Thursday, February 18, 2016

Suratku Masih Untukmu (5)

Assalamu'alaikum hey tuan manis, 
Bagaimana kabarmu saat ini? Maaf aku baru mengirim surat lagi untukmu. Belakangan ini aku terlalu sibuk dengan kuliah ku. Harapan aku tak akan pernah berhenti untuk selalu mendengar atau mungkin melihat kau baik-baik saja.
Hey tuan manis,
Sudah hampir dua pekan aku berada disini. Kembali ke kota kecil yg penuh dengan kenangan,yg dulu sempat terpikirkan untuk meninggalkan dan tak pernah kembali ke kota kecil ini. Namun nyatanya,meninggalkan kota ini sangat membuatku menyesal. Dan semua penyesalan itu karena kamu hey tuan manis. Aku menyesal dan aku bertanya mengapa semua ini terjadi? Dulu kamu yg pergi meninggalkan aku dan kota kecil ini,sekarang? Sekarang aku yg pergi meninggalkan kamu dan kota kecil ini, Dan setelah aku pergi, kamu datang kembali ke kota kecil ini. Aku sungguh menyesal karena akhirnya harapanku dulu sekarang menjadi kenyataan. Namun sekarang aku sadar, ini jalan terbaik yg Tuhan kasih untukku. Jalan yg akan membuat aku mencapai kesuksesan. Dan aku sekarang tersadar, Bahwa ini semua memang sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya berada di kota yg sama hanya sekitar sepuluh tahun. Sekarang akan lebih dari tujuh tahun kita tinggal di kota yg berbeda. Namun meski begitu percayalah, hati ini akan selalu merindukanmu. Entah sampai kapan, entah kapan waktunya ia akan berhenti merindukanmu.
Hey tuan manis, 
Kepulanganku ke kota kecil ini tak lain dan tak bukan karena aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu. Hanya engkau satu-satunya alasan mengapa aku pulang kembali ke kota kecil ini. Kamu pasti merasa terkejut mengapa kamu yg menjadi alasan aku kembali pulang ke kota kecil ini. Mengapa bukan kedua orang tuaku? Mengapa bukan saudaraku? Mengapa bukan rumahku? Pasti itu yang sekarang terlintas dipikiranmu. Hm baiklah aku akan menjawab semua pertanyaan yg sedang terlintas dipikiranmu. Kamu adalah alasan satu-satunya mengapa aku kembali ke kota ini, bukan kedua orang tuaku, bukan juga karena saudaraku ataupun karena rumahku. Karena berada didalam satu rumah bersama dengan keluargaku seperti aku berada didalam neraka. Aku tak pernah bisa mendapat ketenangan, kedamaian, dan ketentraman. Yang selalu aku dapatkan hanyalah rasa tak nyaman, rasa kesal dan panas. Aku tak pernah betah berada dirumah, karena itulah mengapa saat kita dulu masih menjalin hubungan aku selalu mengajakmu untuk bertemu. Keadaan rumahku sangat berbeda dengan keadaan rumah yang lain atau mungkin keadaan rumahmu. Ya aku tau, aku tau, kamu pasti akan berpikir bahwa setiap keluarga pasti selalu berbeda dan tak akan pernah sama. Ya memang benar. Tapi apa aku salah, aku berharap keluargaku bisa seperti keluargamu? Bisa seperti keluarga yg harmonis,bahagia,damai dan tentram? Apa aku salah berharap seperti itu? Dan karena itulah aku sering berpikir untuk pergi meninggalkan rumah ini, pergi jauh dari mereka yang selalu membuat aku terbatin berada didalamnya. Bukan karena kamu, bukan karena aku masih belum bisa melupakanmu, dan bukan karena aku ingin segera melupakanmu. Karena sekarang aku sadar, dimanapun aku berada yg namanya kenangan akan selalu terkenang dihati dan tersimpan didalam memori otak kita. 
Hey tuan manis,
Aku ingin mengirim pesan singkat untukmu hanya untuk memberi tahumu bahwa aku sangat merindukanmu. Namun aku tau,hal itu tak boleh aku lakukan. Entah bagaimana caranya agar kita bisa saling bertemu. Yg bisa membuat kita bertemu adalah mereka. Sahabatku dan sahabatmu. Ya,karena semenjak kisah kasih kita berakhir, kita memang tak punya alasan untuk saling bertemu. Kecuali mereka. Mereka sahabat kita, yg terbentuk karena hubungan kita pula. 
Hey tuan manis,
