entah apa itu aku pun tak bisa menjelaskannya. Yang jelas saat ini aku seperti tersesat tak tahu kemana harus melangkah. Kuliahku, tugasku, pikiranku, semuanya sangat kacau. Aku tidak fokus melakukan sesuatu. Pikiranku selalu saja tertuju pada dia. Dia yang belum tentu memikirkanku. Bodoh? Ya aku tau aku ini bodoh. Seperti yang aku katakan sebelumnya. 
Aku sudah berusaha mengalihkan pikiranku. Aku sudah berusaha untuk tetap tersenyum bahkan mencoba menghibur orang lain. Tapi aku sendiri tak bisa menerapkannya disaat aku tengah sendiri. Bahkan senyuman dan tawa yang aku keluarkan, semua itu palsu. Karena aku tidak benar-benar merasa bahagia. Aku pun jarang berkomunikasi dengannya. Aku bahkan sering mengabaikannya. Aku melakukan itu karena aku ingin perlahan-lahan menjauh darinya, dan melupakannya. Aku pun sudah berusaha untuk menyibukkan diri tapi semua itu tidak berpengaruh apa-apa. Aku masih tetap saja memikirkannya. Bayangannya, selalu menghantuiku. Dan saat ini dia mulai menghubungiku kembali. Mengangguku dengan mulai menelponku kembali. Rasanya aku ingin tidak mengangkatnya. AKu ingin mengabaikannya. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Oh tidak bukan tidak bisa hanya saja belum bisa. Semua yang berhubungan dengannya masih aku ingat hingga detik ini. Aku tau mungkin memang belum waktunya saja aku bisa melupakannya.
Hey tuan manis, doakan aku agar aku tidak bersikap seperti ini lagi. Agar aku bisa menjadi wanita yang benar-benar kuat dan tangguh bukan hanya didepan orang saja tapi bisa untuk menguatkanku sendiri.
Mungkin hanya itu yang ingin aku ceritakan padamu. Maaf jika cerita ini membuatmu kesal. Aku hanya bimbang karena aku tak tau lagi harus bercerita pada siapa.
Aku harap kau dalam keadaan baik-baik saja. Semoga engkau selalu diberi kebahagiaan. 
Salam rindu dari seseorang yang pernah engkau perjuangkan.
Wassalam.

-NR-

Saturday, September 17, 2016

Suratku masih untukmu (11)

Assalamu’alaikum hey tuan manis. Bagaimana kabarmu? Harapan dan doaku masih sama untukmu. Semoga kau dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun dan semoga kau selalu berada dalam lindungan-Nya.
Kau tau? Saat kau memulai percakapan terlebih dulu, aku sangat bahagia. Karena itulah yang selama ini aku tunggu. Kau memulai terlebih dahulu. Maaf bukannya aku seperti anak kecil yang tak ingin memulai terlebih dahulu. Namun jika kau ingat, dulu selalu aku yang memulai percakapan terlebih dulu. Selalu aku yang menanyakan keadaanmu. Selalu aku yang memulai untuk berbasa-basi denganmu hanya untuk mengobati rasa rinduku. Kau ingat? Aku berdoa semoga ingatanmu baik. Dan karena itulah aku tak ingin lagi memulainya terlebih dulu.
Kau tau mengapa aku bahagia ketika kau yang memulai terlebih dulu? Itu karena kau sudah mengalahkan egomu. Kau yang sekarang sangat berbeda dengan kau yang dulu. Termasuk membuatmu memulainya terlebih dulu. Aku tau, aku ingat ketika kita masih menjalin asmara selalu kau yang memulai percakapan dan selalu aku yang menunggu kabar darimu. Dan aku ingat benar bagaimana saat kau marah ketika kau terus menerus yang memulainya, ketika kau beranggapan bahwa kau ini tidak penting untukku. Aku sangat ingat. Dan tak mungkin untuk aku ceritakan kembali disini.
Kau tau? Sekarang rasanya sangat sulit sekali untuk membuatmu yang memulai terlebih dulu. Seperti yang aku katakan, kau sangat berbeda dengan yang dulu. Entah apa yang membuatmu seperti ini. Aku tau, setiap orang pasti akan berubah. Begitu juga denganku. Aku tak bisa menyalahkan kau 100%. Tapi aku juga tak bisa menyimpulkan bahwa kau ini benar.
Kau tau hey tuan manis? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukan ketika kau, aku dan mereka bertemu. Ketika kita saling bersenda gurau bersama. Berbagi cerita, bahkan menjaili satu sama lain. Aku rindu tawa itu. Aku rindu cemoohan itu. Aku rindu suasana itu. Aku sangat merindukan itu. Aku ingin semuanya bisa kembali seperti dahulu kala. Saat ego belum menjauhkan kita. Saat semua masalah bisa kita selesaikan dengan segera.
Kau tau? Ketika aku merenung dan mencoba untuk mengingat kebersamaan kita, aku tak sanggup membendung air mataku. Aku tak sanggup hentikan ia agar ia tak keluar dari tempatnya. Semua itu begitu indah untuk aku kenang. Dan begitu menyakitkan ketika melihat realita yang sekarang sedang terjadi. Aku selalu bertanya, apakah kau sama denganku merindukan saat kita berkumpul bersama? Apakah kau merindukan kami? Pertanyaan yang tak bisa aku sampaikan padamu. Pertanyaan yang hanya aku yang tahu.
Aku selalu berdoa agar suatu hari nanti kita dapat berkumpul bersama kembali. Menyelesaikan masalah yang ada. Dan memulainya kembali dengan awal yang lebih baik lagi. Saat ini aku tak bisa berbuat apapun. Karena aku tak ingin memihak kau ataupun mereka. Aku ingin netral. Dan maaf bukannya aku tak mau membantu agar suasana bisa kembali seperti dulu, aku sudah lelah melakukannya. Mungkin kau tak ingat, saat kau tengah bersih tegang dengan dia. Aku selalu mengingatkanmu agar kau tak bersikap seperti itu. Aku selalu membantu agar masalahnya tak berkepanjangan. Kau memang mendengarkanku. Tapi itu tak berlangsung lama. Untuk kedua kalinya kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi dan lagi kau selalu seperti itu. Yang tak berubah darimu adalah kau tak pernah bisa belajar dari kesalahanmu dan selalu mengulanginya kembali. Ya aku tau memang bukan keinginanmu untuk mengulanginya kembali, kau tak perlu ingatkanku mengenai kata-katamu saat itu karena aku ingat. Tapi tak bisa kah kau berpikir sebelum bertindak? Tak bisa kah kau melawan egomu dan merubah pandanganmu yang mungkin menurut kita itu konyol. Aku tak perlu menjelaskannya lebih panjang padamu. Karena aku yakin kau pasti akan mengerti apa yang aku ucapkan.
Hey tuan manis, aku selalu menunggu waktu itu tiba. Aku harap ini tak berlangsung lama. Aku harap ini akan segera berakhir. Dan aku berdoa semoga tak ada lagi masalah dalam hubungan kita. Jika pun ada, aku berdoa semoga kita bisa menyelasaikannya dengan baik dan tidak berkepanjangan seperti ini.
Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang. Aku disini tak akan pernah berhenti mendoakanmu, karena biar bagaimanapun kau merupakan orang terpenting yang ada dalam hidupku.
Wassalam.


-NR-

Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...