Andai kamu tau, aku mencoba melawan rasa gengsi ku hanya untuk mengajakmu bertemu. Dan kamu tau? Aku kecewa saat ajakanku engkau tolak. Apa aku salah jika aku kecewa? Tapi aku tak kehabisan cara untuk bisa bertemu denganmu. Hari esoknya aku mencoba mengajakmu bertemu kembali, dengan alasan yg sama, mereka. Tapi lagi-lagi aku kecewa karena kau tak bisa lagi untuk bertemu denganku, ah tidak-tidak, lebih tepatnya bertemu dengan mereka. Aku masih terus mencoba untuk bisa bertemu dengan kamu. Sampai pada suatu hari kamu mengiyakan tawaranku untuk berkumpul. Aku senang. Senang bukan main. Karena akhirnya aku dapat segera bertemu dengan kamu. Segera aku bersiap-siap dan pergi ketempat yang telah kita janjikan. Aku beberapa kali mengirimkan pesan singkat kepadamu, namun kau tak kunjung membalasnya. Saat itu aku masih terus menunggu kabar darimu. Lima menit, sepuluh menit sampai hampir setengah jam kau tak kunjung membalas pesan dari ku. Aku cemas, aku takut untuk kesekian kalinya kita tidak jadi untuk bertemu. Benar saja, ketakutanku pun menjadi kenyataan. KITA TIDAK JADI BERTEMU! 
Hey tuan manis, 
Mengapa kau masih belum bisa berubah? Mengapa kau masih belum bisa menghargai orang lain? Mengapa kau masih bersikap sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaan orang lain? Mengapa kau masih saja egois? Mengapa sikap kau selalu tak pernah sama dengan perkataanmu? Mengapa?! Mengapa?! Entah sudah berapa kali kamu mengecewakanku. Entah apakah ini menyakitkan atau tidak. Aku tak bisa merasakannya lagi, mungkin karena aku sudah mati rasa padamu. Namun satu yg aku tau, aku sangat kecewa padamu. Begitupun dengan dia, sahabatku yg juga sahabatmu. Dia sangat marah dan sangat kecewa.
Hey tuan manis,
Aku mengenal betul siapa sahabatku ini. Dia bukan tipe orang pembenci tapi jika dia sering dikecewakan dia akan menjadi malas dan muak. Apa kamu tau itu? Apa kamu tau kedepannya akan seperti apa? Dia tidak akan pernah mau untuk bertemu kembali denganmu. Bagi dia, bertemu kembali dengan orang yg selalu membuatnya kecewa adalah suatu hal yg bodoh yg pernah ia lakukan. Dan kamu tau akan berakibat terhadap siapa? Kepada kita! Kepada aku, kamu, dan mereka. Apa kamu pernah terfikirkan seperti itu?
Hey tuan manis,
Aku lebih baik kamu menyakitiku, membuatku kecewa beribu kali dari pada kamu membuat mereka kecewa. Aku rela dan aku ikhlas. Aku tak akan marah, karena sampai kapanpun aku akan selalu mengerti kamu. Bagaimanapun kondisi dan keadaan kamu. 
Hey tuan manis,
Apa kamu bertanya apa aku marah karena kau tak jadi datang hari itu? Jawabannya adalah tidak. Aku tidak marah, hanya saja aku kecewa padamu. Bisakah kau membalas pesan dariku? Setidaknya kau harus memberi kabar jika kau tidak bisa datang, bukan malah menghilang entah kemana. Kau tau? Kau itu seperti anak kecil yg tidak mengerti apa itu tanggung jawab, apa itu janji, apa itu hal utama, apa itu mengabari. Ya. Bagiku kau hanya sesosok laki-laki yg fisiknya dewasa namun tidak pada pemikiranmu. Entahlah aku sama sekali tak mengerti sama jalan pikiranmu. Kau terlalu sulit untuk dimengerti hey anak kecil. 
Hey tuan manis, 
Aku tau, aku paham pasti kamu punya alasan mengapa kamu melakukan ini. Ya aku tau. Tapi tak bisa kah kamu tak mengiyakannya sejak awal kalau pada akhirnya kamu lebih memilih hal lain yg baru datang dari pada hal lain yg sudah kamu janjikan? Tapi bisakah kamu membalas pesanku untuk mengabariku sesibuk apapun kamu? Dan tak bisakah kamu menjelaskan semuanya secara jelas hingga tak membuat aku dan dia berfikiran negatif tentangmu? Tak bisakah kau melakukan itu hey tuan manis? Bukankah selama ini kau merasa kau sudah dewasa? Namun mengapa, mengapa dimataku kau masih sama seperti tuan manisku lima tahun yg lalu? Saat kau masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Hey tuan manis, Aku tak ingin ada kebencian diantara mereka. Aku tak ingin kamu selalu mengulang kesalahan yg sama. Aku ingin kamu berubah. Aku tak ingin kamu selalu seperti ini. Jangan semakin banyak membuat orang lain tersakiti dan kecewa karenamu. Aku mohon jangan! Tolonglah berubah demi aku, ah tidak! Demi kamu, demi kebaikan kamu.
Hey tuan manis,
Mungkin cukup sekian surat dariku. Semoga kamu dapat merubah semuanya. Aku menunggumu berubah menjadi sosok dewasa yg akan semakin membuatku terkagum padamu. Jaga baik-baik dirimu. Semoga semua urusanmu lancar. Aku pergi. Aku akan kembali ke tempat perantauanku. 


 -NR-

Tuesday, December 22, 2015

Suratku masih Untukmu (4)

Assalamu'alaikum hei tuan manis,

Aku masih berharap sama seperti kemarin, kau masih baik-baik saja. Karena aku selalu ingin melihatmu baik-baik saja.
Hei tuan manis,
Di kota yang sekarang sedang aku diami sedang dilanda hujan angin. Dan aku sendirian didalam kamar. Apa kamu masih ingat, aku sangat takut sekali jika hujan besar ditambah angin dan petir? Aku harap kau masih mengingatnya. Meski harapan itu sangat kecil. Karena aku disini masih mengingat semua itu dengan baik.
Aku masih ingat ketika hujan besar disertai angin dan petir turun, aku bilang padamu bahwa aku sangat takut sekali dengan hal itu. Jika sudah hujan besar seperti itu aku tak berani untuk keluar kamar. Namun kau selalu menenangkanku, dan meyakinkan ku bahwa aku tak perlu takut, karena hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita menakutinya. Saat itu aku mencoba untuk memulai tidak takut jika hujan besar turun kembali. Meski ketakutan itu masih ada, namun aku coba untuk melawannya. Karena seperti katamu, "hujan adalah berkah tak sepatutnya untuk kita menakutinya." Aku selalu mengingat itu dengan baik saat hujan besar disertai petir dan angin turun. Aku selalu memintamu untuk menemaniku saat hujan besar turun, namun kau selalu berkata "carilah teman untuk berbincang, jangan selalu menyendiri karena saat kau menyendiri ketakutan itu akan terus ada." Dan aku selalu mencoba apa yang kau katakan untuk menghilangkan rasa takut ini. Aku berhasil! Ya, aku berhasil melakukannya dengan baik!
Saat hujan tiba, entah itu dirumah atau pun disekolah atau diluar aku selalu mengajak orang lain berbincang agar aku tak merasa ketakutan. Aku selalu melakukan itu disaat musim hujan tiba.
Apakah kau ingat, kita pernah hujan-hujanan berdua?Saat itu kau tak ingin berhenti untuk berteduh, karena kau ingin menerjang hujan ini denganku.
Dan apakah kau masih ingat, ketika kita terjebak hujan besar? Kau terlihat sangat gembira karena dengan begitu semakin lama kau berpisah denganku.
Dulu mungkin terlihat manis, namun sekarang terlihat lucu. Karena itu sama seperti ftv yang sering aku lihat. Mungkin masih ada didunia nyata, namun tidak lagi bagiku dan kau.
Hei tuan manis,
Kau tau tidak? Musim hujan selalu datang tiap tahun. Dia tak pernah berubah. Hujan akan turun bila tiba waktunya. Dia masih sama, tak ada yang berbeda. Kadang turun dengan derasnya, dan kadang turun dengan pelannya. Terkadang juga setelah dia turun selalu ada pelangi nan indah. Ya semuanya masih sama tak ada yang berbeda. Yang berbeda hanyalah hubungan kita. Setiap hujan turun, entah mengapa aku selalu merasa ada perbedaan dari waktu ke waktu. Saat aku masih bersamamu, saat aku berpisah denganmu, dan saat aku jauh darimu, semua itu aku rasakan dengan jelas setiap hujan turun. Mungkin kau akan tertawa ketika membaca ini. Namun itu yang selalu aku rasakan setiap hujan turun.
Saat ini, aku benci dengan hujan. Karena hujan selalu mengingatku padamu. Karena hujan aku merasakan perbedaan yang sangat jelas antara aku dan kau. Lucu memang membenci hujan karena mengingatkan kita pada seseorang. Namun itu yang aku rasakan sekarang. Aku sangat tak suka hujan meski aku tau hujan adalah berkah.
Hei tuan manis,
Ketika hujan turun, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengenangmu. Mengenang semua tentang kita. Karena menurutku, hal yang paling terindah saat hujan adalah mengenangmu dan kenangan semua tentang kita. Itu yang dapat aku lakukan agar aku tak semakin membenci hujan.
Dan saat hujan turun, selalu ada air mata yang mengikutinya. Cengeng bukan? Ya memang. Tapi aku tak bisa mengendalikan itu semua. Kau tau aku bukan? Aku bukan wanita yang dapat mengendalikan perasaan dengan mudahnya.
Apa kau ingin bertanya mengapa aku tak melakukan hal yang lebih berharga dari pada meratapi masa lalu? Jawabanku adalah tidak ada. Karena buatku saat ini, mengenangmu dan semua tentang kita adalah obat untuk melawan rasa takutku akan hujan. Kamu tak bisa lagi menjadi alasan aku untuk berani saat hujan turun. Karena kau dan aku sudah tak lagi seperti dahulu. Dan aku bukan meratapi masa lalu namun aku hanya mengenangmu dan semua tentang kita. Mengenang semua yang indah bukan yang menyakitkan.
Apa kau masih menganggapku wanita bodoh yang selalu melakukan hal yang tak ada gunanya? Jika memang masih, aku akan sangat senang. Karena dengan begitu kau akan selalu memikirkanku dan mengingat hal-hal yang tak lazim untuk manusia melakukannya. Bodoh? Mungkin ya. Aku ini memang bodoh. Aku senang jika aku terlihat bodoh dimatamu, dengan begitu aku tak perlu menunjukan sesuatu yang ada pada diriku yang tak pernah kau ketahui. Meski aku tak suka jika aku terlihat bodoh didepanmu untuk hal-hal tertentu.
Hei tuan manis,
Rasanya ingin sekali aku memintamu untuk menemaniku saat ini. Untuk membantu membuatku melawan ketakutan karena hujan besar dan sendirian dikamar. Seperti yang pernah aku lakukan lima tahun silam. Saat kau masih menjadi milikku. Aku ingin sekali melakukan itu. Dan sempat aku urungkan karena aku tau itu tak akan mungkin terjadi. Jadi aku memutuskan untuk tidak melakukannya agar aku tidak merasa kecewa kembali.
Hei tuan manis,
Aku sangat rindu akan masa-masa itu. Namun aku tak boleh terlarut dalam kenangan bukan? Aku harus sepertimu bukan, yang dengan mudahnya melupakanku dan semua kenangan tentang kita? Aku akan sepertimu, aku janji. Beri aku sedikit waktu untuk bisa sepertimu. Karena untukku itu semua tak mudah.
Jaga kesehatanmu. Jangan sampai kau sakit karena kehujanan. Dan jangan sampai kau kedinginan. Jaga terus suhu badanmu agar kau tak merasa kedinginan. Doaku akan selalu menyertaimu dalam diam.
Aku merindukanmu hei tuan manis...




-NR-

Tuesday, November 17, 2015

Suratku Masih Untukmu (3)

Assalamu'alaikum hei tuan yang masih menjadi tujuan ku menulis surat kecil ini. aku harap kau tak akan pernah bosan membaca surat dariku ini. karena aku tak akan pernah berhenti menulis surat untukmu, sekali pun aku sudah berhasil menghilangkan perasaan ini. karena buatku kau adalah sahabat dalam dunia khayalku. aku merasa selalu dekat denganmu saat aku sedang menulis surat ini untukmu.
hei tuan manis,
aku merindukanmu. mungkin itu kata yang untuk kesekian kalinya aku keluarkan untukmu. dan entah sampai kapan aku akan mengucapkan kata itu, atau mungkin aku tak akan bisa berhenti mengucap kata itu untukmu.
hei tuan manis,
aku sering memimpikan mu dalam bunga tidurku. entah sudah berapa kali aku memimpikanmu, aku tak ingat. mungkin karena memang terlalu sering hingga aku tak pernah tau sudah berapa kali aku memimpikanmu.
hari itu aku bermimpi, aku berkunjung kerumahmu untuk menemuimu karena aku khawatir kau menghilang tanpa kabar seperti sedang menghindariku. aku tak tau didalam mimpi itu aku ini siapamu, karena setiap aku bermimpi tentangmu semua selalu samar, yang aku ingat hanyalah wajah manismu. ketika aku berkunjung kerumahmu, yang menyambut aku adalah ibumu. ibumu bilang kau sedang membersihkan balong dibelakang rumahmu dan aku disuruh menunggu oleh ibumu dengan ditemani ibu dan adikmu. kami berbincang dengan akrabnya seolah sudah lama kami saling mengenal. didalam mimpi itu, ibumu sangat baik dan sangat merespon kedatanganku, ekspresi ibumu terlihat sangat bahagia menyambut kedatanganku. saat itu ayahmu sedang bekerja dan sampai pulang pun aku tak sempat berjumpa dengan ayahmu. aku dan ibumu serta adikmu berbincang cukup lama, dari adikmu pulang sekolah hingga ia harus berangkat lagi untuk mengaji di masjid. namun aku merasa aneh, ketika adikmu ingin berangkat mengaji ke masjid, adikmu dikawal oleh banyak body guard. aku bertanya kepada ibumu dan jawaban ibumu simple, adikmu dikawal karena takut terjadi apa-apa. namun aku tak percaya begitu saja. setelah aku berhasil mendesak ibumu akhirnya beliau menceritakan semuanya kepadaku. keluargamu sedang mendapat teror dan nyawa keluargamu semuanya dalam bahaya, termasuk adikmu. dan karena dari itu, ayahmu tak berani pulang untuk menyelamatkan diri. itu yang ibumu ceritakan padaku. tak terasa waktu sudah senja namun kau tak juga menunjukan dirimu. dan aku memutuskan untuk segera pulang sebelum hari semakin larut. saat aku ingin pulang ibumu memanggilmu dan meminta kamu untuk mengantarkanku, namun aku menolaknya karena aku bisa jaga diriku sendiri. tapi ibumu tetep bersih keras untuk memintamu mengantarku pulang. dan dengan ekspresi yang sangat terpaksa kau akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh ibumu.  saat itu aku melihat wajahmu sangat tak enak untuk dipandang. aku semakin bertanya-tanya, salah apa aku ini hingga kau menghukumku dengan cara seperti ini? aku tak tau dan mungkin aku tak menyadari akan kesalahanku, karena kau begitu saja bersikap dingin seperti ini. disepanjang jalan tak ada kata yang kita keluarkan, kita saling berdiam diri seolah-olah tak ada orang lain hanya ada kita seorang diri. aku merasa sangat tidak nyaman dalam keadaan ini, akhirnya aku mencoba untuk membuka suaraku mengawali perbincangan kita. aku meminta untuk kau mengantarku sampai sini saja dengan alasan aku tak apa jika aku pulang sendiri. namun kau menolak dan tetap ingin mengantarku hingga kedepan rumahku. katamu, kau tak ingin melihat seorang gadis pulang sendiri dimalam hari seperti ini. dari kata-katamu kau seperti orang yang sedang khawatir, namun dari ekspresimu yang sangat datar dan dingin tak ada yang menunjukan bahwa kau sedang mengkhawatirkanku.
saat kau berkata seperti itu aku tak bisa berbuat banyak selain mengalah. karena aku sangat hafal dengan sikapmu yang sangat keras kepala, dan sulit untuk merubah ucapanmu. akhirnya aku membiarkanmu untuk mengantarkanku pulang sampai kerumah. aku mencoba lagi untuk membuka pembicaraan dengan menanyakan sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam keluargamu. namun kau hanya menjawab dengan ekspresi yang sangat datar "tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja." mendengar jawabanmu itu aku berusaha untuk mempercayai ucapanmu. dan juga aku menyadari bahwa aku tak ada hak untuk mencampuri urusan atau mengetahui masalah yang sedang terjadi pada keluargamu. tak terasa kita sudah sampai didepan rumahku. aku mengajakmu untuk bertamu sejenak dan bertemu dengan kedua orang tuaku, namun kau menolaknya dengan alasan khawatir pada ibumu. akhirnya aku hanya dapat mengucapkan terima kasih tanpa bisa membalas kebaikan darimu. dan saat itu aku terbangun dari mimpiku.
suatu hari aku juga bermimpi, kalau kita sedang berada disuatu tempat yang sama tanpa kita berdua rencanakan. saat itu aku bersama dengan temanku. dan kamu bersama dengan temanmu. didalam mimpi itu kita tak saling bertegur sapa. namun kau selalu memperhatikanku dari jauh.
aku juga pernah bermimpi, kau sedang menjalin hubungan dengan teman sekolah dasarmu. mengetahui hal itu hatiku terasa sangat sakit hingga aku tak menyadari air mata ini keluar dari tempatnya.
aku tau mimpi hanyalah bunga tidur. namun entah mengapa aku selalu berharap jika aku memimpikanmu dengan indah, aku tak ingin bangun dari mimpi indahku. karena jika aku terbangun dan melihat kenyataan yang ada saat ini, maka aku akan kecewa. buatku, lebih baik aku bermimpi selamanya dari pada harus terbangun dan melihat kenyataan yang menyakitkan. dan sampai saat ini aku tak mengetahui apa arti dari semua mimpiku tentangmu. karena aku bukan peramal mimpi yang dapat meramal sebuah mimpi.
hei tuan manis,
mungkin karena aku sangat merindukanmu itu sebabnya mengapa aku selalu memimpikanmu. dan itu sebabnya pula aku lupa akan mimpi itu, yang aku ingat hanya beberapa mimpi yang baru aku mimpikan baru-baru ini. jika nanti kau hadir kembali kedalam bunga tidurku, aku berharap semoga hanya ada kita berdua saja tanpa ada orang lain yang ikut kedalam bunga tidurku. dan aku tak ingin bangun lagi dari mimpi indah itu.

wassalam,



-NR-

Tuesday, November 10, 2015

Suratku masih untukmu (2)

Assalamu'alaikum wahai tuan manis,
bagaimana dengan kabarmu? aku selalu berdoa semoga engkau selalu diberi kesehatan dan selalu berada dalam lindungan-Nya. Aku disini masih sama seperti kemarin.
hei tuan manis,
ada yang membuatku bingung. disini aku sedang dekat dengan seorang lelaki yang sudah memiliki pacar. aku memang tak berharap untuk bisa berpacaran dengannya, karena terpikirkan untuk pacaran saja tak ada dalam pikiranku. hanya saja, aku takut karena kedekatan ini menumbuhkan perasaan yang tak biasa dihati ini. karena jujur, sampai sejauh ini aku sudah mulai merasakan nyaman berada didekatnya. dia sering kali mengajak ku untuk jalan. dan aku tak pernah menolak itu. kau jangan salah paham. aku tak pernah menolak karena aku hanya menganggap bahwa ajakan ini adalah ajakan dari seorang teman. selain itu, tidak ada hal yang aku kerjakan hingga aku selalu menerima ajakan dia.
hei tuan manis,
kau mau tau makhluk seperti apa dia? hmmm... bisa dibilang dia lelaki tinggi  manis berkulit putih. dia juga dewasa, baik, perhatian, dan menyebalkan. ada saja tingkah dia yang membuat ku kesal bahagia. dia selalu menjailiku dengan sejuta tingkahnya yang terkadang suka menganehkan. terkadang dia juga suka mengolokku dan membully ku. menurut dia, ada kesenangan tersendiri saat dia berhasil membuatku bete dengan olokan dan bullyannya. dan aku, aku cuma bisa berdiam diri, karena saat aku membalasnya ada saja akalnya untuk membalasku.
hei tuan manis,
pertama kali aku bertemu dengan dia adalah saat aku dan dia ditempatkan didalam satu kelas yang sama. yaa.. aku dan dia satu kelas dalam salah satu mata kuliah. saat aku pertama kali bertemu dengannya, aku dan dia duduk bersebalahan dan mulai dari situ aku terkagum padanya.
hei tuan manis,
aku tak pernah berpikir untuk bisa dekat dengannya, apa lagi sampai jalan berdua dengannya. kedekatan aku dengan dia berawal dari sikap dia yang mulai berbeda padaku. entah ada angin apa yang membuat dia terus menerus membalas pesan singkatku melalui blackberry messanger. dari situlah awal kedekatan kami. kami saling berbagi cerita satu sama lain. benar-benar tak ada rasa bosan berbincang dengannya melalui pesan singkat bbm ini. ada saja hal yang kami bicarakan. hingga akhirnya aku mengetahui bahwa dia sudah mempunyai kekasih di jakarta. ya... mereka sedang melakukan long distance relationship. saat mengetahui itu, entah mengapa aku sempat kecewa dan perlahan mulai menjauh darinya. namun, seolah dia tidak ingin aku tinggalkan. karena dia selalu berusaha menghubungiku bagaimanapun caranya. sikap yang membuatku bingung dan serba salah bukan? kejadian ini sama seperti aku ingin menjauhimu. kau selalu datang lagi, seperti tak ingin menjauh dariku. namun, maaf jika apa yang aku rasakan ini salah. aku hanya menilai menurut pandanganku saja,menurut naluri seorang wanita.
hei tuan manis,
kamu tau apa yang membuatku lebih kagum padanya? dia pernah mewakilkan Indonesia mengikuti lomba di Brazil. menakjubkan bukan? dan yang lebih menakjubkan lagi, dia berhasil menduduki juara sepuluh besar, meski ia hanya diperingkat ke tujuh dari dua puluh lima peserta. namun meski begitu, bagiku itu semua sudah lebih dari menakjubkan.
hei tuan manis,
aku selalu mencoba untuk tidak membawa perasaanku ketika aku sedang bersama dia, atau aku sedang berhubungan dengan dia. tapi aku tak bisa melakukan semua itu. aku selalu gagal saat aku mencoba memalingkan perasaanku untuk tidak terbawa perasaan. bagaimana tidak terbawa perasaan, dia selalu memberikan perhatian yang lebih untukku. terlebih jika aku jatuh sakit. disitulah aku benar-benar merasakan perhatian yang ia berikan untukku.
saat aku jalan dengannya pun aku terbawa perasaan. pada saat itu dia benar-benar menjagaku, seolah-olah aku ini kekasihnya. tapi entahlah ini hanya perasaanku saja atau memang benar ada yang aneh darinya.
hei tuan manis,
sampai saat ini aku masih dekat dengannya. dan sekarang aku mulai merasakan perasaan yang tidak biasa aku rasakan. perasaan yang lima tahun sempat aku rasakan bersamamu. dan terakhir kali aku merasakan ini lima tahun silam saat aku jatuh hati padamu. aku sendiri tidak mengerti apa ini perasaan sama seperti lima tahun silam atau tidak? apa aku ini benar-benar jatuh hati pada lelaki yang sudah mempunyai kekasih? entahlah aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.
aku harus bagaimana menurutmu? aku perlahan menjauh dan pergi meninggalkannya atau aku tetap bertahan dengan keadaan ini hingga aku benar-benar menyadari bahwa aku jatuh hati padanya? ini semua membingungkan untukku.
apa menurutmu perasaanku ini salah? apa menurutmu sikapku ini salah? aku sudah mengetahui dia sudah mempunyai kekasih namun aku tetap saja dekat dengannya? namun sungguh, tak ada niatan sedikitpun untuk menghancurkan hubungan orang lain. aku hanya ingin mencari teman dan sahabat sebanyak mungkin disini. aku benar-benar tidak berniat untuk menghancurkan hubungan orang lain, apalagi merebut dia dari kekasihnya. kau tau bukan kalau aku bukan orang sejahat itu? merusak kebahagiaanmu saja aku tak berani apalagi merusak kebahagiaan orang lain.
saat ini aku masih percaya pada karma. karena Tuhan tidak pernah tidur. dan Tuhan itu Maha Adil. dan itu yang menjadi prinsipku untuk tidak merusak kebahagiaan orang lain. satu lagi, aku masih punya hati.
mungkin sekian surat kecilku ini. jangan pernah bosan mendengarkan kisahku melalui surat ini, karena hanya dengan ini aku berani mencurahkan apa yang aku rasakan dan apa yang terjadi dalam kehidupanku saat ini. aku selalu berharap kau bisa membalas surat kecilku ini, entah bagaimana cara kau membalasnya. namun aku sadar, kau menyadari suratku ini untukmu saja tidak bagaimana kau akan membalasnya? mungkin ini konyol, tapi tak apa sekedar bercerita denganmu saja sudah membuat hati ini senang meski tanpa balasan darimu.
selamat malam wahai tuan manis. semoga hanya mimpi indah yang kau dapatkan. dan kau masih bisa melihat dunia yang indah ini esok hari. doaku tak pernah terhenti sampai sini.



-NR-

Wednesday, November 4, 2015

surat kecil untuk mama papa

Ma pa…
Anakmu kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa
Aku memang tak ingat bagaimana engkau membesarkan aku
Aku juga tak ingat bagaimana cara engkau menghukumku disaat kesalahan ini menghampiriku
Namun satu yang aku ingat,
Cara engkau mendidik ku adalah cara terbaik untuk menjadikan aku wanita yg baik dan tegar
Cara engkau mendidik ku adalah cara untuk menjadikan aku wanita yg bertanggung jawab
Ma pa…
Terlalu banyak pengorbanan yang engkau berikan untuk ku
Untuk anak-anakmu,
Engkau tak pernah melihat dirimu sendiri
Engkau tak pernah memikirkan dirimu sendiri
Meski terkadang yang engkau pilihkan untuk aku terkesan egois
Namun aku tau, apa yang engkau pilihkan adalah pilihan terbaik untuk ku
Ma pa…
Anakmu kini telah tumbuh besar
Aku sudah mengerti apa yang terbaik dan apa yang terburuk untuk aku
Meski begitu aku berharap, engkau jangan pernah berhenti
Berhenti untuk mengingatkanku disaat aku salah
Dan jangan pernah lelah untuk selalu membimbingku menjadi lebih baik lagi
Ma pa…
Maafkan diri ini saat lidah ini tak sengaja melukaimu
Maafkan diri ini saat suara ini tak sengaja membuatmu terkejut
Maafkan mata ini saat pandangan ini tak sengaja melihatmu dengan sinis
Aku tak sadar sudah berapa kesalahan yang aku lakukan kepada engkau
Aku tak sadar sudah seberapa sering aku melukai engkau
Satu yang aku sadari,
Aku sudah terlalu sering melukai hati engkau
Ma pa…
Hari demi hari telah berlalu
Waktu berjalan terasa begitu cepat
Hingga kini aku menyadari engkau semakin menua
Ma pa…
Rambutmu tak lagi hitam
Warna putih kini telah menghias dikepalamu
Kulitmu tak lagi kencang
Garis-garis kecil kini telah terlihat diwajahmu
Tenagamu tak lagi kuat
Sedikit demi sedikit mulai terkikis dimakan usia
Dan aku kini takut…
Takut engkau semakin menua dan meninggalkan dunia indah ini
Ma pa…
Aku bersyukur Tuhan masih memberimu umur panjang
Dan aku selalu berdoa agar Tuhan semakin memberimu umur panjang
Hingga saatnya nanti, akan aku balas semua jasa dan pengorbananmu untuku
Dan hingga saatnya nanti, aku akan membuatmu bangga dan bahagia
Ma pa…
Sehatlah selalu
Demi aku,
Dan demi anak-anakmu
Ma pa…
Tunggulah aku sukses
Tunggulah aku pulang dan berkumpul kembali bersamamu
Tunggulah aku dengan berita yang membuat kalian bahagia
Ma pa…
Tak terasa hari ini umurmu bertambah kembali
Bertambah satu angka lagi diusiamu
Selamat ulang tahun untuk engkau wahai kedua orang tuaku yang sangat aku cintai
Semoga Tuhan mengangkat semua penyakitmu,
Memanjangkan umurmu,
Melapangkan dadamu,
Dan semoga Tuhan menjadikanmu orang tua yang kuat, sabar dan tangguh
Barakallah fii umrik ma pa
Aku merindukanmu


-Dari anakmu tersayang yang jauh dimata-

suratku masih untukmu (1)

Assalamu'alaikum wahai tuan berwajah manis...
bagaimana kabarmu? aku selalu berdoa semoga engkau baik-baik saja. bagaimana dengan kerjaanmu? aku berharap selalu diberi kelancaran. engkau tak perlu khawatir, aku disini baik-baik saja. hanya saja aku masih tak percaya bahwa kita sudah berbeda kota. jarak antara kita semakin panjang. tapi kau tak perlu khawatir, aku disini akan selalu belajar untuk semakin terbiasa hidup tanpa mengingatmu. hanya saja, aku tak percaya itu akan berhasil.
maaf jika aku terlalu percaya kau akan mengkhawatirkanku. aku hanya ingin menghibur hatiku dan membuat sebuah khayalan bahwa kau mengkhawatirkanku. aku yakin kau sudah tau kekonyolanku seperti apa jika aku berbicara tentangmu.
hei tuan manis,
aku dengar kau sedang dekat dengan dia, masalalumu. aku bahagia mendengarnya. kau percaya atau tidak aku tak pernah memaksa kau untuk percaya. karena kau pasti tau aku bukan tipe orang pemaksa, karena aku tidak seegois itu. dan kau pasti tau aku tak butuh orang untuk mempercayaiku. mungkin aku sering mengatakan, "bersama siapa kamu nanti, aku selalu merasa bahagia saat kau telah menemukan kebahagiaanmu". aku katakan sekali lagi bahwa 'terserah' kau akan mempercayaiku atau tidak. karena aku yakin dari lubuk hatimu, kau sudah mengetahui bahwa aku baik-baik saja, meski hati ini terluka.
hei tuan manis,
aku akan bahagia melihat kau bahagia. meski penyebabnya bukan aku, tapi aku akan tetap bahagia. dan aku tak akan pernah tega merusak kebahagiaan yang kau punya sekarang. aku tau kau pasti sudah tau itu. jadi, aku minta tolong jangan pedulikan perasaanku. anggap aku tak pernah ada. anggap rasaku untukmu tak pernah hadir. jika nanti akan ada yang membuatmu bingung kembali kepada siapa kau akan percaya, dan akan kebenaran yang ada. pejamkanlah matamu, rasakan dan renungkan kembali akan hal yang membuatmu bingung. percayakan saja pada hatimu, karena hati tak akan pernah salah menuntun. dan kemudian buka lebar matamu, pasang baik-baik pendengaranmu. lihatlah kenyataan yang ada tanpa engkau membawa perasaan. aku yakin kau tak akan pernah salah kembali. dan aku percaya kau tak akan mengulang kesalahan yang sama. andaikan itu terjadi (kembali), tentunya aku akan kecewa. namun... apa dayaku. aku tak bisa berbuat banyak bukan? karena semua itu kembali lagi kepadamu. tapi jika aku boleh jujur. aku sudah lelah selalu disalahkan dalam hubunganmu yang baru. taukah kau, aku tak ingin lagi terlibat dengan masalah yang menurutku tak penting, hanya membuang waktuku dengan percuma. aku ini memang masalalumu, tapi bukan berarti mereka menilai bahwa aku masalalu yang masih sangat bergantung padamu. dan aku hanya hidup dimasalalu mu, bukan dimasadepanmu atau sebagai perusak kebahagiaanmu.
hei tuan manis,
semenjak aku hidup di kota orang ini, ketakutanku akan kehilanganmu menjadi semakin besar. entah mengapa itu bisa terjadi. mungkin karena aku masih belum siap untuk benar-benar kehilanganmu. ya.. mungkin saja. tapi satu yang aku ketahui sekarang, meski kita sudah berbeda kota, jarak terlalu jauh memisahkan kita hingga semakin sulit untuk kita bertatap muka, namun hati ini masih tetap untuk orang yang sama. otak ini masih memikirkan orang yang sama. orang yang lima tahun silam sempat aku miliki. orang yang lima tahun silam sangat aku sayangi dan sangat berharga untukku. yaa.... orang itu adalah kamu, tuan berwajah manis. maaf jika aku sampai saat ini belum bisa untuk berhenti menyayangi dan memikirkanmu. maaf jika sampai saat ini aku masih merindukanmu. maaf jika sampai saat ini, aku masih mengingat dengan baik ketika kita pernah bersama dahulu kala. sebelum perpisahan itu terjadi. dan maaf jangan kau paksa aku untuk berhenti melakukan kebiasaanku. karena hanya dengan ini aku bisa mengenangmu. dan jangan paksa aku pula untuk berhenti mendoakanmu dalam diam. karena hanya dengan cara itulah aku bisa memelukmu dalam doa.
hei tuan manis,
dulu aku sangat ingin sekali pergi meninggalkan kota itu. kota yang penuh dengan kenangan bersamamu. aku sangat ingin keluar dari kota itu, karena hidup terus didalamnya aku semakin sulit untuk membuang jauh ingatan aku saat bersamamu. namun sekarang, aku sadar bahwa itu semua hanyalah hasrat belaka. hasrat yang hanya menggebu-gebu pada saat aku ingin berusaha melupakanmu. karena nyatanya pergi dari kota itu tidak membuatku berhasil untuk berhenti menyayangi dan memikirkanmu. dan saat ini aku merindukan semua itu. aku ingin kembali dengan sejuta kenangan yang ada. karena sekarang aku paham, dimana pun kita berada yang namanya kenangan itu akan selalu mengintai hidup kita. namun nasi sudah menjadi bubur. aku tak bisa berbuat banyak. aku hanya bisa mengambil hikmahnya, bahwa ini semua adalah untuk kebaikanku, untuk bisa membuat orang tuaku bangga kepadaku. yaa itu hikmah yang bisa aku ambil. masalah melupakanmu aku yakin suatu saat nanti akan ada masanya dimana semua perasaanku kepadamu akan menghilang dengan sendirinya. beri aku waktu kembali karena hanya itu yang aku butuhkan saat ini. Tuhan memang selalu pintar membolak-balikan hati seseorang, maka dari itu beri aku waktu untuk benar-benar tidak goyah saat Tuhan membuat perasaan ini datang kembali.
hei tuan manis,
jaga kesehatanmu. tetap menjadi seseorang yang sangat disukai banyak orang. rubahlah sikapmu yang membuat hati seseorang sakit. aku tau menyakiti seseorang bukan kehendakmu, tapi setidaknya kau bisa menjaga sikapmu agar tidak ada yang sakit hati lagi padamu. kau sudah dewasa bukan? tentunya kau akan tau apa yang terbaik dan apa yang tidak boleh kau lakukan.
mungkin hanya ini yang dapat aku tulis disurat kecil ini. aku akan kembali menulis surat kecil ini untukmu. karena suratku masih untukmu. jangan pernah memaksa aku untuk berhenti menulis surat, karena hanya dengan ini aku dapat meluapkan apa yang aku rasakan.

sampai berjumpa dikemudian hari... aku akan selalu merindukanmu.

Monday, August 31, 2015

Ini Tak Adil Tuhan!

Ini aneh rasanya. Aku tak mengerti dengan apa yang sekarang aku rasakan. Semua sungguh membingungkan. Dulu aku berharap agar aku bisa jauh darinya. Pergi meninggalkannya dan berhijrah ke tempat yang lebih baik. Dulu aku berharap untuk tidak memikirkannya kembali. Membuang semua pikiran tentangnya yang ada di otak ini. Dulu aku berharap, aku ingin menjauh darinya dan tidak merindukannya. Namun sekarang… Saat aku sudah bisa untuk meninggalkannya dan berhijrah ketempat yang jauh darinya. Pikiran ini masih tertuju padanya. Bahkan diri ini, masih sangat merindukannya.
Aku tau ini yang aku mau dulu. Meninggalkan kota lama dan pergi berhijrah ke kota baru. Meninggalkan dia dan tidak mengabarinya. Namun entah mengapa,aku malah tersiksa dengan keadaan ini. Aku tau mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi untuk bisa melakukan semua itu. Berhenti untuk tidak MERINDUKANNYA dan berhenti untuk tidak MEMIKIRKANNYA. Meski aku kadang bertanya pada diriku sendiri. Sampai kapan aku harus seperti? Berada dalam baying-bayang semu. Seolah aku berharap ada cahaya terang yang akan masuk dan memberikan perubahan didalam hidupku. Sampai kapan aku harus merindukan seseorang yang sudah seharusnya dari dulu aku lupakan. Apa kurang cukup tiga tahun sudah aku hidup sendiri dan berusaha untuk melupakannya. Apa kurang cukup tiga tahun sudah aku berusaha untuk melupakan perasaan ini. Apa kurang cukup waktu tiga tahun aku perlahan menghapus memori ingatan tentang kenanganku bersamanya. Aku tau memang kenangan ada bukan untuk dilupakan. Namun setidaknya, kenangan itu tidak menghantui dan mengganggu kehidupanku.
Tuhan… Mengapa harus seperti ini? Jika dekat dengannya aku tersiksa. Mengapa saat jauh dengannya aku lebih tersiksa? Mengapa semuanya begitu sama? Mengapa semuanya tak ada yang berbeda? Yang aku ingin, ada perbedaan diantara kedua itu. Yang aku ingin, saat aku jauh dengannya sekarang aku bisa sedikit mengurangi perasaanku dan tidak merindukannya. Tapi mengapa seperti ini jadinya?
Dia yang memulai. Aku yang mengakhiri. Namun mengapa dia yang begitu mudahnya meninggalkan semua ini dan melupakannya? Mengapa hanya aku yang selalu tersiksa dengan keadaan ini. Mengapa semua ini tak adil Tuhan mengapa?
Aku benci saat aku harus mengakui aku masih menyayanginya. Tapi aku juga benci saat aku harus mengelak bahwa aku masih menyayanginya. Aku benci Tuhan! Aku benci!
Aku hanya ingin bahagia. Tertawa dengan lepas bersama temanku seperti sebelum aku mengenalnya. Aku ingin merasakan jatuh cinta kembali tanpa harus ada kebohongan dan pelarian agar aku dapat melupakannya. Aku ingin itu Tuhan! Aku ingin itu!


Untukmu yang Tak Bisa Ku Sentuh...

Ku tulis ini sebagai ungkapan dari keresahanmu saat ini. Aku tahu alasan dibalik sikap dinginmu. Menciptakan jarak, dan mengorbankan rasa...